Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Wahyu Makutharama Bag-1



Sabtu , 04 Februari 2023



Telah dibaca :  465

Sekitar jam 16.00 wib, saya mendapatkan undangan dari Kapolres Kepulauan Meranti. Pikiran saya undangan doa selamat untuk Kapolres yang rencananya mau umroh. Setelah saya membaca dengan seksama[dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya], ternyata undangan Nobar [Nonton Bareng] pagelaran wayang kulit dengan lakon [judul] “Wahyu Makutharama”. Judul ini menarik, karena berisi 8 ajaran kehidupan yang harus dipatuhi oleh para pemimpin secara khusus dan umat manusia. Karena itu, saya akan menulis secara berseri judul tersebut menjadi beberapa bagian.

Salah satu media dakwah para ulama yang kemudian dikenal Wali Sanga dengan menggunakan pendekatan Budaya Lokal. Bagi yang mengerti sejarah ini, dengan mudah menemukan sanad sejarah [runtutan sejarah] para ulama menyiarkan agama dengan pendekatan budaya. Berikut sekilas Media Dakwah : Pertama Sunan Kalijaga. Dia menggunakan media dakwah melalui : a). Seni Pakaian Batik, yang memperlambangkan pentingnya baju [takwa] dalam kehidupan. Jadi, baju mempunyai fungsi takwa mempunyai dua dimensi; sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui pembersihan diri dan sebagai jalan untuk kehidupan bermasyarakat yang mempunyai derajat manusia agung dan beradab. Itu sebabnya pakaian selain menutup aurat juga mempunyai fungsi pengenalan peradaban suatu daerah atau bangsa. Jika Indonesia mempunyai Batik[ sudah mendapatkan penghargaan Hak Paten dari UNESCO], Arab Saudi mempunyai model baju gamis, dan Cina mempunyai Baju model Saolin, serta daerah kutub mempunyai baju Jaket Bulu. Kita mengenal mereka dan keadaan geografisnya melalui pakaian yang dipakainya. b) seni suara. Beberapa lagu yang terkenal di tengah-tengah masyarakat jawa tengah ada lagu yang sering dinyanyikan oleh para orang tua dan secara turun-temurun diperkenalkan ke generasi berikutnya, yaitu: lagu ‘Ilir-Ilir’ dan ‘Gundul-Gundul Pacul’. Lagu ini kemudian dipopulerkan oleh Cak Nun dengan Kiai Kanjengnya. Bagi ustadz atau penceramah yang tidak tahu filosofisnya dianggap sebagai sebuah nyanyian tanpa arti, terutama para penceramah yang tidak memahami bahasa Jawa yang mempunyai tingkatan bahasa dan kekayaan metafora [majaz]. Ketika tidak memahami ini, maka tidak bisa menyelami makna yang terkandung di dalam nya. itu sebabnya, para Ulama yang berdakwah di daerah Jawa benar-benar menguasai sastra Jawa dengan sempurna sehingga mampu merebut hati keyakinan masyarakat Jawa [sebelumnya animisme, dinamisme, Hindu dan Buda] menjadi penganut agama Islam.

Berikut ini lirik lagu lir-ilir

Lir ilir, lir ilir

Tandure wes sumilir

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar

Cah angon-cah angon

Penekno blimbing kuwe

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodot iro

Dodotiro-dodotiro

Kumitir bedhah in pinggir

Dondomono jlumotono kanggo sebo mengko sore

Mumpung padang rembulane

Mumpun padang kalangane

Yo surako, surak iyo

 

Sunan Kalijaga mengawali lagu dengan kalimat ‘Lir-Ilir’ (Bangunlah-bangunlah) sebuah metafor bagaimana Tuhan membangunkan Nabi Muhammad dengan kalimat ya ayuhal mudatsir. Manusia sering lupa pada hakikat dirinya. Mereka membutuhkan peringatan dan membangunkan kesadaran diri tentang proses kehidupan manusia darimana dan akan kemana kehidupan di masa datang. Kehidupan dengan segala kebutuhan dan asesoris duniawi sering melupakan manusia. Mereka terperosok dalam gemerlapan Dunia, dan lupa jalan menuju Akherat. Padahal manusia laksana “tanduran” [tanaman]. Dia membutuhkan air dan perawatan agar tumbuh menjadi pohon yang kuat dan menghasilkan buah yang manis dan enak rasanya.

Tapi apakah manusia hanya sebatas tanduran yang ijo royo-royo yang keindahanya menggoda laksana ‘temanten anyar’[Pengantin baru]. Siapapun senang melihatnya, dan kadang membuat orang lain iri atas kemesraan, keserasian mereka bagai ‘pinang dibelah dua’. Kita dalam hidup tidak hanya sebatas tanaman yang indah, tapi juga harus seperti ‘cah angon’[Pengembala Kambing], yaitu mampu sebagai lentera kehidupan, menuntun ke arah kebenaran dan kebaikan. Manusia harus mengenal hakikat kehidupan yang fana dan akan menuju keabadian dengan proses pengalaman rukun Islam [Pohon Blimbing yang buahnya terdiri dari lima bagian sebagai simbol Rukun Islam]. Walaupun berat dalam melafadzkan, berat dalam menjalankannya tapi setiap orang yang ingin mencari kesempurnaan sebagai seorang muslim tetap berusaha ‘menek’[memanjat] dan terus belajar untuk bisa memanjat pohon belimbing[ yang terdiri lima bagian]. Saat mereka bisa memanjatnya walaupun pohon tersebut ‘lunyu’[licin], saat itu mereka akan mendapatkan manisnya iman dan pengabdian kepada Sang Pencipta.

Makna ‘kanggo mbasuh dodot iro’ adalah realita kehidupan manusia yang tidak lepas dari kotoran berupa dosa dan maksiat. Lihatlah ‘dodot iro’ [baju kehidupanmu] yang kumitir bedhah ing pinggir[terkoyak pada bagian pinggir] menjadi sejarah manusia dalam kontek kehidupan yang tidak mungkin selalu baik, suci dan tidak pernah dosa. Siapapun itu, selalu melakukan dosa yang disimbolkan pada baju yang robek. Kata Nabi bahwa baju terbaik seorang muslim adalah takwanya. Dan kenyataannya, setiap orang untuk menjaga ‘baju takwa’ tidak robek bukan persoalan yang mudah. Manusia harus berusaha semaksimal mungkin menutup pintu-pintu maksiat.

Kenapa demikian? Manusia ada masanya, ada batas kehidupan dan kematian, ada batas sehat dan sakit ada batas waktu senggang dan sempit. Mumpung padhang rembulane[masih sehat dan kuat serta masih muda] dan mumpung jembar kalangane[masih ada kesempatan emas untuk memberbaiki diri], segera ‘dondomi’[jahit] baju takwa yang robek agar di sore hari baju takwa tersebut tidak cacat dalam pandangan Allah.s.w.t. Kita adalah laksana barang titipan dan akan diberikan kepada yang punya barang titipan tersebut, yaitu Allah s.w.t. Bukankah kita malu saat barang titipan itu rusak saat waktu sore [ waktu saat kita meninggal Dunia].

Yo surako sorak iyo

Apakah kita bergembira karena mendapat gemerlapan kehidupan dunia sehingga lupa terhadap Sang Pencipta, atau bergembira dalam kehidupan karena sudah menyiapkan diri segala ibadah dan amal sholah kepada Allah s.w.t? Semua kembali kepada kita masing-masing yang bisa melihat diri sendiri, bukan orang lain. Demikian bukan?

Bersambung….



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884