
Wisuda mempunyai makna seseorang yang telah
menyelesaikan proses kuliah di jenjang S1, S2 dan S3. Maka kata wisuda tidak
tepat jika diadakan pada tingkat PAUD, SD, SMP atau SMA.
Seperti perkawinan. Yang boleh akad nikah jika
kedua calon suami-istri sudah memenuhi persyaratan dari segi umur. Jika sudah ijab-qabul,
maka acara selanjutnya yaitu tasyakuran atau kenduri. Acara kenduri bagi
mahasiswa sering disebut wisuda. Itu sebabnya, Tingkat PAUD-SMA belum layak
melakukan acara wisuda. Belum cukup umur.
Diadakan wisuda pada jenjang perguruan
tinggi sebagai simbol dari kedewasaan berfikir, kematangan spiritual, dan
kemandirian untuk melakukan terbaik pada masa depannya. Artinya pada diri
wisudawan ada indikator kematangan pribadi antara lain terletak pada pola
berfikir, berdzikir, dan berkarir atau menentukan masa depannya.
Pada moment wisuda di IAIN Datuk Laksemana
Bengkalis tahun 2025 beberapa waktu lalu, penulis melihat wajah-wajah para
wisudawan. Tampan-tampan dan cantik-cantik. Saya mengenal sebagian mereka.
Kadang saya bergurau layaknya teman, kadang juga menasihati layaknya Sang
Begawan. Kadang saya juga membentak layaknya seorang ayah atau seorang ibu yang
melahirkan. Kadang juga terkadang-pada moment tertentu-mereka hadir dalam
keadaan yang sangat menyebalkan. Hari berikutnya, tidak ada mereka terkadang
ada rasa rindu saat datang di ruangan ku, berdiskusi dan mereka berharap saya
bisa menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Sungguh suasana empat
tahun-bahkan ada yang lebih-membuat hubungan saya-atau para dosen- dengan para
mahasiswa benar-benar seperti keluarga besar yang memungkinkan adanya canda
tawa, ada tangisan, konflik, dan lalu duduk bersama, makan satu nampan bersama
atau kadang makan nasi bungkus bareng-bareng.
Saya melihat mereka. Ada senyum dan tawa,
suka dan duka, kadang jika ingat beberapa sisi persoalan mereka ingin juga
meneteskan air mata.
Para mahasiswa akan memasuki dunia baru.
Ada tantangan yang lebih berat dari sekadar mendengar orasi ilmiah, diskusi,
kegiatan kemahasiswaan atau menyuarakan wakil masyarakat atas berbagai
persoalan yang dianggap oleh mereka suatu persoalan serius yang harus
diselesaikan.
Para mahasiswa saat mereka masih
menggunakan baju almamater akan terlihat sangat bermakna kata “Maha” di depan
kata “Siswa”. Ketika dua kata digabung menjadi “mahasiswa”, ada dalam benak
mereka adalah status tertinggi dari siswa-siswa dan bahkan paling tinggi dalam
kasta pencari ilmu.
Tidak ada atau jarang suatu pendidikan atau
profesi menggunakan kata “Maha”. Sangat sulit mencari nya. Kecuali di Perguruan
Tinggi. Di Pesantren malah menggunakan kata “santri” yang mempunyai arti orang
yang sedang menuntut ilmu agama. Panggilan sehari-hari biasanya menggunakan
kata” Kang” untuk seluruh umur. Besar kecil sama-sama memanggil “Kang”.
Suatu panggilan mencerminkan keberhasamaan, kesetaraan dan keakraban.
Kita hanya sering mengenal kata “maha”
untuk Sang Pencipta, yaitu Maha besar, Maha mengetahui, Maha adil dan
lain-lain.
Mungkin juga karena kata “Maha”, jika
mahasiswa selalu menuntut hal-hal yang berkaitan dengan kesempurnaan. Karena
memang kata “maha” selalu digunakan atau diberikan kepada Yang Maha Sempurna,
yaitu Allah SWT.
Ketika telah wisuda, kata mahasiswa akan
berubah menjadi alumni dan mendapatkan gelar sarjana. Maknanya ahli ilmu.
Bahasa Sanskerta menyebutnya”sravaka” artinya pengikut ajaran spiritual.
Kata ini mengalami penyempitan makna menjadi seseorang lulusan pada bidang
keahlian tertentu.
Jika dipahami dari dua makna tersebut,
seorang sarjana pada dirinya mempunyai ketajaman spiritual karena kemampuan
memahami esensi agama secara benar. Disisi lain ia juga mempunyai kemampuan
dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang ada pada dirinya dan
orang lain. Itu makna sarjana.
Namun ada juga ada di sekitar kita tidak mempunyai
gelar sarjana dan tidak pernah wisuda. Kadang pemikirannya melampaui jenjang
akademik. Kehidupan sehari-hari dengan lingkungan di sekitarnya telah melatih
dirinya mempunyai “ilmu rasa”. Ia sedih saat melihat tanah gundul. Lalu ia
melakukan kegiatan yang sangat spektakuler, yaitu dengan kesadaran hati
mengubah hutan gundul menjadi hutan buatan. Pelan tapi pasti menanam sedikit
demi sedikit. Ia tidak cari muka, tidak juga cari perhatian dari pemerintah. Ia
melakukan panggilan jiwa dalam rangka menyelamatkan bumi dari kehancuran
ekologi.
Saya pernah ketemu orang tua nama nya pak Jamal
atau mbah Jamal. Usia sekitar 70 tahun. Ia tinggal di pinggir hutan jati. Mbah Jamal
menceritakan kepadaku tentang kisah masa kecil nya yaitu menanam pohon jati. Ketika
pohon tersebut telah tumbuh tinggi dan besar, ia tidak pernah menebang sama
sekali. ia hanya mengambil ranting-ranting yang jatuh sendiri karena sudah rapuh.
Diambil dan digunakan untuk bahan bakar saat masak di dapur.
“Saya tidak mau merusak hutan. Tuhan melarang
kita merusak nya” katanya.
Rumah mbah Jamal sangat sederhana. Terbuat dari
kayu. Lantainya dari batu bata. Tidak besar. Terlalu sederhana untuk ukuran rumah
sekarang ini. Bahkan sangat pantas jika ia mendapatkan bantuan PKH atau BLT. Tapi
prinsip hidup yang sederhana dan keikhlasannya mengabdi kepada keselamatan
hutan telah menempatkan dia sebagai pribadi yang agung. Miskin harta, tapi punya
jiwa yang sangat mulia. hidup untuk menjaga alam semesta. Mbah Jamal, tidak
pernah kuliah, tidak pernah wisuda, tapi alam telah menjadikan dia berfikir
melampaui seorang sarjana lulusan perguruan tinggi.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872