
Setelah subuh saya masih duduk bersila
menghadap kiblat, agar terlihat seperti lagi wiridan (aslinya menahan kantuk,
malam kurang tidur). Istri tiba-tiba memberikan surat undangan. Katanya dari Kapolres.
Saya kaget, dan langsung istighfar. Bukan karena dosa kepada Allah, tapi
karena lupa bahwa tadi malam ada undangan di Kapolres Nobar Wayang Kulit
dengan judul “Wahyu Cakraningrat”. Saya langsung menelpon Pak Raden minta maaf
atas kelupaan acara undangan tersebut. Dia pun juga minta maaf karena tidak ada
pemberitahuan ulang. Jadi sama-sama minta maaf. Bukankah saling memaafkan
adalah ajaran Islam yang mulia?
Judul Wayang Kulit “Wahyu Cakraningrat” ini
adalah materi pertunjukan yang berbobot. Agar tidak terlihat berat kajiannya,
maka dimasukan pada pertunjukan wayang agar para penonton memahami ajaran
tersebut melalui fenomena adegan setiap tokoh wayang. Maka kreator seniman
hebat dan sekaligus ulama legendaris sunan kalijaga mendesain setiap tokoh
wayang dengan bentuk yang berbeda-beda dan menggambarkan dari kepribadian
masing-masing. Itu sebabnya bagi masyarakat yang sudah memahami dari setiap
gambar tokoh pewayangan, maka akan terbantu pesan-pesan yang disampaikan oleh Dalang,
Walaupun tidak sepenuhnya bisa memahami bahasa Dalang yang masing menggunakan
bahasa Jawa Kuno, ia tetap mempunyai fungsi sebagai penyuluh kehidupan. Sebab dalang atau ngudal piwulang mempunyai arti
memberi ilmu pengetahuan. Dia seorang guru masyarakat yang mempunyai metode
pengajaran yang tidak monoton, sehingga satu malam suntuk, jarang orang-orang
yang menonton pertunjukan tersebut ngantuk. Apakah para guru bisa belajar dari
dalang?
Wahyu cakraningrat wahyu yang diberikan
kepada para pemimpin. Wahyu disini tentu bukan firman-firman Allah yang
diturunkan kepada nabi Muhammad s.a.w. ini istilah tentang garis-garis
kehidupan seseorang yang telah ditentukan oleh allah untuk menjadi pemimpin. Istilah
ini sebenarnya bagian dari keimanan kepada qada dan qadar, bahwa dalam
konstestasi suksesi kepemimpinan, sinar-sinar calon pemimpin sudah ada garis
kehidupanya. Dalam keyakinan orang awam (seperti di masyarakat jawa) ada ndaru
berupa sinar dari langit seperti bintang berekor yang jatuh di rumah calon
pemimpin. Keyakinan-keyakinan seperti ini yang hidup ditengah masyarakat dan
menyakini orang tersebut mendapatkan amanah dari sang pencipta.
Wahyu Cakraningrat adalah modal awal dari
calon pemimpin. Ia laksana kitab kebajikan yang berisi pesan-pesan moral atau
pesan-pesan ilahiyah tentang pentingnya seorang pemimpin agar mampu mengajak
kepada masyarakat untuk berbakti kepada Allah, orang tua dan masyarakat.
seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengerti rakyat dan bekerja
untuk kepentingan rakyat. Sehingga orientasinya adalah pengabdian dan
pengorbanan untuk membangun kehidupan yang berperadaban, yang digambarkan
sebagai “tajri min tahtiha al-anhar”, yang dibawah rumah, disamping
rumah dan dibelakang rumah masyarakat mengalir air kehidupan sebagai sumber
kesejahteraan. Wahyu Cakraningrat adalah bernuansa air yang kehadiran seorang
pemimpin mampu menyejukan dan memberi rasa damai, bukan pemimpin yang justru
menimbulkan keputusasaan dan ketidaknyamanan ketika pemimpin bicara dan
berbuat. Pemimpin laksana air dan mampu menyatu dengan masyarakat. ketika
mereka bertemu terasa adem dan merakyat, dan dia merasa bagian dari rakyat dan
rakyat pun merasa sangat memilikinya.
Wahyu cakraningrat bukan pesan lipstik yang
disampaikan sebatas di media sosial dengan kegagahan dan kesantunan semata. Ajaran
ini adalah ajaran yang hidup dihati dan akan terlihat dengan jelas sinar-sinar
ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat sulit orang untuk
menjatuhkan calon pemimpin seperti ini. walaupun ribuan masyarakat laksana para
kurawa ingin menghancurkan pandawa, maka segala fitnah tidak akan mampu
menghancurkannya. Semakin dihancurkan karekternya, semakin dicaci Maki
kepribadiannya, maka semakin bersinar laksana emas permata.
Namun wahyu cakraningrat tidak serta merta
akan bersemayam di tubuh seorang pemimpin atau calon pemimpin yang terpilih. Ajaran
ini akan pergi ketika komitmen diri terhadap nilai-nilai kebajikan hilang dan
sudah tidak lagi mementingkan nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai kerakyatan.
Alam semesta pun marah dan sang pencipta pun kurang berkenan, lalu angin pun
menjadi panas, alam semesta pun menjadi gelap. Saat itu, dia pun kehilangan
kewibawaan.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879