Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Wisuda Kehidupan



Senin , 01 Desember 2025



Telah dibaca :  310

Wisuda mempunyai makna seseorang yang telah menyelesaikan proses kuliah di jenjang S1, S2 dan S3. Maka kata wisuda tidak tepat jika diadakan pada tingkat PAUD, SD, SMP atau SMA.

Seperti perkawinan. Yang boleh akad nikah jika kedua calon suami-istri sudah memenuhi persyaratan dari segi umur. Jika sudah ijab-qabul, maka acara selanjutnya yaitu tasyakuran atau kenduri. Acara kenduri bagi mahasiswa sering disebut wisuda. Itu sebabnya, Tingkat PAUD-SMA belum layak melakukan acara wisuda. Belum cukup umur.

Diadakan wisuda pada jenjang perguruan tinggi sebagai simbol dari kedewasaan berfikir, kematangan spiritual, dan kemandirian untuk melakukan terbaik pada masa depannya. Artinya pada diri wisudawan ada indikator kematangan pribadi antara lain terletak pada pola berfikir, berdzikir, dan berkarir atau menentukan masa depannya.

Pada moment wisuda di IAIN Datuk Laksemana Bengkalis tahun 2025 beberapa waktu lalu, penulis melihat wajah-wajah para wisudawan. Tampan-tampan dan cantik-cantik. Saya mengenal sebagian mereka. Kadang saya bergurau layaknya teman, kadang juga menasihati layaknya Sang Begawan. Kadang saya juga membentak layaknya seorang ayah atau seorang ibu yang melahirkan. Kadang juga terkadang-pada moment tertentu-mereka hadir dalam keadaan yang sangat menyebalkan. Hari berikutnya, tidak ada mereka terkadang ada rasa rindu saat datang di ruangan ku, berdiskusi dan mereka berharap saya bisa menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Sungguh suasana empat tahun-bahkan ada yang lebih-membuat hubungan saya-atau para dosen- dengan para mahasiswa benar-benar seperti keluarga besar yang memungkinkan adanya canda tawa, ada tangisan, konflik, dan lalu duduk bersama, makan satu nampan bersama atau kadang makan nasi bungkus bareng-bareng.

Saya melihat mereka. Ada senyum dan tawa, suka dan duka, kadang jika ingat beberapa sisi persoalan mereka ingin juga meneteskan air mata.

Para mahasiswa akan memasuki dunia baru. Ada tantangan yang lebih berat dari sekadar mendengar orasi ilmiah, diskusi, kegiatan kemahasiswaan atau menyuarakan wakil masyarakat atas berbagai persoalan yang dianggap oleh mereka suatu persoalan serius yang harus diselesaikan.

Para mahasiswa saat mereka masih menggunakan baju almamater akan terlihat sangat bermakna kata “Maha” di depan kata “Siswa”. Ketika dua kata digabung menjadi “mahasiswa”, ada dalam benak mereka adalah status tertinggi dari siswa-siswa dan bahkan paling tinggi dalam kasta pencari ilmu.

Tidak ada atau jarang suatu pendidikan atau profesi menggunakan kata “Maha”. Sangat sulit mencari nya. Kecuali di Perguruan Tinggi. Di Pesantren malah menggunakan kata “santri” yang mempunyai arti orang yang sedang menuntut ilmu agama. Panggilan sehari-hari biasanya menggunakan kata” Kang” untuk seluruh umur. Besar kecil sama-sama memanggil “Kang”. Suatu panggilan mencerminkan keberhasamaan, kesetaraan dan keakraban.

Kita hanya sering mengenal kata “maha” untuk Sang Pencipta, yaitu Maha besar, Maha mengetahui, Maha adil dan lain-lain.

Mungkin juga karena kata “Maha”, jika mahasiswa selalu menuntut hal-hal yang berkaitan dengan kesempurnaan. Karena memang kata “maha” selalu digunakan atau diberikan kepada Yang Maha Sempurna, yaitu Allah SWT.

Ketika telah wisuda, kata mahasiswa akan berubah menjadi alumni dan mendapatkan gelar sarjana. Maknanya ahli ilmu. Bahasa Sanskerta menyebutnya”sravaka” artinya pengikut ajaran spiritual. Kata ini mengalami penyempitan makna menjadi seseorang lulusan pada bidang keahlian tertentu.

Jika dipahami dari dua makna tersebut, seorang sarjana pada dirinya mempunyai ketajaman spiritual karena kemampuan memahami esensi agama secara benar. Disisi lain ia juga mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang ada pada dirinya dan orang lain. Itu makna sarjana.

Namun ada juga ada di sekitar kita tidak mempunyai gelar sarjana dan tidak pernah wisuda. Kadang pemikirannya melampaui jenjang akademik. Kehidupan sehari-hari dengan lingkungan di sekitarnya telah melatih dirinya mempunyai “ilmu rasa”. Ia sedih saat melihat tanah gundul. Lalu ia melakukan kegiatan yang sangat spektakuler, yaitu dengan kesadaran hati mengubah hutan gundul menjadi hutan buatan. Pelan tapi pasti menanam sedikit demi sedikit. Ia tidak cari muka, tidak juga cari perhatian dari pemerintah. Ia melakukan panggilan jiwa dalam rangka menyelamatkan bumi dari kehancuran ekologi.

Saya pernah ketemu orang tua nama nya pak Jamal atau mbah Jamal. Usia sekitar 70 tahun. Ia tinggal di pinggir hutan jati. Mbah Jamal menceritakan kepadaku tentang kisah masa kecil nya yaitu menanam pohon jati. Ketika pohon tersebut telah tumbuh tinggi dan besar, ia tidak pernah menebang sama sekali. ia hanya mengambil ranting-ranting yang jatuh sendiri karena sudah rapuh. Diambil dan digunakan untuk bahan bakar saat masak di dapur.

“Saya tidak mau merusak hutan. Tuhan melarang kita merusak nya” katanya.

Rumah mbah Jamal sangat sederhana. Terbuat dari kayu. Lantainya dari batu bata. Tidak besar. Terlalu sederhana untuk ukuran rumah sekarang ini. Bahkan sangat pantas jika ia mendapatkan bantuan PKH atau BLT. Tapi prinsip hidup yang sederhana dan keikhlasannya mengabdi kepada keselamatan hutan telah menempatkan dia sebagai pribadi yang agung. Miskin harta, tapi punya jiwa yang sangat mulia. hidup untuk menjaga alam semesta. Mbah Jamal, tidak pernah kuliah, tidak pernah wisuda, tapi alam telah menjadikan dia berfikir melampaui seorang sarjana lulusan perguruan tinggi. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872