
Sekitar jam 16.00 wib, saya mendapatkan undangan dari Kapolres
Kepulauan Meranti. Pikiran saya undangan doa selamat untuk Kapolres yang
rencananya mau umroh. Setelah saya membaca dengan seksama[dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya], ternyata undangan Nobar
[Nonton Bareng] pagelaran wayang kulit dengan lakon [judul] “Wahyu
Makutharama”. Judul ini menarik, karena berisi 8 ajaran kehidupan yang harus
dipatuhi oleh para pemimpin secara khusus dan umat manusia. Karena itu, saya
akan menulis secara berseri judul tersebut menjadi beberapa bagian.
Salah satu media dakwah para ulama yang kemudian
dikenal Wali Sanga dengan menggunakan pendekatan Budaya Lokal. Bagi yang
mengerti sejarah ini, dengan mudah menemukan sanad sejarah [runtutan
sejarah] para ulama menyiarkan agama dengan pendekatan budaya. Berikut sekilas Media
Dakwah : Pertama Sunan Kalijaga. Dia menggunakan media dakwah melalui : a). Seni
Pakaian Batik, yang memperlambangkan pentingnya baju [takwa] dalam
kehidupan. Jadi, baju mempunyai fungsi takwa mempunyai dua dimensi; sebagai
jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui pembersihan diri dan sebagai
jalan untuk kehidupan bermasyarakat yang mempunyai derajat manusia agung dan
beradab. Itu sebabnya pakaian selain menutup aurat juga mempunyai fungsi
pengenalan peradaban suatu daerah atau bangsa. Jika Indonesia mempunyai Batik[
sudah mendapatkan penghargaan Hak Paten dari UNESCO], Arab Saudi mempunyai
model baju gamis, dan Cina mempunyai Baju model Saolin, serta daerah kutub
mempunyai baju Jaket Bulu. Kita mengenal mereka dan keadaan geografisnya
melalui pakaian yang dipakainya. b) seni suara. Beberapa lagu yang terkenal di
tengah-tengah masyarakat jawa tengah ada lagu yang sering dinyanyikan oleh para
orang tua dan secara turun-temurun diperkenalkan ke generasi berikutnya, yaitu:
lagu ‘Ilir-Ilir’ dan ‘Gundul-Gundul Pacul’. Lagu ini kemudian
dipopulerkan oleh Cak Nun dengan Kiai Kanjengnya. Bagi ustadz atau penceramah
yang tidak tahu filosofisnya dianggap sebagai sebuah nyanyian tanpa arti,
terutama para penceramah yang tidak memahami bahasa Jawa yang mempunyai
tingkatan bahasa dan kekayaan metafora [majaz]. Ketika tidak
memahami ini, maka tidak bisa menyelami makna yang terkandung di dalam nya. itu
sebabnya, para Ulama yang berdakwah di daerah Jawa benar-benar menguasai sastra
Jawa dengan sempurna sehingga mampu merebut hati keyakinan masyarakat Jawa [sebelumnya
animisme, dinamisme, Hindu dan Buda] menjadi penganut agama Islam.
Berikut ini lirik lagu lir-ilir
Lir ilir, lir ilir
Tandure wes sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon
Penekno blimbing kuwe
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodot iro
Dodotiro-dodotiro
Kumitir bedhah in pinggir
Dondomono jlumotono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpun padang kalangane
Yo surako, surak iyo
Sunan Kalijaga mengawali lagu dengan kalimat ‘Lir-Ilir’
(Bangunlah-bangunlah) sebuah metafor bagaimana Tuhan membangunkan Nabi Muhammad
dengan kalimat ya ayuhal mudatsir. Manusia sering lupa pada hakikat
dirinya. Mereka membutuhkan peringatan dan membangunkan kesadaran diri tentang
proses kehidupan manusia darimana dan akan kemana kehidupan di masa datang. Kehidupan
dengan segala kebutuhan dan asesoris duniawi sering melupakan manusia. Mereka terperosok
dalam gemerlapan Dunia, dan lupa jalan menuju Akherat. Padahal manusia laksana “tanduran”
[tanaman]. Dia membutuhkan air dan perawatan agar tumbuh menjadi pohon yang
kuat dan menghasilkan buah yang manis dan enak rasanya.
Tapi apakah manusia hanya sebatas tanduran yang
ijo royo-royo yang keindahanya menggoda laksana ‘temanten anyar’[Pengantin
baru]. Siapapun senang melihatnya, dan kadang membuat orang lain iri atas
kemesraan, keserasian mereka bagai ‘pinang dibelah dua’. Kita dalam hidup tidak
hanya sebatas tanaman yang indah, tapi juga harus seperti ‘cah angon’[Pengembala
Kambing], yaitu mampu sebagai lentera kehidupan, menuntun ke arah kebenaran dan
kebaikan. Manusia harus mengenal hakikat kehidupan yang fana dan akan menuju
keabadian dengan proses pengalaman rukun Islam [Pohon Blimbing yang buahnya terdiri
dari lima bagian sebagai simbol Rukun Islam]. Walaupun berat dalam melafadzkan,
berat dalam menjalankannya tapi setiap orang yang ingin mencari kesempurnaan
sebagai seorang muslim tetap berusaha ‘menek’[memanjat] dan terus
belajar untuk bisa memanjat pohon belimbing[ yang terdiri lima bagian]. Saat mereka
bisa memanjatnya walaupun pohon tersebut ‘lunyu’[licin], saat itu mereka
akan mendapatkan manisnya iman dan pengabdian kepada Sang Pencipta.
Makna ‘kanggo mbasuh dodot iro’ adalah realita
kehidupan manusia yang tidak lepas dari kotoran berupa dosa dan maksiat. Lihatlah
‘dodot iro’ [baju kehidupanmu] yang kumitir bedhah ing pinggir[terkoyak
pada bagian pinggir] menjadi sejarah manusia dalam kontek kehidupan yang tidak
mungkin selalu baik, suci dan tidak pernah dosa. Siapapun itu, selalu melakukan
dosa yang disimbolkan pada baju yang robek. Kata Nabi bahwa baju terbaik
seorang muslim adalah takwanya. Dan kenyataannya, setiap orang untuk menjaga ‘baju
takwa’ tidak robek bukan persoalan yang mudah. Manusia harus berusaha
semaksimal mungkin menutup pintu-pintu maksiat.
Kenapa demikian? Manusia ada masanya, ada batas
kehidupan dan kematian, ada batas sehat dan sakit ada batas waktu senggang dan
sempit. Mumpung padhang rembulane[masih sehat dan kuat serta masih muda]
dan mumpung jembar kalangane[masih ada kesempatan emas untuk memberbaiki
diri], segera ‘dondomi’[jahit] baju takwa yang robek agar di sore hari
baju takwa tersebut tidak cacat dalam pandangan Allah.s.w.t. Kita adalah
laksana barang titipan dan akan diberikan kepada yang punya barang titipan
tersebut, yaitu Allah s.w.t. Bukankah kita malu saat barang titipan itu rusak
saat waktu sore [ waktu saat kita meninggal Dunia].
Yo surako sorak iyo
Apakah kita bergembira karena mendapat gemerlapan
kehidupan dunia sehingga lupa terhadap Sang Pencipta, atau bergembira dalam
kehidupan karena sudah menyiapkan diri segala ibadah dan amal sholah kepada Allah
s.w.t? Semua kembali kepada kita masing-masing yang bisa melihat diri sendiri,
bukan orang lain. Demikian bukan?
Bersambung….
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2986
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884