
Saya tidak akan membahas secara mendetail persoalan yang menimpa penceramah kondang Miftah Maulana Habiburrohman yang sering dipanggil Gus Miftah. Saya hanya ingin sedikit mengingatkan kembali memori para pembaca pada beberapa tahun ke belakang, Persoalan serupa (tapi tidak sama) juga pernah menimpa para pendakwah sebelumnya seperti ustadz AA Gym, Yusuf Mansur, Sholeh Mahmoed (Solmed), dan lain-lain. Jadi korban amukan netizen bukan hanya dia. Sebelumnya sudah cukup banyak ustadz yang mengalami persoalan serupa. Bahkan jauh lebih berat lagi sanksi sosialnya. Hanya saja, Gus Miftah bukan sebatas penceramah. Kebetulan dia adalah staff khusus presiden. Sedikit banyak ada nuansa politik. Itu pasti.
Anda pasti mengenal Abdullah Gymnastiar yang sering
dipanggil Aa Gym. Sebuah panggilan keakraban tanpa jarak. Ia tidak mau dipanggil sebutan yang terlihat sakral seperti ustadz, buya, kyai atau gus. Sebuah fenomena baru yang kemudian juga melahirkan ustadz gaul seperti ustadz jufri al-buchoi atau uje. Majalah Time menyebut sebagai
holy man
AA Gym adalah contoh seorang pendakwah
milyader dari kalangan ustadz. Seluruh bagian tubuhnya menjadi marketing. Wajah
nya tampan, senyum lembut, bicara santun, jenggot tipis tertata rapi, berkacamata dan
kepala dihiasi sorban berwarna merah baris baris warnah putih. Foto-fotonya
menghiasi rumah rumah, sekolah,bahkan juga perusahaan perusahaan. Foto nya
mengalahkan foto presiden dan wakil presiden di masyarakat. Foto nya hanya
kalah di perkantoran pemerintahan. Bahkan bisa jadi mengalahkan foto Ayatollah Khoemaini yang pernah booming di Indonesia pada tahun 1989.
AA Gym menerbitkan buku. Laris manis. Mulai
dari soal keluarga, ibadah sampai bisnis. Ia pernah menulis kiat sukses
berbisnis bersama Hermawan Kartajaya seorang pakar pemasaran yang mendapatkan
penghargaan 50 gurus who have shaped the future of marketing dari the chartered
institute of marketing yang berkedudukan di inggris
Apa yang terjadi?
AA Gym dan Teteh Ninih pasangan harmonis. Keduanya menjadi idola kaum
ibu ibu muslim Indonesia pada tahun 2000-an. Ketika muncul kasus perceraian nya
ke publik
Apa salah AA Gym? bukankah poligami dibenarkan dalam Islam. Kenapa masyarakat membenci nya. kenapa masyarakat tiba-tiba benci terhadap gurauan ceramahnya. Kenapa sebagian jamaah terlihat jijik mendengarkan ustadz yang suka melantunkan lagu "Jagalah Hati", seolah-olah mereka mengarahkan kesalahan kepadanya?.
Masyarakat menghukum nya. Undangan
pengajian mulai kurang, TV,Radio lokal mulai banyak yang tutup,bisnis bisnis lainpun gulung tikar. Aura kedahsyatan kalimat nasehat tidak se-magic pada masa
dulu.
Setelah itu muncul ustadz rich man
lainnya,yaitu Yusuf Mansur. Dai muda hapal Al-quran. Sekitar mata nya terlihat
menghitam dan cekung menunjukan ia rajin bangun malam. Kehebatanya dalam
bisnis, ia tahu cara berbisnis dengan pendekatan tafsir tafsir al-quran
versi nya. Jika berbicara tentang amal sholeh,maka ustadz ini jago nya. Media Cetak,Elektronik,
TV, Radio, majelis ta'lim, perkantoran, perusahaan, Lembaga Pendidikan, masjid
masjid senantiasa menghadirkan nya untuk menerangkan balasan kebaikan yang nyata
terjadi saat beramal sholeh. Doktrin sangat menghinoptis. Rangkaian kalimat dengan
dikuatkan dalil-dalil naqli dan aqli benar benar membuat Yusuf Mansur kebanjiran rezeki.
Saat ia bicara amal sholeh, saat itu juga para jamaah berbondong bondong memberikan sebagian rezeki yang mungkin sangat disayangi seperti emas, kendaraan dan uang. Ia dalam menggait jemaah nya sering menggunakan kata kunci" harta terbaik" untuk mendapatkan balasan terbaik dari Alloh SWT. Tentu sikap para jamaah yang sangat terinspirasi tidak serta merta mendapatkan dukungan dari pasangannya. Tapi itulah kehebatannya ustadz yang sangat medok logat betawinya.
Apa yang terjadi kemudian?
Akhirnya Yusuf Mansur pun kena pengadilan
massa. Ia dirujak oleh netizen. Kasus penggelapan dana investor dan wanprestasi
dana patungan Jemaah telah menjadi pembuka beragam kasus lainnya
Saya kira sudah cukup tiga contoh tersebut di atas. masih banyak kasus yang menimpa ustadz dari beragam profesi yang menempel pada mereka.
Fenomena Dunia Maya
Dunia maya benar-benar telah mengubah pakem
nilai-nilai yang telah mentradisi sebagai bagian nilai-nilai tradisional telah
mengarah kepada nilai-nilai dunia maya yang mengarah kepada nilai-nilai “kepalsuan”,
“fatamorgana” dan terlalu cepat menyimpulkan. Ia nyata tapi ilusi. Kebaikan dan
keburukan yang terlihat kadang kontraproduktif. Kita bisa mengatakan baik pada
sisi tertentu dengan cepat, tapi pada sisi tertentu kita pun bisa menganggap
buruk kepada seseorang tokoh dan ia pantas dihujat. Netizen bisa mengangkat
derajat manusia dalam hitungan detik, dan menghancurkannya juga dalam hitungan
detik. Mereka mengetahui, tetapi tidak mengerti. Mengetahui bersifat umum,
mengerti bersifat tafsili dan terperinci. Tapi dengan sebatas pengetahuan umum
terkadang sudah merasa lebih mengenal secara juz iyah. Mengetahui tanpa guru. Itulah
fenomena sekarang.
Nilai-nilai tradisional yang telah
mentradisi telah melahirkan kematangan berfikir dan bersikap. Setiap orang
tidak mudah untuk menjatuhkan sanksi sosial kepada seseorang karena perbuatan
yang dianggap “tidak” atau “kurang baik”. Ada pertimbangan-pertimbangan lain
yang menyebabkan masyarakat mampu menjaga diri baik lisan maupun perbuatannya
dari ucapan atau perbuatan yang tidak baik. Hubungan tersebut adalah hubungan
yang dibangun berdasarkan kebersamaan di tengah-tengah masyarakat. Mereka mengetahui
secara persis kebaikan-kebaikan dan hal-hal yang kurang baik. Sehingga ada
pertimbangan manfaat dan mafsadat ketika memutuskan suatu ucapan atau perbuatan
yang dialamatkan kepada seorang tokoh agama.
Berbeda dengan dunia maya. Antara pendakwah
dan netizen adalah sama-sama orang asing. Mereka sama-sama mengenal secara
utuh. Mereka diperkenalkan oleh dunia maya yang informasi hanya sebatas
potongan informasi. Namun ironisnya, yang sepotong tersebut justru sering menjadi
pembenar untuk menghujat dan melakukan pengadilan massa kepada seorang tokoh
agama atau politikus. Netizen benar-benar mempunyai otoritas kebenaran dan
keburukan sesuai dengan keinginan tanpa perlu mempertimbangkan lebih mendalam informasi
secara utuh. Toh Undang-Undang ITE kenyataannya masih belum sepenuhnya
berjalan. Masih bebas. Apalagi kalau sudah ditunggangi kepentingan politik,
semakin bias status hukum nya. Caci maki masih berkeliaran di media sosial.
Dunia maya bisa menjadikan orang kaya
mendadak. Anda kadang berfikir, apakah hanya seorang yang harus disantuni ratusan
juta, sedangkan masih ada puluhan ribu, bahkan ratusan ribu orang miskin yang
perlu disantuni. Tapi dunia industry pada era digital tidak seperti itu. Prinsip
bisnis tetap jalan. Prinsip berita berlaku. Ketika ada suatu kasus dan itu
viral, maka orang-orang pun sibuk numpang untuk mendapatkan berkahnya. Apalah artinya
duit 100 juta, jika dibandingkan keuntungannya dari followernya mencapai satu
milyar satu bulannya. Tidak peduli, siapa sunhaji-sunhaji lainnya. tidak peduli
dengan penjual es, bubur ayam, dan orang-orang miskin di pinggir rel kereta
api. Buat apa mikir mereka. Lagian mereka tidak mendatangkan keuntungan sama
sekali buat bisnis kita.
Jadi kita sebenarnya telah terjebak oleh aturan liberal dalam kehidupan sosial. Kepedulian sosial yang kita lihat saat sekarang ini adalah kepedulian yang menyakitkan. Semua orang melihat kebaikan seseorang, tapi pada sisi lain ribuan mata orang-orang yang ekonominya rendah menatap penuh kesedihan dan pengharapan. Ternyata, hubungan liberalisasi dalam kehidupan sosial saat sekarang ini telah ikut menghancurkan simbol-simbol agama tanpa disadari lebih mendalam. Kita begitu cepat mentokohkan seseorang, juga begitu cepat menghujatnya. Prinsip tersebut tentu bukan datang dari ajaran Islam yang sangat menjaga martabat manusia.Generasi Islam sedang digiring cara hidup tanpa Islami, sedikit-sedikit menghujat, sedikit-sedikit memuji. Bisa kita lihat, sesama muslim saling menghujat. Sangat menyedihkan.
Ketika ada seorang sahabat melakukan
maksiat dan dihukum oleh nabi, sebagian sahabat nabi melihat sang terdakwa
dengan pandangan sinis dan mengungkapkan kata-kata mengejek. Nabi pun
mendengarnya marah. Kata Nabi:
“Anda jangan menghina orang yang telah melakukan
dosa. Kini ia telah bertaubat dan dosa nya diampuni, tapi kalian sendiri sedang
menabung dosa akibat diri kalian merasa lebih baik darinya.
Penulis : Imam Ghozali
ISKANDAR,S.Ag
Suatu pelajaran yang bisa di gunakan untuk membuat kita lebih waspada dalam mengarungi dunia ini..
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872