Pelamun yang menulis daily journal, membaca dan mencoba meramu prosa dan puisi. Berkepribadian melankolik, romantik, dan narsistik. Bisa dikenal melalui
Ig : @standbymi1
"
Tetangga saya menggantungkan bendera Jolly Roger, sebuah bendera tengkorak dengan topi jerami yang berasal dari manga ciptaan Eiichiro Oda. Bapak-bapak berkacamata tebal itu wibu juga ternyata, gumamku. Tapi bisa juga tidak. Mungkin hanya ekspresi protes.
Sejak awal Agustus bendera ini mulai muncul. Pelbagai media asing pun menyoroti fenomena ini. Menimbulkan berbagai macam reaksi. Menggulirkan narasi. Sampai kemudian Jolly Roger berkibar hampir di seluruh wilayah NKRI.
14 Agustus, Bendera yang sama berkibar saat gerbang kantor Gubernur Riau dirobohkan. Ricuh sempat tersulut ketika Mahasiswa memaksa segala yang berjaga untuk bertatap muka dengan Abdul Wahid.
Mahasiswa menuntut sikap pengambil kebijakan mengenai masalah beasiswa, masalah karhutla, dan protes terhadap rencana pembangunan pengadilan militer di lahan milik kampus. Unjuk rasa menyala dibawah kibaran Jolly Roger.
Ketika kreativitas kebijakan buntu, Pajak PBB P-2 dinaikkan 25%. Alasannya pendapatan daerah hanya Rp. 36 milyar, papar Bupati dengan laporan kekayaan senilai 31,5 milyar rupiah itu.
"Jangan hanya 5 ribu, 50 ribu massa pun silakan. Saya tidak akan gentar dan tidak akan mengubah keputusan."
Tantangan 50 ribu massa yang besar dijawab oleh warga. 1 Agustus ketika bendera merah putih mulai digantung di depan rumah, warga berduyun-duyun mengumpulkan logistik di trotoar depan kantor bupati.
Merasa terancam, Satpol-PP dikerahkan menyita kotak-kotak air mineral dan logistik-logistik di posko itu. Warga sipil tak terima. Sekonyong-konyong Sekda Pati muncul menyalak mengusir, adu mulut pun terjadi antara dua warga sipil dan pria tambun rambut cepak itu.
Hari unjuk rasa itu pun tiba, 13 Agustus 2025, Pasar sepi, ribuan massa berkumpul kantor Bupati menjadi titik amok. Meskipun Bupati sudah membatalkan kebijakan, klarifikasi dan minta maaf, tapi rakyat sudah terlanjur mencapai titik didihnya. Bendera Jolly Roger dikibarkan.
Polisi dilempari, kapolsek jadi sasaran amok massa. Aparat dan warga sipil sama-sama terluka. Gas air mata ditembakkan, namun amok rakyat tidak dapat dibubarkan. Bupati harus diturunkan.
Sekonyong-konyong bupati keluar dengan mobil lapis baja, kalah dan minta ampun. Tapi rencana pemakzulan telah digulirkan DPRD, mungkin di titik ini rakyat sedikit menang. Semua terjadi dibawah kibaran ratusan merah putih—dan bendera Jolly Roger.
Paranoia Politik.
Beberapa hari belakangan muncul statement-statement yang menunjukkan gejala paranoia politik. Istilah paranoia politik (political paranoia) pertama kali dipopulerkan oleh sejarawan Richard Hofstadter dalam esainya yang terkenal, The Paranoid Style in American Politics (1964). Istilah ini menghunjuk pada gaya berpikir politik yang dipenuhi kecurigaan berlebihan, pola pikir konspiratif, dan kecenderungan menganggap lawan politik sebagai bagian dari ancaman besar tersembunyi.
Namun yang terjadi di Indonesia, villain dari pengidap sindrom politic paranoid itu bukanlah oposisi atau sesama politikus, melainkan masyarakat wibu.
Gejala paranoia politik itu tidaklah sulit diterka. Bendera itu dituduh mengandung elemen provokasi. Berita pembredelan dilakukan. Mural bajak laut itu dihapus paksa. Saya kira mereka yang paranoid memandang bendera itu seperti bendera Isis, HTI, atau palu arit.
Sekitar 8 tahun lalu, kala saya masih menjadi anak warnet, di sebelah saya ada pria dewasa berkacamata menatap layar komputer. Bukan sedang mengerjakan tugas kuliah atau bermain game. Melainkan One Piece yang kala itu masih episode 800-an. Waktu itu para wibu baru selesai dengan Naruto Shippuden, banyak yang menduga One Piece yang sudah 800 lebih itu akan segera tamat. Salah duga, One Piece sudah episode 1112 dan belum tamat.
Bagi sebagian orang itu hanya kartun, tapi jangan sekali-kali berani mengatakan itu kartun dihadapan para wibu. One Piece adalah salah satu anime dengan penggemar yang paling militan.
Sebab memang One Piece bukanlah sekelas Upin Ipin atau Doraemon. Ada narasi besar dibalik One Piece. Yang bagi saya memukau adalah bagaimana seorang Eiichiro Oda menjadikan One Piece sebagai eksperimen ideologi. Otoriterianisme dihadapkan dengan Luffy, seorang bajak laut Liberalis Sosialis sekaligus Anarkis.
Untuk difahami, bajak laut dalam cerita tersebut bukanlah seperti lanun perompak laut yang bengis. Hemat kata mereka adalah bajak laut yang baik. Ini perlu saya katakan karena ada komentar dari seorang gen boomer yang berpandangan ini tak pantas diidolakan sebab bajak laut itu jahat.
Dunia one piece dikisahkan bahwa satu dunia dipimpin oleh satu world government yang memerintah dengan tangan besi, mengeruk sumber daya dengan serakah, penuh tindakan KKN, mengontrol narasi, mengontrol berita, mengontrol sejarah, dan kejahatan politik lainnya.
Di situasi itu muncul beberapa kelompok lanun yang berlayar mencari harta karun dan kebebasan. Ada kelompok bajak laut yang baik dan ada yang jahat. Baik yang dimaksud adalah yang melindungi pulau kecil dari penjarah atau pemerintah yang sewenang-wenang. Dan ada pula bajak laut yang malah dekat dengan pemerintah. Kelompok Bajak Laut Topi Jerami adalah yang baik, momok pemerintahan.
Pemimpin kelompok bajak laut itu, Monkey D. Luffy adalah sosok kebebasan yang memimpikan kemerdekaan bagi semua orang. Bagi rakyat kecil dia cahaya harapan. Bagi pemerintah dia adalah seorang anarki dengan bounty 3 milyar.
Tapi tidak mudah untuk memadamkan Luffy dan idenya, begitu Tengkorak Topi Jerami terbentang, otoriterianisme pun goyang. Semangat Luffy dan Nakama adalah paranoia yang menghantui para perompak harta rakyat jelata.
Maka tak heran simbol itu menjadi paranoia bagi sebagian politikus. Walaupun mereka tidak menonton One Piece.
Tidaklah sulit untuk mengetahui narasi dibalik bendera yang tiba-tiba bersaing angka penjualannya dengan merah putih itu, tanya pada AI, "apakah maksud bendera tengkorak bajak laut yang tiba-tiba dikibarkan?" Dan AI memberikan semua jawaban yang kemudian membuat mereka tantum.
Hari ini Rakyat berpesta merayakan sejarah deklarasi kemerdekaan. Pesta-pesta rakyat diadakan dibawah naungan Merah Putih, dan beberapa Simbol Jolly Roger. Setidaknya untuk hari ini Rakyat benar-benar merdeka. Dan nanti semoga Rakyat benar-benar merdeka.
Dirgahayu Indonesia. Dirgahayu juga Kiki. Semoga semuanya serta mulia.
Penulis : A. Ushfuri
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870