Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kadang Kita Juga Ingin Seperti Anak-Anak



Selasa , 31 Januari 2023



Telah dibaca :  277

Ketika sudah mempunyai pasangan hidup dan sudah berjalan beberapa tahun ada pada diri mereka mempunyai rasa rindu pada dunia anak-anak. Apakah rindu dalam bentuk majazi ataupun hakiki. Secara majazi, pasangan kita selalu hadir ingin dimanja, dibelai rambutnya, dan dikecup keningnya. Seorang suami yang baru saja pulang dari kantor, ingi sekali dimanja dengan sambutan dari istrinya dengan wajah ceriah, senyum yang merdeka. Lalu istri mencium tangannya dan membawa tas suami sambil menggandeng tangan kanan suaminya dengan sikap kemayu dan menggoda.

Baca Juga:

Cita-cita saat masih SLTA

Itu gambaran secara umum kehidupan keluarga. Tidak peduli siapapun mereka; pejabat dari level tertinggi sampai orang-orang pada umumnya yang berada di permukaan bumi. Ketika berbicara pada persoalan ingin diperhatikan dengan penuh kasih sayang, maka sudah berbicara tentang kelembutan hati dan perasaan, bukan pada kecerdasan intelektual. Seorang pasangan yang sudah memasuki usia di atas 40 tahun kadang berbicara atas dasar realita diri yang sudah tidak muda lagi. Pikiran ilmiahnya semakin menjadi-jadi. Dia melihat pasanganya sudah tidak secantik dulu, tidak sehangat dan senikmat saat masih menjadi pengantin baru. Apalagi saat anak-anaknya sudah besar dan sudah beranjak dewasa. Kondisi seperti ini sering kehilangan rasa dan mendahulukan realita dengan kalimat yang mafhum seperti ini: “Sudah tua, malu lah dilihat anak-anak”.

Kalimat sejenisnya sering kita dengar dengan redaksi yang berbeda-beda. Tapi intinya sama. Seolah-olah dunia “bermanja-manja” hanya untuk untuk pasangan pengantin yang masih honeymoon, dan makruh (kalau tidak mau disebut haram) untuk pasangan yang sudah berumur di level kepala 4, 5, 6 dan seterusnya. Sering pasangan kita saat memasuki level tersebut melupakan hakikat manusia yang lahir dari naluri dulu dan baru berkembang akal saat mereka sudah meningkat baligh. Bahkan saat level ini pun naluri yang dibungkus dengan dorongan nafsu sering mengalahkan akal itu sendiri. Padahal naluri adalah kebutuhan dasar. Ada saat-saat kesepian saat anak-anak sudah besar, sudah menikah dan sudah ikut dengan pasangannya. Pada saat seperti ini, kedua nya harus belajar memahami perasaan pasangan dalam kondisi apapun menjadi sangat penting. Sungguh tidak adil apabila ingin menang sendiri, namun juga harus belajar mengerti perasaan pasanganya. Jangan sampai dengan segala keterbatasan, egoism dengan kalimat “Ah sudah tua, jangan genit ah” menjadi pembenar diri, sedangkan pada saat-saat tertentu anda pun membutuhkan perhatian dari pasangan anda. Sebab anda pasti juga kecewa, sedih dan marah saat pasaangan anda membalas komentar sebagaimana yang anda berikan kepada pasangan anda bukan?

Baca Juga:

Belajar ku Melihat mu dengan Senyum

Secara hakiki, Dunia anak-anak adalah dunia lucu dan menggemaskan. Dunia anak adalah Dunia kehidupan yang sesungguhnya. Mereka adalah gambaran Surga kehidupan di dunia. semua nya selalu saja membuat kita tersenyum dan tertawa. Saat mereka bermain dengan segala kekurangan tidak menjadi bagian dari kekurangan. Kita selalu bahagia melihatnya. Kadang karena ingin mendengar tangisannya, kita pun mencubitnya sampai dia menangis. Tapi di sekitarnya semua tertawa bahagia.

Anak-anak tentu tidak tahu dan tidak mau tahu keadaan orang tuanya; apakah orang tua nya lagi sedih atau bahagia, punya uang atau tidak punya uang. Mereka belum mempunyai intelejensi pada pikiran yang jlimet-jlimet persoalan kehidupan mulai dari persoalan PHK, kebutuhan pokok naik, hujan terus dan para petani sebagian gagal panen hasil pertaniannya. Yang ada dalam pikiranya adalah segala permintaannya dituruti. Orang tuanya kadang harus rela mengurangi asupan gizi untuk nya agar anak-anaknya sehat, bisa beli baju sekolah, dan bisa menyiapkan sarapan dan uang jajan saat mereka istrihat di sela-sela belajar nya. secara diam-diam orang tua menggadekan SK ASN, Surat Tanah, pinjam uang kesana-kesini dan masuk-keluar Kantor karena melamar mencari pekerjaan. Semua adalah untuk kebahagiaan anak-anaknya. Sebab orang tua menyadari bahwa anugerah terbesar dalam keluarga adalah anak-anaknya. Apapun akan dilakukan agar anak-anaknya bisa bahagia.

Kenapa demikian? Jawabanya mereka ingin anak-anaknya sukses, bahagia dan hidup penuh keberkahan. Orang tua ingin agar segala penderitaan hanya untuk nya dan jangan sampai anak-anaknya mengalami hal-hal yang serupa. Sering kita mendengar;”biarkan kita menderita, yang penting anak-anak bahagia.”

Pada taraf tertentu ungkapan di atas bisa dibenarkan sebagai bentuk kecintaan kepada anak-anaknya. Memang demikian hakikat orang yang mencintai sesuatu selalu saja siap mengorbankan demi orang yang dicintainya. Namun mencintai tidak selalu memberikan segala hal-hal yang menyenangkan bagi anak-anaknya. Karena hal ini menyebabkan anak rapuh. Anak-anak saat mereka memasuki perkembangan akal dan mulai melihat arti benar dan tidak benar, orang tua harus menambah ‘menu’ kasih-sayang dengan menu-menu yang terlihat pahit, tapi menyehatkan bagi anak-anaknya.

Anak-anak kita adalah tongkat estafet peradaban. Mereka bukan generasi terputus yang terputus dari masa lalu, tapi generasi yang akan merangkai jembatan peradaban secara utuh. Orang tua dalam mewujudkan cita-cita tersebut tentu tidak saja menyediakan segala apa-apa yang terlihat menyenangkan. Mereka juga harus menyediakan ‘jamu kehidupan’ agar anak-anaknya hidup dengan kesempurnaan yaitu mengenal hakikat kehidupan yang terdiri dari dua sisi yang sering berlawanan. Ada miskin, ada kaya, ada senang ada susah, ada sehat dan sakit. Memberikan pemahaman yang utuh dan memberikan ajaran-ajaran kehidupan yang benar makna kebahagiaan yang kekal abadi.

Sebagai penutup tulisan ini, Penulis teringat doa nabi Ibrahim sebagai berikut:

“ Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak-anak yang sholeh.”, doa lain “ Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pandangan mata yang menyejukkan dari para istri dana anak-anak keturunan kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884