Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ustadz dan Netizen, Tanda Fenomena Apa?



Selasa , 10 Desember 2024



Telah dibaca :  862

Saya tidak akan membahas secara mendetail persoalan  yang menimpa penceramah kondang Miftah Maulana Habiburrohman yang sering dipanggil Gus Miftah. Saya hanya ingin sedikit mengingatkan kembali memori para pembaca pada beberapa tahun ke belakang, Persoalan serupa (tapi tidak sama) juga pernah menimpa para pendakwah sebelumnya seperti ustadz AA Gym, Yusuf Mansur, Sholeh Mahmoed (Solmed), dan lain-lain.  Jadi korban amukan netizen bukan hanya dia. Sebelumnya sudah cukup banyak ustadz yang mengalami persoalan serupa. Bahkan jauh lebih berat lagi sanksi sosialnya. Hanya saja, Gus Miftah bukan sebatas penceramah. Kebetulan dia adalah staff khusus presiden. Sedikit banyak ada nuansa politik. Itu pasti. 

Anda pasti mengenal Abdullah Gymnastiar yang sering dipanggil Aa Gym. Sebuah panggilan keakraban tanpa jarak. Ia tidak mau dipanggil sebutan yang terlihat sakral seperti ustadz, buya, kyai atau gus. Sebuah fenomena baru yang kemudian juga melahirkan ustadz gaul seperti ustadz jufri al-buchoi atau uje. Majalah Time menyebut sebagai holy man (Tedjasukmana, 2002). Entah apa artinya. Mungkin manusia suci. Majalah yang pusat kantornya di 225 Liberty St, New York, New York telah mengulas panjang lebar metode dakwah nya. Menurut majalah tersebut, penyampaian dakwah AA Gym santun,lembut,dan susunan kata-kata nya sangat efektif menghipnotis jutaan manusia untuk tetap semangat mendengarkan tausiah nya. Materinya berkaitan kehidupan sehari-hari dan pentingnya pembersihan hati yang dikemas dalam wadah “Manajemen Qalbu atau MQ”. Pada sesi akhir pengajian, AA Gym berdoa. Sangat menggugah jiwa. Fenomena menangis ia dan  para jamaah sangat menambah  kesakralan pengajian tersebut. Mereka benar benar merasakan gairah ibadah dan semangat menghadapi  cobaan hidup kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tidak baik baik saja.

AA Gym adalah contoh seorang pendakwah milyader dari kalangan ustadz. Seluruh bagian tubuhnya menjadi marketing. Wajah nya tampan, senyum lembut, bicara santun, jenggot tipis tertata rapi, berkacamata dan kepala dihiasi sorban berwarna merah baris baris warnah putih. Foto-fotonya menghiasi rumah rumah, sekolah,bahkan juga perusahaan perusahaan. Foto nya mengalahkan foto presiden dan wakil presiden di masyarakat. Foto nya hanya kalah di perkantoran pemerintahan. Bahkan bisa jadi mengalahkan foto Ayatollah Khoemaini yang pernah booming di Indonesia pada tahun 1989.

AA Gym menerbitkan buku. Laris manis. Mulai dari soal keluarga, ibadah sampai bisnis. Ia pernah menulis kiat sukses berbisnis bersama Hermawan Kartajaya seorang pakar pemasaran yang mendapatkan penghargaan 50 gurus who have shaped the future of marketing dari the chartered institute of marketing yang berkedudukan di inggris (https://id.wikipedia.org, n.d.). AA Gym bukan sebatas pendakwah, tetapi juga pebisnis handal. Ia mempunyai jaringan bisnis Radio, TV lokal menyebar di hampir seluruh nusantara. Jutaan kaset ceramah nya laris manis. Jam terbang ceramah sangat padat. Jam 10.00 di Batam, jam 12.30 di Jakarta, jam 14.00 di Medan. Tidak bisa dengan pesawat komersial biasa. Pengundang harus menyiapkan Helikopter agar bisa tepat waktu. Ia benar-benar menerapkan disiplin tinggi dalam mengelola waktu.

Apa yang terjadi?

AA Gym dan Teteh  Ninih pasangan harmonis. Keduanya  menjadi idola kaum ibu ibu muslim Indonesia pada tahun 2000-an. Ketika muncul kasus perceraian nya ke publik (https://www.cnnindonesia.com, 2021), para jamaah kaget. Bertambah kaget lagi, karena AA Gym menikah lagi dengan seorang janda yang lebih muda dari istri pertama. peristiwa ini membuat  ibu-ibu berbalik  membenci 180 derajat. Berbagai tempat majelis ta'lim, LSM dan perlindungan kaum perempuan menghujat habis-habisan satu keputusan AA Gym yaitu Poligami. Para netizen pun membongkar cemarah lama yang sebenarnya dulu tidak bermasalah tentang ucapan nya "istrinya telah turun mesin". Itu gurauan yang dulu diterima apa adanya sebagai bentuk kehangatan antara pendakwah dan jamaah. Namun saat mereka benci, kalimat tersebut justru menjadi senjata tajam untuk menghujat AA Gym sebagai pendakwah yang merendahkan kaum perempuan.

Apa salah AA Gym? bukankah poligami dibenarkan dalam Islam. Kenapa masyarakat membenci nya. kenapa masyarakat tiba-tiba benci terhadap gurauan ceramahnya. Kenapa sebagian jamaah terlihat jijik mendengarkan ustadz yang suka melantunkan lagu "Jagalah Hati", seolah-olah mereka mengarahkan kesalahan kepadanya?. 

Masyarakat menghukum nya. Undangan pengajian mulai kurang, TV,Radio lokal mulai banyak yang tutup,bisnis bisnis lainpun gulung tikar. Aura kedahsyatan kalimat nasehat tidak se-magic pada masa dulu.

Setelah itu muncul ustadz rich man lainnya,yaitu Yusuf Mansur. Dai muda hapal Al-quran. Sekitar mata nya terlihat menghitam dan cekung menunjukan ia rajin bangun malam. Kehebatanya dalam bisnis, ia tahu cara berbisnis dengan pendekatan tafsir tafsir al-quran versi nya. Jika berbicara tentang amal sholeh,maka ustadz ini jago nya. Media Cetak,Elektronik, TV, Radio, majelis ta'lim, perkantoran, perusahaan, Lembaga Pendidikan, masjid masjid senantiasa menghadirkan nya untuk menerangkan balasan kebaikan yang nyata terjadi saat beramal sholeh. Doktrin sangat menghinoptis. Rangkaian kalimat dengan dikuatkan dalil-dalil naqli dan aqli benar benar membuat Yusuf Mansur kebanjiran rezeki.

Saat ia bicara amal sholeh, saat itu juga para jamaah berbondong bondong memberikan sebagian rezeki yang mungkin sangat disayangi seperti emas, kendaraan dan uang. Ia dalam menggait jemaah nya sering menggunakan kata kunci" harta terbaik" untuk mendapatkan balasan terbaik dari Alloh SWT. Tentu sikap para jamaah yang sangat terinspirasi tidak serta merta mendapatkan dukungan dari pasangannya. Tapi itulah kehebatannya ustadz yang sangat medok logat betawinya.

Apa yang terjadi kemudian?

Akhirnya Yusuf Mansur pun kena pengadilan massa. Ia dirujak oleh netizen. Kasus penggelapan dana investor dan wanprestasi dana patungan Jemaah telah menjadi pembuka beragam kasus lainnya (https://www.cnbcindonesia.com, 2023). Akhirnya ustadz tersebut tenggelam dalam perjalanan sejarah karir sebagai ustadz papan atas.

Saya kira sudah cukup tiga contoh tersebut di atas. masih banyak kasus yang menimpa ustadz dari beragam profesi yang menempel pada mereka.

Fenomena Dunia Maya

Dunia maya benar-benar telah mengubah pakem nilai-nilai yang telah mentradisi sebagai bagian nilai-nilai tradisional telah mengarah kepada nilai-nilai dunia maya yang mengarah kepada nilai-nilai “kepalsuan”, “fatamorgana” dan terlalu cepat menyimpulkan. Ia nyata tapi ilusi. Kebaikan dan keburukan yang terlihat kadang kontraproduktif. Kita bisa mengatakan baik pada sisi tertentu dengan cepat, tapi pada sisi tertentu kita pun bisa menganggap buruk kepada seseorang tokoh dan ia pantas dihujat. Netizen bisa mengangkat derajat manusia dalam hitungan detik, dan menghancurkannya juga dalam hitungan detik. Mereka mengetahui, tetapi tidak mengerti. Mengetahui bersifat umum, mengerti bersifat tafsili dan terperinci. Tapi dengan sebatas pengetahuan umum terkadang sudah merasa lebih mengenal secara juz iyah. Mengetahui tanpa guru. Itulah fenomena sekarang.

Nilai-nilai tradisional yang telah mentradisi telah melahirkan kematangan berfikir dan bersikap. Setiap orang tidak mudah untuk menjatuhkan sanksi sosial kepada seseorang karena perbuatan yang dianggap “tidak” atau “kurang baik”. Ada pertimbangan-pertimbangan lain yang menyebabkan masyarakat mampu menjaga diri baik lisan maupun perbuatannya dari ucapan atau perbuatan yang tidak baik. Hubungan tersebut adalah hubungan yang dibangun berdasarkan kebersamaan di tengah-tengah masyarakat. Mereka mengetahui secara persis kebaikan-kebaikan dan hal-hal yang kurang baik. Sehingga ada pertimbangan manfaat dan mafsadat ketika memutuskan suatu ucapan atau perbuatan yang dialamatkan kepada seorang tokoh agama.

Berbeda dengan dunia maya. Antara pendakwah dan netizen adalah sama-sama orang asing. Mereka sama-sama mengenal secara utuh. Mereka diperkenalkan oleh dunia maya yang informasi hanya sebatas potongan informasi. Namun ironisnya, yang sepotong tersebut justru sering menjadi pembenar untuk menghujat dan melakukan pengadilan massa kepada seorang tokoh agama atau politikus. Netizen benar-benar mempunyai otoritas kebenaran dan keburukan sesuai dengan keinginan tanpa perlu mempertimbangkan lebih mendalam informasi secara utuh. Toh Undang-Undang ITE kenyataannya masih belum sepenuhnya berjalan. Masih bebas. Apalagi kalau sudah ditunggangi kepentingan politik, semakin bias status hukum nya. Caci maki masih berkeliaran di media sosial.

Dunia maya bisa menjadikan orang kaya mendadak. Anda kadang berfikir, apakah hanya seorang yang harus disantuni ratusan juta, sedangkan masih ada puluhan ribu, bahkan ratusan ribu orang miskin yang perlu disantuni. Tapi dunia industry pada era digital tidak seperti itu. Prinsip bisnis tetap jalan. Prinsip berita berlaku. Ketika ada suatu kasus dan itu viral, maka orang-orang pun sibuk numpang untuk mendapatkan berkahnya. Apalah artinya duit 100 juta, jika dibandingkan keuntungannya dari followernya mencapai satu milyar satu bulannya. Tidak peduli, siapa sunhaji-sunhaji lainnya. tidak peduli dengan penjual es, bubur ayam, dan orang-orang miskin di pinggir rel kereta api. Buat apa mikir mereka. Lagian mereka tidak mendatangkan keuntungan sama sekali buat bisnis kita.

Jadi kita sebenarnya telah terjebak oleh aturan liberal dalam kehidupan sosial. Kepedulian sosial yang kita lihat saat sekarang ini adalah kepedulian yang menyakitkan. Semua orang melihat kebaikan seseorang, tapi pada sisi lain ribuan mata orang-orang yang ekonominya rendah menatap penuh kesedihan dan pengharapan. Ternyata, hubungan liberalisasi dalam kehidupan sosial saat sekarang ini telah ikut menghancurkan simbol-simbol agama tanpa disadari lebih mendalam. Kita begitu cepat mentokohkan seseorang, juga begitu cepat menghujatnya. Prinsip tersebut tentu bukan datang dari ajaran Islam yang sangat menjaga martabat manusia.Generasi Islam sedang digiring cara hidup tanpa Islami, sedikit-sedikit menghujat, sedikit-sedikit memuji. Bisa kita lihat, sesama muslim saling menghujat. Sangat menyedihkan.

Ketika ada seorang sahabat melakukan maksiat dan dihukum oleh nabi, sebagian sahabat nabi melihat sang terdakwa dengan pandangan sinis dan mengungkapkan kata-kata mengejek. Nabi pun mendengarnya marah. Kata Nabi:

“Anda jangan menghina orang yang telah melakukan dosa. Kini ia telah bertaubat dan dosa nya diampuni, tapi kalian sendiri sedang menabung dosa akibat diri kalian merasa lebih baik darinya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

ISKANDAR,S.Ag

Suatu pelajaran yang bisa di gunakan untuk membuat kita lebih waspada dalam mengarungi dunia ini..

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872