
Dulu saat saya masih belajar di pesantren
-santri- sering tidak masuk sekolah. Bukan karena malas, tapi karena orang tua
jarang mengirim “wesel” untuk biaya sekolah dan biaya hidup di pesantren. Dulu
mengirim duit melalui kantor pos, belum ada e-banking. Saya harus membiayai
diri sendiri dengan bekerja serabutan di siang hari. Akibatnya sekolah dinniyah
sering alpa.
Saya mendapatkan surat pemanggilan. Di bawa ke kantor keamanan pesantren. Diinterograsi dengan segala pertanyaan. Kebetulan petugas keamanan teman ku. Dia agak segan. Bingung mau menghukum ku. Lalu saya dihadapkan ke Kapolda Pesantren. Saya disuruh milih hukuman. Saya memilih membersihkan seluruh WC milik ustadz. Saya memilih dan saya sangat menikmati membersihkan WC guru-guru ku. dalam hati saya berkata: “Semoga saya kecipratan berkah dari guru-guru ku”.

Selasa siang (02 Oktober 2025) merupakan
jadwal gorong royong membersihkan lingkungan. Tendik membersihkan di pagi hari,
saya dan ormawa memilih siang hari. Alasannya sederhana: pertama, agar proses
perkuliahan tetap berjalan normal; kedua, agar proses pendaftaran wisuda
berjalan lancar; ketiga karena surat edaran tidak menyebutkan waktu kegiatan. Jadi
gorong royong lebih fleksibel.
Rencana kegiatan dimulai setelah sholat dhuhur. Udara
sangat panas. Saya berfikir jika hanya 10 mahasiswa yang datang, gotong royong
tetap dimulai. Menjelang jam 15.00, mahasiswa berdatangan. Mbludag. Sekitar 70
mahasiswa dari berbagai ormawa.
“Era digital adalah era presepsi. Perjuangan,
jihad dan kebenaran akan masuk tong sampah dan tidak dilihat oleh manusia
ketika kebaikan tersebut tidak didakwahkan melalui media sebagai bagian
membangun presepsi positif. Itu sebabnya pekerjaan yang produktif, konstruktif,
dan positif harus menguasai media sosial dan online dalam rangka membangun
presepsi positif tentang makna jihad dalam kontek yang lebih luas” kata ku saat
memberi pengarahan.
Setelah memberi pengarahan, saya membagi
dua tugas besar. Sebagian membersihkan sampah, sebagian membersihkan WC. Mungkin
mahasiswa yang kebagian memungut sampah di lingkungan kampus tidak terlalu terbebani.
Saya sedikit sangsi kepada mahasiswa yang membersihkan WC. Kita sudah ma’lum,
ini adalah tempat yang paling “angker” di kampus. Kita datang kalau pas
butuh, dilupakan pas tidak butuh. Hanya orang-orang yang punya maqam “jadab”
saja yang suka di tempat-tempat angker seperti ini.
“Apakah ada yang mau membersihkan WC?” batinku bertanya. Saya melangkah ke gedung dekat mushola. Saya mencari korok WC, pembersih lantai dan sapu. Saat saya membersihkan, ada mahasiswa yang meminta agar ia yang membersihkan. Akhirnya kami sama-sama membersihkan WC.

Saya ngecek satu-satu gedung pembelajaran
tiga jurusan. Di antara mereka ada yang sangat menyukai kegiatan bersih-bersih
tersebut. tentu saja saya pun harus ikut membersihkan.
Saya tersenyum, ternyata di antara
mahasiswa ada yang seperti aku, suka membersihkan WC Guru saat saya masih di
pesantren. Entah kenapa, saya melihat mereka penuh dengan kebanggaan saat
wajah-wajah ketulusan mahasiswa gotong royong membersihkan lingkungan kampus.
Tentu saja ini hanya sebatas kegiatan
biasa-biasa saja. Saya merancang kegiatan ini pun tidak sebatas kegiatan pada
peringatan world clean up day -WCD-semata. suatu saat saya pun akan merancang
kegiatan ini sebagai kegiatan bulanan ormawa untuk mencintai lingkungan kampus
yang bersih dan nyaman. Tentu saja saya harus ikut serta di dalamnya. Saya akan
mengajak mereka dan menyakinkan mereka bahwa mencintai lingkungan bagian dari
mencintai sang pencipta lingkungan yaitu allah swt.
Setelah kegiatan WCD bersama ormawa, kami
juga sudah merancang kegiatan NBO, yaitu Ngaji Bareng Ormawa. Ini juga bulanan.
Ngaji sekaligus evaluasi kegiatan ormawa. Nanti yang ngaji bisa dari kalangan
dosen atau siapa saja, bisa juga dari kalangan mahasiswa. Tidak usah
banyak-banyak. Kultum -kuliah atau ngaji tujuh menit. Setelah itu rembugan
bulanan kegiatan ormawa.
Masuk bulan Oktober hingga Desember sangat
banyak agenda kegiatan mahasiswa-juga jurusan dan prodi-, yaitu kegiatan dengan
anggaran DIPA. Saya membiarkan mereka berkreasi. Tapi harus ada dua syarat yang
harus dipenuhi: pertama, setiap kegiatan harus rembugan bareng dengan
pembinannya; kedua setiap kegiatan harus memperhatikan aspek kebersihan
lingkungan. Selesai acara jangan sampai sampah berserakan. Harus bersih. Ini selalu
saya tekankan sebagai bagian dari semangat membumikan program ekoteologi:
membangun keselaran dengan lingkungan hidup dan keselarasn hubungan dengan Sang
Pencipta.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872