Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Wiridan Tolak Bala’ Umaro dan Masyarakat



Minggu , 08 Juni 2025



Telah dibaca :  579

Wiridan Tolak Bala’ Umaro dan Masyarakat

Semenjak AKBP H.Asmar- Bupati Baru Terpilih Kabupaten Kepulauan Meranti-melaksanakan open house, saya baru bisa ikut pada Idul Adha tahun ini. Sebelum nya tidak pernah ikut.

Setelah sholat id, ingin segera pulang. Ma’lum semua demam. Istri satu-satunya demam. Anak nomor tiga, Anis dan nomor empat Faiz sudah satu minggu demam. Saya dan putriku yang nomor dua masih sehat. Putri pertama Viki lagi kuliah, di UIN Walisongo. Idul Adha saya merangkap sebagai ibu dan bapak rumah tangga.

Setelah sholat id ingin segera pulang. Namun naluri berkata lain. saya ingin ke Rumah Dinas Bupati. Sudah lama tidak bertemu. Ingin silaturahim.

Kebetulan saya satu rombongan dengan para penggede instansi forkompida. Ada Kapolres, ada dari TNI dan lain-lain. setelah duduk, saya mengambil sedikit sarapan.

Saya mengambil sedikit sarapan. untuk syarat. Tidak enak pula di ruang bupati puasa. Selain haram puasa, juga tidak etis. Yang lain makan, malah saya bengong sendiri.

“Kok sedikit makan ustadz” tanya pak TNI di samping ku.

“Pak kyai, kenapa sedikit makan?” tanya pak bupati juga.

Saya menjawab sekenanya: “Nanti sarapan lagi dengan istri dan anak, pak bup”.

Pertemuan ku dengan pak bupati pagi itu, silaturahim dan sedikit menyampaikan tugas sebagai bagian dari rakyat biasa dengan beberapa pesan-pesan sebagai berikut, yaitu: selalu sholat lima waktu dan selalu berbuat kebaikan kepada masyarakat. Juga tidak boleh ketinggalan berbuat adil dalam persoalan yang lebih luas. Terlihat remeh-temeh, tapi bagikut penting.

Dalam kontek pemerintahan, pak bupati tentu saja lebih mengetahuinya. Saya tidak mau berlagak “nguyahi segoro”. Tidak mau sok tahu segala urusan. Saya cukup menyampaikan kalimat yang umum-umum saja.

Contoh persoalan petasan di Hari Raya Idul Adha. Saya langsung menyampaikan ke pak bupati, agar peserta takbir atau rombongan takbir tidak boleh membawa petasan. Termasuk membunyikan petasan di malam hari saat orang-orang sedang tidur.

Memang ada persoalan Petasan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Salah satunya yaitu masyarakat perkotaan berisi orang-orang Etnis Tionghoa. Mereka mempunyai tradisi ibadah di malam hari, yaitu membunyikan petasan untuk sembahyang. Saat umat muslim tidur, mereka bangun. Mereka beribadah dengan membunyikan Petasan [mungkin kalau dalam ajaran Islam lagi sholat tahajud, main Petasan di sepertiga malam].

Melarang membunyikan petasan memang harus dipetakan. Mana wilayah ibadah dan mana wilayah budaya atau sebatas seneng-seneng. Jika tidak dipetakan khawatir itu lagi ibadah agama tersebut. melarang mereka beribadah malah mengganggu kebebasan beragama.

Wakil bupati, Bapak Muzamil saat itu juga memberi penjelasan panjang lebar. Persoalan petasan sudah di bahas di LAM dan saat dia menjadi anggota dewan. Bahkan tokoh etnis tionghoa juga dipanggil. Ia menjelaskan, bahwa menyalakan petasan di malam hari bagian dari ibadah.

Itu bagian rangkaian ibadah mereka. Jadi tetap dengan berat hati menerima persoalan tersebut.

Seperti mereka dengan berat hati  menerima suara takbir ketika Idul Fitri dan Idul Adha dan adzan lima waktu setiap hari. Belum lagi ada ritual lainnya yang menggunakan pengeras suara. Bisa jadi mereka juga merasa terganggu dengan suara-suara Toa dari masjid-masjid dan mushola-mushola.

Dalam beberapa kesempatan, saya kadang bertemu dengan bupati. Kalimat yang tidak pernah tertinggal saat bertemu yaitu: sholat lima waktu, menjaga keutuhan keluarga dan berbuat sebaik-baiknya untuk masyarakat. Nasihat klasik. Tak apa-apa, saya suka klasik-klasik yang jelas sanad keilmuannya.

Pak bupati menerima dengan baik. Tentu semua kembali kepada pribadinya. Dalam hal ini paling tidak saya menunjukan kasih-sayang kepada bupati dengan nasehat-nasehat yang baik.

Saya memang tidak bisa mengikuti gaya para ustadz yang memberi nasehat dengan sangat lantang dengan kalimat-kalimat yang menggelegar: “wahai para pemimpin, para thagut, para penyembah berhala jabatan, para pendosa, para penjilat, para pelacur jabatan, para penghuni neraka, para kampret, pendusta, pendosa” dan sejenisnya.

Saya juga tidak bisa memanggil para pejabat dengan nama-nama yang tidak pantas seperti : Fi’raun, Namrud, Dajjal, atau panggilan sejenisnya. Entah kenapa. Selain tidak etis juga saya membayangkan bagaimana rasanya jika ada saudara kita yang kebetulan menjadi pejabat dan kebetulan juga tidak disukai. Kita sebagai bagian dari keluarga tentu sangat risih ketika saudara kita dipanggil dengan kata-kata atau kalimat yang tidak pantas.

Entah kenapa saya tidak bisa mengatakan kepada pejabat dengan panggilan-panggilan yang tidak pantas. bagiku, panggilan adalah doa. jika memanggil orang dengan sebutan tidak pantas, maka kita sedang mentransfer energi negatif. Jika doa tersebut tidak sampai kepada yang kita tuju, jangan-jangan malah mantul mengenai diri kita sendiri.

Sudah berapa banyak bukti orang yang suka mencaci maki orang lain, tapi dirinya sendiri malah lebih parah berbuat ketidakbaikan dari orang yang dicaci maki.

Itu bisa jadi sesuai dengan sabda Nabi: “Siapa saja yang menuduh orang lain berbuat jelek padahal tidak demikian, maka orang yang menuduh akan melakukan hal serupa sebelum ia meninggal dunia”.

Saya selalu berusaha memanggil seorang pejabat dengan nama jabatanya. Kadang dengan nama panggilan “pak” atau “tuan”. Itu standar etika sosial. Menyampaikan kebaikan memang harus dengan cara-cara kebaikan. Ada ruang wilayah berbeda-beda dalam berdakwah. Dan dakwah para pendakwah pada wilayah ini. Sebab tuhan memberi pemahaman sedikit persoalan agama memang pada wilayah tersebut. para pendakwah seperti saya jelas tidak paham tentang persoalan fluktuasi ekonomi, harga pasar, penegakan hukum,sindikat ganja, gejolak harga saham. Ada wilayah-wilayah dakwah yang berbeda-beda.

Saya hanya ingat visi nabi musa dalam al-qur’an saat berdakwah di hadapan fir’aun. Tuhan memerintah kepada musa untuk menyampaikan dakwah dengan etika moral yang sangat agung. Q.S. At-Taha Ayat 43-44 sebagai berikut: ”Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Kita semua sudah mafhum, Fir’aun bukan muslim. ia mengaku sebagai tuhan. dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 83 digambarkan sebagai berikut: “Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan pada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir‘aun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.”

Kekuatan Nabi Musa bukan pada kata-kata yang kasar. Sebab ia tahu, bahwa menyampaikan kebaikan dengan cara-cara yang baik. Tidak pantas dengan kata-kata kasar. Kekuatan nabi musa pada keagungan moral. Ia terus mengkritisi pemerintahan Raja Fir’aun. Tidak pernah berhenti. Mengkritisi dan memperbaiki. Mengkritisi kebijakannya dan mengajak untuk menyembah Allah SWT. Terlihat sederhana, tapi produktif dan solutif.

Saya kira, para pemimpin negeri ini masih muslim. Mereka masih sholat, menyembah Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Para pembenci terhadap kebijakan pemerintah juga sama-sama sholat dengan Tuhan yang sama-sama disembah yaitu Allah SWT. Nabi juga sama yaitu Nabi Muhammad SAW. Kedua belah pihak sama-sama menyembah Allah SWT.

Para pemimpin dan masyarakat yang dipimpin ternyata sama-sama umat Rasulullah SAW. Saya hanya membayangkan betapa malu nya kita saat dihadapan Allah dan Rasul-Nya di Hari Kiamat, ternyata orang-orang yang dilecehkan dan dihancurkan martabatnya sehancur-hancurnya ternyata lebih mulia dari kita. Betapa malunya kita saat itu.

Disisi lain kita juga malu, jika dihadapan Allah dan Rasul-Nya kita tidak mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap kurang benar. Mengkritisi yang konstruktif. Jika anda pakar hukum, mengkritisi sekaligus memberi solusi. Anda pakar ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Punya tanggungjawab sama dalam wilayah yang berbeda-beda.

Silahkan duduk bareng. Para pejabat dengan rakyat. Ngobrol bareng sambil ngopi. Jauhkan sifat dengki. Anggap saja semua sahabat, bahkan kalau bisa panggil saja sahabat. Mungkin cara seperti ini sebagian kebuntuan bisa diselesaikan dan saling memahami persoalan secara utuh. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874