Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Wahyu Cakraningrat Jalan Mendapatkan Syafaat



Minggu , 09 Juli 2023



Telah dibaca :  399

Setelah subuh saya masih duduk bersila menghadap kiblat, agar terlihat seperti lagi wiridan (aslinya menahan kantuk, malam kurang tidur). Istri tiba-tiba memberikan surat undangan. Katanya dari Kapolres. Saya kaget, dan langsung istighfar. Bukan karena dosa kepada Allah, tapi karena lupa bahwa tadi malam ada undangan di Kapolres Nobar Wayang Kulit dengan judul “Wahyu Cakraningrat”. Saya langsung menelpon Pak Raden minta maaf atas kelupaan acara undangan tersebut. Dia pun juga minta maaf karena tidak ada pemberitahuan ulang. Jadi sama-sama minta maaf. Bukankah saling memaafkan adalah ajaran Islam yang mulia?

Judul Wayang Kulit “Wahyu Cakraningrat” ini adalah materi pertunjukan yang berbobot. Agar tidak terlihat berat kajiannya, maka dimasukan pada pertunjukan wayang agar para penonton memahami ajaran tersebut melalui fenomena adegan setiap tokoh wayang. Maka kreator seniman hebat dan sekaligus ulama legendaris sunan kalijaga mendesain setiap tokoh wayang dengan bentuk yang berbeda-beda dan menggambarkan dari kepribadian masing-masing. Itu sebabnya bagi masyarakat yang sudah memahami dari setiap gambar tokoh pewayangan, maka akan terbantu pesan-pesan yang disampaikan oleh Dalang, Walaupun tidak sepenuhnya bisa memahami bahasa Dalang yang masing menggunakan bahasa Jawa Kuno, ia tetap mempunyai fungsi sebagai penyuluh kehidupan. Sebab  dalang atau ngudal piwulang mempunyai arti memberi ilmu pengetahuan. Dia seorang guru masyarakat yang mempunyai metode pengajaran yang tidak monoton, sehingga satu malam suntuk, jarang orang-orang yang menonton pertunjukan tersebut ngantuk. Apakah para guru bisa belajar dari dalang?

Wahyu cakraningrat wahyu yang diberikan kepada para pemimpin. Wahyu disini tentu bukan firman-firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad s.a.w. ini istilah tentang garis-garis kehidupan seseorang yang telah ditentukan oleh allah untuk menjadi pemimpin. Istilah ini sebenarnya bagian dari keimanan kepada qada dan qadar, bahwa dalam konstestasi suksesi kepemimpinan, sinar-sinar calon pemimpin sudah ada garis kehidupanya. Dalam keyakinan orang awam (seperti di masyarakat jawa) ada ndaru berupa sinar dari langit seperti bintang berekor yang jatuh di rumah calon pemimpin. Keyakinan-keyakinan seperti ini yang hidup ditengah masyarakat dan menyakini orang tersebut mendapatkan amanah dari sang pencipta.

Wahyu Cakraningrat adalah modal awal dari calon pemimpin. Ia laksana kitab kebajikan yang berisi pesan-pesan moral atau pesan-pesan ilahiyah tentang pentingnya seorang pemimpin agar mampu mengajak kepada masyarakat untuk berbakti kepada Allah, orang tua dan masyarakat. seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengerti rakyat dan bekerja untuk kepentingan rakyat. Sehingga orientasinya adalah pengabdian dan pengorbanan untuk membangun kehidupan yang berperadaban, yang digambarkan sebagai “tajri min tahtiha al-anhar”, yang dibawah rumah, disamping rumah dan dibelakang rumah masyarakat mengalir air kehidupan sebagai sumber kesejahteraan. Wahyu Cakraningrat adalah bernuansa air yang kehadiran seorang pemimpin mampu menyejukan dan memberi rasa damai, bukan pemimpin yang justru menimbulkan keputusasaan dan ketidaknyamanan ketika pemimpin bicara dan berbuat. Pemimpin laksana air dan mampu menyatu dengan masyarakat. ketika mereka bertemu terasa adem dan merakyat, dan dia merasa bagian dari rakyat dan rakyat pun merasa sangat memilikinya.

Wahyu cakraningrat bukan pesan lipstik yang disampaikan sebatas di media sosial dengan kegagahan dan kesantunan semata. Ajaran ini adalah ajaran yang hidup dihati dan akan terlihat dengan jelas sinar-sinar ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat sulit orang untuk menjatuhkan calon pemimpin seperti ini. walaupun ribuan masyarakat laksana para kurawa ingin menghancurkan pandawa, maka segala fitnah tidak akan mampu menghancurkannya. Semakin dihancurkan karekternya, semakin dicaci Maki kepribadiannya, maka semakin bersinar laksana emas permata.

Namun wahyu cakraningrat tidak serta merta akan bersemayam di tubuh seorang pemimpin atau calon pemimpin yang terpilih. Ajaran ini akan pergi ketika komitmen diri terhadap nilai-nilai kebajikan hilang dan sudah tidak lagi mementingkan nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai kerakyatan. Alam semesta pun marah dan sang pencipta pun kurang berkenan, lalu angin pun menjadi panas, alam semesta pun menjadi gelap. Saat itu, dia pun kehilangan kewibawaan.

Maka hanya calon pemimpin masa depan yang benar-benar konsisten menegakan keadilan, kesejahteraan dan mampu mendudukan masyarakat secara benar,”duduk sama rendah dan bertinggi sama tingginya”. Semua laksanaka “sisir rambut yang semua bagian mempunyai ukuran yang sama. Dia tidak merasa lebih tinggi dari masyarakat, sebab dia menyadari bahwa amanah jauh lebih berat pertanggungjawabannya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879