
Wiridan Tolak Bala’ Umaro dan Masyarakat
Semenjak AKBP H.Asmar- Bupati Baru Terpilih
Kabupaten Kepulauan Meranti-melaksanakan open house, saya baru bisa ikut
pada Idul Adha tahun ini. Sebelum nya tidak pernah ikut.
Setelah sholat id, ingin segera pulang. Ma’lum
semua demam. Istri satu-satunya demam. Anak nomor tiga, Anis dan nomor empat Faiz
sudah satu minggu demam. Saya dan putriku yang nomor dua masih sehat. Putri pertama
Viki lagi kuliah, di UIN Walisongo. Idul Adha saya merangkap sebagai ibu dan
bapak rumah tangga.
Setelah sholat id ingin segera pulang. Namun
naluri berkata lain. saya ingin ke Rumah Dinas Bupati. Sudah lama tidak
bertemu. Ingin silaturahim.
Kebetulan saya satu rombongan dengan para penggede
instansi forkompida. Ada Kapolres, ada dari TNI dan lain-lain. setelah duduk,
saya mengambil sedikit sarapan.
Saya mengambil sedikit sarapan. untuk
syarat. Tidak enak pula di ruang bupati puasa. Selain haram puasa, juga tidak
etis. Yang lain makan, malah saya bengong sendiri.
“Kok sedikit makan ustadz” tanya pak TNI di
samping ku.
“Pak kyai, kenapa sedikit makan?” tanya pak
bupati juga.
Saya menjawab sekenanya: “Nanti sarapan
lagi dengan istri dan anak, pak bup”.
Pertemuan ku dengan pak bupati pagi itu,
silaturahim dan sedikit menyampaikan tugas sebagai bagian dari rakyat biasa
dengan beberapa pesan-pesan sebagai berikut, yaitu: selalu sholat lima waktu
dan selalu berbuat kebaikan kepada masyarakat. Juga tidak boleh ketinggalan berbuat
adil dalam persoalan yang lebih luas. Terlihat remeh-temeh, tapi bagikut
penting.
Dalam kontek pemerintahan, pak bupati tentu
saja lebih mengetahuinya. Saya tidak mau berlagak “nguyahi segoro”. Tidak
mau sok tahu segala urusan. Saya cukup menyampaikan kalimat yang umum-umum
saja.
Contoh persoalan petasan di Hari Raya Idul
Adha. Saya langsung menyampaikan ke pak bupati, agar peserta takbir atau
rombongan takbir tidak boleh membawa petasan. Termasuk membunyikan petasan di
malam hari saat orang-orang sedang tidur.
Memang ada persoalan Petasan di Kabupaten
Kepulauan Meranti. Salah satunya yaitu masyarakat perkotaan berisi orang-orang Etnis
Tionghoa. Mereka mempunyai tradisi ibadah di malam hari, yaitu membunyikan
petasan untuk sembahyang. Saat umat muslim tidur, mereka bangun. Mereka beribadah
dengan membunyikan Petasan [mungkin kalau dalam ajaran Islam lagi sholat
tahajud, main Petasan di sepertiga malam].
Melarang membunyikan petasan memang harus
dipetakan. Mana wilayah ibadah dan mana wilayah budaya atau sebatas seneng-seneng.
Jika tidak dipetakan khawatir itu lagi ibadah agama tersebut. melarang mereka
beribadah malah mengganggu kebebasan beragama.
Wakil bupati, Bapak Muzamil saat itu juga
memberi penjelasan panjang lebar. Persoalan petasan sudah di bahas di LAM dan
saat dia menjadi anggota dewan. Bahkan tokoh etnis tionghoa juga dipanggil. Ia menjelaskan,
bahwa menyalakan petasan di malam hari bagian dari ibadah.
Itu bagian rangkaian ibadah mereka. Jadi tetap
dengan berat hati menerima persoalan tersebut.
Seperti mereka dengan berat hati menerima suara takbir ketika Idul Fitri dan Idul
Adha dan adzan lima waktu setiap hari. Belum lagi ada ritual lainnya yang menggunakan
pengeras suara. Bisa jadi mereka juga merasa terganggu dengan suara-suara Toa
dari masjid-masjid dan mushola-mushola.
Dalam beberapa kesempatan, saya kadang
bertemu dengan bupati. Kalimat yang tidak pernah tertinggal saat bertemu yaitu:
sholat lima waktu, menjaga keutuhan keluarga dan berbuat sebaik-baiknya untuk
masyarakat. Nasihat klasik. Tak apa-apa, saya suka klasik-klasik yang jelas
sanad keilmuannya.
Pak bupati menerima dengan baik. Tentu semua
kembali kepada pribadinya. Dalam hal ini paling tidak saya menunjukan
kasih-sayang kepada bupati dengan nasehat-nasehat yang baik.
Saya memang tidak bisa mengikuti gaya para
ustadz yang memberi nasehat dengan sangat lantang dengan kalimat-kalimat yang
menggelegar: “wahai para pemimpin, para thagut, para penyembah berhala jabatan,
para pendosa, para penjilat, para pelacur jabatan, para penghuni neraka, para
kampret, pendusta, pendosa” dan sejenisnya.
Saya juga tidak bisa memanggil para pejabat
dengan nama-nama yang tidak pantas seperti : Fi’raun, Namrud, Dajjal, atau
panggilan sejenisnya. Entah kenapa. Selain tidak etis juga saya membayangkan
bagaimana rasanya jika ada saudara kita yang kebetulan menjadi pejabat dan
kebetulan juga tidak disukai. Kita sebagai bagian dari keluarga tentu sangat
risih ketika saudara kita dipanggil dengan kata-kata atau kalimat yang tidak
pantas.
Entah kenapa saya tidak bisa mengatakan
kepada pejabat dengan panggilan-panggilan yang tidak pantas. bagiku, panggilan
adalah doa. jika memanggil orang dengan sebutan tidak pantas, maka kita sedang
mentransfer energi negatif. Jika doa tersebut tidak sampai kepada yang kita
tuju, jangan-jangan malah mantul mengenai diri kita sendiri.
Sudah berapa banyak bukti orang yang suka
mencaci maki orang lain, tapi dirinya sendiri malah lebih parah berbuat
ketidakbaikan dari orang yang dicaci maki.
Itu bisa jadi sesuai dengan sabda Nabi: “Siapa
saja yang menuduh orang lain berbuat jelek padahal tidak demikian, maka orang
yang menuduh akan melakukan hal serupa sebelum ia meninggal dunia”.
Saya selalu berusaha memanggil seorang
pejabat dengan nama jabatanya. Kadang dengan nama panggilan “pak” atau “tuan”. Itu
standar etika sosial. Menyampaikan kebaikan memang harus dengan cara-cara
kebaikan. Ada ruang wilayah berbeda-beda dalam berdakwah. Dan dakwah para
pendakwah pada wilayah ini. Sebab tuhan memberi pemahaman sedikit persoalan
agama memang pada wilayah tersebut. para pendakwah seperti saya jelas tidak
paham tentang persoalan fluktuasi ekonomi, harga pasar, penegakan
hukum,sindikat ganja, gejolak harga saham. Ada wilayah-wilayah dakwah yang
berbeda-beda.
Saya hanya ingat visi nabi musa dalam
al-qur’an saat berdakwah di hadapan fir’aun. Tuhan memerintah kepada musa untuk
menyampaikan dakwah dengan etika moral yang sangat agung. Q.S. At-Taha Ayat 43-44
sebagai berikut: ”Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah
melampaui batas” “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang
lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Kita semua sudah mafhum, Fir’aun bukan
muslim. ia mengaku sebagai tuhan. dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 83
digambarkan sebagai berikut: “Tidak ada yang beriman kepada Musa selain
keturunan dari kaumnya disertai ketakutan pada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya
yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir‘aun benar-benar sewenang-wenang di
bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.”
Kekuatan Nabi Musa bukan pada kata-kata
yang kasar. Sebab ia tahu, bahwa menyampaikan kebaikan dengan cara-cara yang
baik. Tidak pantas dengan kata-kata kasar. Kekuatan nabi musa pada keagungan
moral. Ia terus mengkritisi pemerintahan Raja Fir’aun. Tidak pernah berhenti. Mengkritisi
dan memperbaiki. Mengkritisi kebijakannya dan mengajak untuk menyembah Allah SWT.
Terlihat sederhana, tapi produktif dan solutif.
Saya kira, para pemimpin negeri ini masih muslim.
Mereka masih sholat, menyembah Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Para
pembenci terhadap kebijakan pemerintah juga sama-sama sholat dengan Tuhan yang
sama-sama disembah yaitu Allah SWT. Nabi juga sama yaitu Nabi Muhammad SAW. Kedua
belah pihak sama-sama menyembah Allah SWT.
Para pemimpin dan masyarakat yang dipimpin
ternyata sama-sama umat Rasulullah SAW. Saya hanya membayangkan betapa malu nya
kita saat dihadapan Allah dan Rasul-Nya di Hari Kiamat, ternyata orang-orang
yang dilecehkan dan dihancurkan martabatnya sehancur-hancurnya ternyata lebih
mulia dari kita. Betapa malunya kita saat itu.
Disisi lain kita juga malu, jika dihadapan Allah
dan Rasul-Nya kita tidak mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap kurang
benar. Mengkritisi yang konstruktif. Jika anda pakar hukum, mengkritisi
sekaligus memberi solusi. Anda pakar ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Punya
tanggungjawab sama dalam wilayah yang berbeda-beda.
Silahkan duduk bareng. Para pejabat dengan
rakyat. Ngobrol bareng sambil ngopi. Jauhkan sifat dengki. Anggap saja semua
sahabat, bahkan kalau bisa panggil saja sahabat. Mungkin cara seperti ini
sebagian kebuntuan bisa diselesaikan dan saling memahami persoalan secara utuh.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874