
Pertumbuhan media sosial dan media
online telah melahirkan individu atau kelompok manusia yang tiba-tiba terkenal
dengan waktu yang relatif sangat cepat. Ia tiba-tiba bisa menjadi selebritis,
dan kemudian hari ia menjadi idola para penggemar nya.
Selebritis sendiri diidentikan
dengan orang yang terkenal karena terlalu dekat dengan pemberitaan atau pers.
Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan orang yang terkenal atau masyhur.
Karena pada masa lalu, kelompok manusia yang sering masuk pada pemberitaan pada
dunia hiburan seperti penyanyi dan artis, maka kelompok ini yang kemudian
dinobatkan manusia yang paling masyhur di dunia.
Bicara selebritis berarti berbicara
tentang keartisan. Namun dalam perkembangannya, para artis tidak serta merta
hanya bergelut pada dunia kesenian semata. Adanya perubahan zaman dan situasi
ekonomi, mereka mulai bergeser dari pakem sebagai seorang artis dengan
beragam pekerjaan yang kadang tidak ada hubungan sama sekali dengan duniannya.
Seperti ada artis tiba-tiba berubah menjadi khusu’ ibadah, lalu menjadi penjual
bakso dan batagor. Ada juga artis menjadi petani. Fenomena baru fase kehidupan
mereka bahwa persoalan teknis untuk tetap bertahan hidup di tengah gempuran
persaingan yang sangat ketat. Bagi artis yang tidak mampu, malah kadang harus
berteman dengan hal-hal yang sangat tidak baik, misalnya menjadi pengedar
narkoba atau menjadi konsumsi aktif narkoba. Namun yang lebih mencuat di
permukaan, artis banyak yang jadi politisi. Mungkin bagi mereka, antara artis
dan politisi masih serumpun sebagai bagian dari seni kehidupan yang asyik dan
menantang serta membutuhkan mental yang kuat untuk bisa menampilkan peran
sebaik mungkin.
Pada masa dulu, para selebritis
hanya sebatas mempunyai tanggungjawab kepada dunia hiburan. Tidak lebih dari
itu. Ia tidak mau mengambil kapling orang lain. Mereka benar-benar berkarir
secara totalitas pada dunia seni. Dari sini kemudian hari penulis mengenal para
artis legendaris sepanjang zaman. Ada penyanyi yang bisa berbicara dengan
binatang seperti Obbie Messakh dengan lagu “cinta kasih di sekolah”.
Penyanyi yang sangat istikomah seperti Dian Piesesha,”aku masih seperti yang
dulu”. Penyanyi sepanjang hidup selalu sakit gigi, Megi Z dengan judul lagu”Sakit
Gigi”. Penyanyi yang sampai hari ini tetap muda meskipun sudah berumur 77
tahun, yaitu Roma Irama dengan judul lagu, “darah muda”. Ada juga penyanyi
meninggal pada usia masih muda dan telah menginspirasi munculnya artis-artis
muda yaitu Nike Ardila dengan lagunya,”bintang kehidupan”. Masih banyak lagi,
artis legendaris masa lalu yang namanya tetap dikenang sampai saat sekarang
ini.
Ketika kran era reformasi terbuka
pada tahun 1998, isu kesetaran hak-hak politik terjadi bagi seluruh warga
negara
Selain artis, para ulama yang
menjadi da’i kondang juga telah menguasai pikiran dan hati masyarakat. Mereka
adalah para ulama yang melalui proses sangat panjang dalam menuntut ilmu di
berbagai pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan agama lainnya. Pada masa masa Soeharto antara lain; K.H. Sukron
Makmun, K.H. Qasim Nurseha, K.H. Cholil Bisri dan lain-lain. Ulama yang sangat
keras mengkritik orde baru adalah kyai sukron makmun. Sedangkan ulama yang
lembut mengkritiknya melalui ceramah dan tulisan yang selalu terbit di media
massa yaitu Cholil Bisri. Selain itu, ada ulama yang selalu mengkritik melalui
lisan dan tulisan yang lebih luas dari Cholil Bisri yaitu Abdurrahman Wahid
(Gus Dur). Lucunya, meskipun menjadi musuh bebuyutan orde baru, dan dua atau
tiga kali akan dihabisi nyawanya oleh rezim orde baru, Gus Dur tetap bersahabat
baik dengan Soeharto dan keluarganya.
Bahkan bu tutut adalah keluarga soeharto yang paling sering mengikuti safari Gus
Dur ke berbagai pesantren di jawa dan luar Jawa. Gus Dur sebagai representasi
politik model NU mengatakan, bahwa kemarahan Soeharto kepadanya karena
persoalan politik, bukan pada persoalan individu. Artinya jika tidak ada
persoalan politik, soeharta adalah orang yang sangat baik dan mempunyai
sumbangsih yang sangat besar terhadap bangsa dan Negara Indonesia. itu
sebabnya, Gus Dur satu-satunya tokoh NU yang menyuarakan kepada bangsa
Indonesia agar memaafkan kesalahan soeharto. Usulannya mendapat kritikan dan
hujatan dari para tokoh politik dan pendukungnya. Tapi, politik kemanusiaan Gus
Dur telah mengilhami jiwanya yang agung, bahwa tidak ada manusia yang selalu
benar dan tidak ada manusia yang terus-menerus salah. Pasti ada sisi kebaikan
dari setiap pemimpin. Itu sebabnya, salah satu usaha dalam rangka rekonsiliasi
politik agar adem, salah satunya memaafkan kesalahan dan membuka lembaran baru
bagi perjalanan bangsa Indonesia
Ulama NU yang sangat terkenal pada
masa orde baru adalah K.H. Zainudin Mz. Ia sering dikenal dengan sebutan “dai
sejuta umat”. Ia sering mengkritik orde baru, tapi secara simbolik.
Sehingga ia nyaris tidak pernah mengalami penderitaan sebagaimana yang dialami
oleh sebagian dari ulama-ulama saat itu.
Era reformasi pun muncul para ustadz
dan muncul juga gelar-gelar kebesarannya. Mereka masuk pada panggung dakwah.
Ustadz yang sangat fenomenal adalah K.H. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Saat
masa jayanya, TV, radio, media sosial dan media masa berisi ceramah-ceramahnya
yang terkenal sejuk dengan keseluruhan tema dikemas dengan “manajemen qalbu”.
Jika Zainudin Mz disebut dengan da’I sejuta umat, maka majalan times
menyebutnya “holy man”. Pemilik pesantren darut tauhid ini mendapatkan
kritik keras dari para jamaah setelah melakukan poligami. Pasca poligami,
secara pelan-pelan AA Gym pun mulai redup, lalu membatasi kegiatan keagamaan
dan bisnisnya. Para jamaah pun menemukan lagi idola-idola ustadz baru yang
dibesarkan oleh media massa, media TV, dan media online. Sangat banyak, muncul
dan silih berganti redup. Begitu seterusnya. Media benar-benar mempunyai
kekuatan yang sangat dahsyat untuk menjadikan orang-orang yang dulunya biasa
saja menjadi luarbiasa, begitu sebaliknya.
Dari paparan di atas, kebesaran
seseorang memang tidak lepas dari pengaruh informan yang saat sekarang ada
media massa dan media online serta media sosial. Dulu para ulama semakin
terkenal di tengah-tengah masyarakat disebabkan karena para santri atau
murid-muridnya merasakan kedalaman ilmu nya dan kemudian mereka menyebarkan dan
meneruskan ilmu-ilmu para ulama dengan mendirikan majelis ta’lim dan pondok
pesantren. Sehingga ketokohan dan ke’aliman dan seluruh kepribadiaannya telah
dikonsumsi secara positif oleh para santrinya yang kemudian hari mendirikan
lembaga-lembaga pesantren di seluruh pelosok nusantara. Itu sebabnya, para
ulama namanya tetap kekal akibat dari sanad keilmuan sangat terjaga dengan baik
antara guru dan santri-santri nya yang telah terus menyebarkan ilmunya. Hal
sama seperti kitab-kitab klasik yang terus dikaji hingga keilmuan kitab
tersebut terjaga sampai saat sekarang ini. Entah apa jadinya, jika kitab-kitab
besar seperti kutubusitah dan lain-lain tidak dijaga oleh lembaga pesantren,
bisa jadi akan musnah dan asing saat sekarang ini.
Hal yang sama, para artis masa lalu
benar-benar menjaga kualitas seni sebagai seni yang mengartikan suatu keindahan
dengan tidak melepaskan nilai-nilai agung. Lirik lagunya mengandung ajaran
kehidupan dan kadang memberikan suatu solusi tentang pentingnya mengisi
kehidupan dengan penuh optimisme untuk bangkit menjadi manusia yang mulia.
contoh lagu Michael Jakson pada lagu,”black or white” yang menceritakan
persoalan aparteid, atau lagu Scorpion dengan judul “wind of change”
yang mengisahkan penderitaan bangsa Jerman akibat dipisah oleh tembok Berlin.
Di Indonesia, para penyanyi yang sering mengusung pesan moral seperti Sam Bimbo,
Iwan Fals, Roma Irama, Ebiet G Ade dan grup Nasida Ria.
Kini tantangan para artis dan ustadz
yang masuk daftar “selebritis” sangat besar. Selain karena tugas mereka untuk
menjaga identitasnya agar tetap berada di jalur yang benar sebagai the right
man on the right place, juga perlu mengurangi kontroversi sering terjadi di
tengah-tengah masyarakat. Entah karena disengaja untuk mencari sensasi,
menaikan follower atau karena ulah dari oknum dengan melakukan editing yang
tidak bertanggungjawab. Sebab dampaknya luarbiasa. Kegaduhan dimana-mana dan
melibatkan follower fanatic masing-masing saling bertabrakan dan saling hujat. Sebagian
mereka telah menghilangkan esensi dari makna seni yang berbasis religius
dan nilai-nilai ketimuran. Followers dan bahkan kadang pelaku public figure menempatkan
seni dengan madzhab barat yang hanya menyuguhkan materi, tapi hilang subtansi. Mungkin
lafadz dan ucapannya mengajarkan nilai-nilai ilahiah, tapi keluar dari
semangat syahwatiah. Nasehat sebatas pada ucapan dan berhenti pada
tenggorokan. Nafsu menahannya, sehingga tidak sampai ke hati yang paling dalam.
Nasehat menjadi panas, dalil-dalil malah kadang menjadi pemicu ketegangan antar
sesama satu agama, apalagi berbeda agama dan keyakinan.
Era komunikasi dunia maya saat
sekarang ini tidak bisa dihindari. Manusia sudah seperti ruang kaca yang
terlalu banyak cermin. Setiap orang bisa berkomentar dari segala sudut dengan
presepsi yang berbeda. Apa yang harus dilakukan saat sekarang ini yaitu kembali
kepada tujuan hidup sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Q.S. Adz-Dzariyat[51]: 56 berbunyi,”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Hadist nabi Muhammad saw
berbunyi, “Aku bertanya kepada nabi saw, “amalan apa yang paling dicintai Allah?”
beliau menjawab, “sholat pada waktunya”. Aku berkata, “kemudian apa lagi?”. Beliau
menjawab, “berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi, “lalu apa lagi?”.
Beliau menjawab, “jihad fi sabilillah”.
Jihad sebagai bentuk ibadah
ditempatkan pada urutan terakhir karena ia berkaitan dengan kehidupan yang
melibatkan masyarakat luas. Banyak persoalan yang timbul adanya pergaulan
sosial. Salah satu bentuk jihad yang terbesar kata nabi Muhammad yaitu” jihad
melawan hawa nafsu”. Ini yang sering manusia gagal untuk menggapai hakikat
jihad. Jika setiap orang mampu mempraktekan hal tersebut, maka dunia maya
menjadi semakin indah dan menyenangkan serta mengandung nilai-nilai ibadah.
Akhyar, T. (1992). The Secret of Sufi.
Semarang : CV. Asy-Syifa'.
Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu
an Tushahhah . Surabaya .
al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami'
Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .
Amanah, N. (2023, Mei Selasa, 16). 5
Artis Lawas Terjun ke Dunia Politik, Nomor 3 Mantan Bidadari Warkop Terseksi.
Retrieved from inews.id:
https://www.inews.id/lifestyle/seleb/5-artis-lawas-terjun-ke-dunia-politik-nomor-3-mantan-bidadari-warkop-terseksi
An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .
Baqir, H. (2020). Agama di Tengah
Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.
Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup
Muhammad, terj; Ali Audah . Jakarta : Intermasa.
Hayyan, A. (2010). Al-Bahrul Muhith.
Beirut : Darul Fikri .
Izat, M. (1998). Hukum Waris .
Jakarta : Grasindo.
Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn
Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa
al-Tarjamah.
Khalid, K. M. (2015). Biografi 60 Sahabat
Rasulullah, terj;Kaserun A.S. Rahman . Jakarta : Qisthi Press.
Rakhmat, J. (1998). Reformasi
Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .
Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah,
Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Syathi', A. A. (1982). Manusia
Siapa,Darimana dan Kemana?, terj; Achmad Masruch Nasucha. Semarang : Toha
Putra.
Wahid, A. (2011). Sekadar Mendahului
Bunga Rampai Kata Pengantar . Bandung : Nuansa .
Yunus, O. M.-J. (t.t). Tauhid dan Tasawuf
. t.p.
Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani
terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan
Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.
Penulis : Imam Ghozali
Muhammad jamal
Semoga tulisannya berkah
Muhammad jamal
Semoga tulisannya berkah
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876