Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ustadz Vs Artis Selebritis; Fitnah atau Berkah?



Jumat , 23 Februari 2024



Telah dibaca :  462

Pertumbuhan media sosial dan media online telah melahirkan individu atau kelompok manusia yang tiba-tiba terkenal dengan waktu yang relatif sangat cepat. Ia tiba-tiba bisa menjadi selebritis, dan kemudian hari ia menjadi idola para penggemar nya.

Selebritis sendiri diidentikan dengan orang yang terkenal karena terlalu dekat dengan pemberitaan atau pers. Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan orang yang terkenal atau masyhur. Karena pada masa lalu, kelompok manusia yang sering masuk pada pemberitaan pada dunia hiburan seperti penyanyi dan artis, maka kelompok ini yang kemudian dinobatkan manusia yang paling masyhur di dunia.

Bicara selebritis berarti berbicara tentang keartisan. Namun dalam perkembangannya, para artis tidak serta merta hanya bergelut pada dunia kesenian semata. Adanya perubahan zaman dan situasi ekonomi, mereka mulai bergeser dari pakem sebagai seorang artis dengan beragam pekerjaan yang kadang tidak ada hubungan sama sekali dengan duniannya. Seperti ada artis tiba-tiba berubah menjadi khusu’ ibadah, lalu menjadi penjual bakso dan batagor. Ada juga artis menjadi petani. Fenomena baru fase kehidupan mereka bahwa persoalan teknis untuk tetap bertahan hidup di tengah gempuran persaingan yang sangat ketat. Bagi artis yang tidak mampu, malah kadang harus berteman dengan hal-hal yang sangat tidak baik, misalnya menjadi pengedar narkoba atau menjadi konsumsi aktif narkoba. Namun yang lebih mencuat di permukaan, artis banyak yang jadi politisi. Mungkin bagi mereka, antara artis dan politisi masih serumpun sebagai bagian dari seni kehidupan yang asyik dan menantang serta membutuhkan mental yang kuat untuk bisa menampilkan peran sebaik mungkin.

Pada masa dulu, para selebritis hanya sebatas mempunyai tanggungjawab kepada dunia hiburan. Tidak lebih dari itu. Ia tidak mau mengambil kapling orang lain. Mereka benar-benar berkarir secara totalitas pada dunia seni. Dari sini kemudian hari penulis mengenal para artis legendaris sepanjang zaman. Ada penyanyi yang bisa berbicara dengan binatang seperti Obbie Messakh dengan lagu “cinta kasih di sekolah”. Penyanyi yang sangat istikomah seperti Dian Piesesha,”aku masih seperti yang dulu”. Penyanyi sepanjang hidup selalu sakit gigi, Megi Z dengan judul lagu”Sakit Gigi”. Penyanyi yang sampai hari ini tetap muda meskipun sudah berumur 77 tahun, yaitu Roma Irama dengan judul lagu, “darah muda”. Ada juga penyanyi meninggal pada usia masih muda dan telah menginspirasi munculnya artis-artis muda yaitu Nike Ardila dengan lagunya,”bintang kehidupan”. Masih banyak lagi, artis legendaris masa lalu yang namanya tetap dikenang sampai saat sekarang ini.

Ketika kran era reformasi terbuka pada tahun 1998, isu kesetaran hak-hak politik terjadi bagi seluruh warga negara (Tutik, 2006). Maka kelompok-kelompok minoritas mulai berkarir dalam dunia politik. Begitu juga para artis mulai melirik pada dunia politik bersamaan dengan banjirnya anak-anak muda yang mulai mengisi dunia hiburan baik pada perfileman maupun dunia musik. Diantara mereka antara lain Dedi Mizwar, Komar, Rano Karno, Dede Yusuf, dan Desi Ratnasari. mereka berhasil menjadi politisi dan getol menyuarakan perlindungan terhadap karir keartisan (Amanah, 2023).

Selain artis, para ulama yang menjadi da’i kondang juga telah menguasai pikiran dan hati masyarakat. Mereka adalah para ulama yang melalui proses sangat panjang dalam menuntut ilmu di berbagai pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan agama lainnya. Pada masa  masa Soeharto antara lain; K.H. Sukron Makmun, K.H. Qasim Nurseha, K.H. Cholil Bisri dan lain-lain. Ulama yang sangat keras mengkritik orde baru adalah kyai sukron makmun. Sedangkan ulama yang lembut mengkritiknya melalui ceramah dan tulisan yang selalu terbit di media massa yaitu Cholil Bisri. Selain itu, ada ulama yang selalu mengkritik melalui lisan dan tulisan yang lebih luas dari Cholil Bisri yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Lucunya, meskipun menjadi musuh bebuyutan orde baru, dan dua atau tiga kali akan dihabisi nyawanya oleh rezim orde baru, Gus Dur tetap bersahabat baik  dengan Soeharto dan keluarganya. Bahkan bu tutut adalah keluarga soeharto yang paling sering mengikuti safari Gus Dur ke berbagai pesantren di jawa dan luar Jawa. Gus Dur sebagai representasi politik model NU mengatakan, bahwa kemarahan Soeharto kepadanya karena persoalan politik, bukan pada persoalan individu. Artinya jika tidak ada persoalan politik, soeharta adalah orang yang sangat baik dan mempunyai sumbangsih yang sangat besar terhadap bangsa dan Negara Indonesia. itu sebabnya, Gus Dur satu-satunya tokoh NU yang menyuarakan kepada bangsa Indonesia agar memaafkan kesalahan soeharto. Usulannya mendapat kritikan dan hujatan dari para tokoh politik dan pendukungnya. Tapi, politik kemanusiaan Gus Dur telah mengilhami jiwanya yang agung, bahwa tidak ada manusia yang selalu benar dan tidak ada manusia yang terus-menerus salah. Pasti ada sisi kebaikan dari setiap pemimpin. Itu sebabnya, salah satu usaha dalam rangka rekonsiliasi politik agar adem, salah satunya memaafkan kesalahan dan membuka lembaran baru bagi perjalanan bangsa Indonesia (Wahid, 2011).

Ulama NU yang sangat terkenal pada masa orde baru adalah K.H. Zainudin Mz. Ia sering dikenal dengan sebutan “dai sejuta umat”. Ia sering mengkritik orde baru, tapi secara simbolik. Sehingga ia nyaris tidak pernah mengalami penderitaan sebagaimana yang dialami oleh sebagian dari ulama-ulama saat itu.

Era reformasi pun muncul para ustadz dan muncul juga gelar-gelar kebesarannya. Mereka masuk pada panggung dakwah. Ustadz yang sangat fenomenal adalah K.H. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Saat masa jayanya, TV, radio, media sosial dan media masa berisi ceramah-ceramahnya yang terkenal sejuk dengan keseluruhan tema dikemas dengan “manajemen qalbu”. Jika Zainudin Mz disebut dengan da’I sejuta umat, maka majalan times menyebutnya “holy man”. Pemilik pesantren darut tauhid ini mendapatkan kritik keras dari para jamaah setelah melakukan poligami. Pasca poligami, secara pelan-pelan AA Gym pun mulai redup, lalu membatasi kegiatan keagamaan dan bisnisnya. Para jamaah pun menemukan lagi idola-idola ustadz baru yang dibesarkan oleh media massa, media TV, dan media online. Sangat banyak, muncul dan silih berganti redup. Begitu seterusnya. Media benar-benar mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat untuk menjadikan orang-orang yang dulunya biasa saja menjadi luarbiasa, begitu sebaliknya.

Dari paparan di atas, kebesaran seseorang memang tidak lepas dari pengaruh informan yang saat sekarang ada media massa dan media online serta media sosial. Dulu para ulama semakin terkenal di tengah-tengah masyarakat disebabkan karena para santri atau murid-muridnya merasakan kedalaman ilmu nya dan kemudian mereka menyebarkan dan meneruskan ilmu-ilmu para ulama dengan mendirikan majelis ta’lim dan pondok pesantren. Sehingga ketokohan dan ke’aliman dan seluruh kepribadiaannya telah dikonsumsi secara positif oleh para santrinya yang kemudian hari mendirikan lembaga-lembaga pesantren di seluruh pelosok nusantara. Itu sebabnya, para ulama namanya tetap kekal akibat dari sanad keilmuan sangat terjaga dengan baik antara guru dan santri-santri nya yang telah terus menyebarkan ilmunya. Hal sama seperti kitab-kitab klasik yang terus dikaji hingga keilmuan kitab tersebut terjaga sampai saat sekarang ini. Entah apa jadinya, jika kitab-kitab besar seperti kutubusitah dan lain-lain tidak dijaga oleh lembaga pesantren, bisa jadi akan musnah dan asing saat sekarang ini.

Hal yang sama, para artis masa lalu benar-benar menjaga kualitas seni sebagai seni yang mengartikan suatu keindahan dengan tidak melepaskan nilai-nilai agung. Lirik lagunya mengandung ajaran kehidupan dan kadang memberikan suatu solusi tentang pentingnya mengisi kehidupan dengan penuh optimisme untuk bangkit menjadi manusia yang mulia. contoh lagu Michael Jakson pada lagu,”black or white” yang menceritakan persoalan aparteid, atau lagu Scorpion dengan judul “wind of change” yang mengisahkan penderitaan bangsa Jerman akibat dipisah oleh tembok Berlin. Di Indonesia, para penyanyi yang sering mengusung pesan moral seperti Sam Bimbo, Iwan Fals, Roma Irama, Ebiet G Ade dan grup Nasida Ria.

Kini tantangan para artis dan ustadz yang masuk daftar “selebritis” sangat besar. Selain karena tugas mereka untuk menjaga identitasnya agar tetap berada di jalur yang benar sebagai the right man on the right place, juga perlu mengurangi kontroversi sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Entah karena disengaja untuk mencari sensasi, menaikan follower atau karena ulah dari oknum dengan melakukan editing yang tidak bertanggungjawab. Sebab dampaknya luarbiasa. Kegaduhan dimana-mana dan melibatkan follower fanatic masing-masing saling bertabrakan dan saling hujat. Sebagian mereka telah menghilangkan esensi dari makna seni yang berbasis religius dan nilai-nilai ketimuran. Followers dan bahkan kadang pelaku public figure menempatkan seni dengan madzhab barat yang hanya menyuguhkan materi, tapi hilang subtansi. Mungkin lafadz dan ucapannya mengajarkan nilai-nilai ilahiah, tapi keluar dari semangat syahwatiah. Nasehat sebatas pada ucapan dan berhenti pada tenggorokan. Nafsu menahannya, sehingga tidak sampai ke hati yang paling dalam. Nasehat menjadi panas, dalil-dalil malah kadang menjadi pemicu ketegangan antar sesama satu agama, apalagi berbeda agama dan keyakinan.

Era komunikasi dunia maya saat sekarang ini tidak bisa dihindari. Manusia sudah seperti ruang kaca yang terlalu banyak cermin. Setiap orang bisa berkomentar dari segala sudut dengan presepsi yang berbeda. Apa yang harus dilakukan saat sekarang ini yaitu kembali kepada tujuan hidup sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Q.S. Adz-Dzariyat[51]: 56 berbunyi,”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Hadist nabi Muhammad saw berbunyi, “Aku bertanya kepada nabi saw, “amalan apa yang paling dicintai Allah?” beliau menjawab, “sholat pada waktunya”. Aku berkata, “kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab, “berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi, “lalu apa lagi?”. Beliau menjawab, “jihad fi sabilillah”.

Jihad sebagai bentuk ibadah ditempatkan pada urutan terakhir karena ia berkaitan dengan kehidupan yang melibatkan masyarakat luas. Banyak persoalan yang timbul adanya pergaulan sosial. Salah satu bentuk jihad yang terbesar kata nabi Muhammad yaitu” jihad melawan hawa nafsu”. Ini yang sering manusia gagal untuk menggapai hakikat jihad. Jika setiap orang mampu mempraktekan hal tersebut, maka dunia maya menjadi semakin indah dan menyenangkan serta mengandung nilai-nilai ibadah.

References

Akhyar, T. (1992). The Secret of Sufi. Semarang : CV. Asy-Syifa'.

Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu an Tushahhah . Surabaya .

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

Amanah, N. (2023, Mei Selasa, 16). 5 Artis Lawas Terjun ke Dunia Politik, Nomor 3 Mantan Bidadari Warkop Terseksi. Retrieved from inews.id: https://www.inews.id/lifestyle/seleb/5-artis-lawas-terjun-ke-dunia-politik-nomor-3-mantan-bidadari-warkop-terseksi

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

Baqir, H. (2020). Agama di Tengah Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.

Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup Muhammad, terj; Ali Audah . Jakarta : Intermasa.

Hayyan, A. (2010). Al-Bahrul Muhith. Beirut : Darul Fikri .

Izat, M. (1998). Hukum Waris . Jakarta : Grasindo.

Khaldun, I. (1951). Al-Ta'rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Gharban wa Syirqan. Kairo : Lajnah al-Tha'if wa al-Tarjamah.

Khalid, K. M. (2015). Biografi 60 Sahabat Rasulullah, terj;Kaserun A.S. Rahman . Jakarta : Qisthi Press.

Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

Syathi', A. A. (1982). Manusia Siapa,Darimana dan Kemana?, terj; Achmad Masruch Nasucha. Semarang : Toha Putra.

Wahid, A. (2011). Sekadar Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar . Bandung : Nuansa .

Yunus, O. M.-J. (t.t). Tauhid dan Tasawuf . t.p.

Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Muhammad jamal

Semoga tulisannya berkah

Avatar

Muhammad jamal

Semoga tulisannya berkah

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876