
[Wahyu Makutharama Bag-2]
Lanjutan..
c). Wayang Kulit. Seni pagelaran Wayang
Kulit mempunyai sejarah panjang sebagai hubungan budaya lintas bangsa; India
dan Jawa. Jika merujuk pada usia agama Hindu lahir perkiraan tahun 2300 dan
1500 Sebelum Masehi[SM]. Sedangkan agama Hindu masuk ke Indonesia pada 78
masehi. Akulturasi budaya India dan Jawa
terjadi saat agama hindu menjadi bagian agama besar di Indonesia. Maka wajar
apabila dalam kisah fiksi melegenda di India seperti kisah Mahabarata dan
Ramayana ada di cerita pewayangan di Indonesia. Namun ada sedikit perbedaan
nama-nama tokoh di Pewayangan. Pada pegelaran Wahyu Makutharama di Kapolres
penulis menemukan nama-nama yang tidak sama di versi India. Puntadewa sebagai Raja di kalangan pandawa,
sedangkan di India menggunakan nama Yudistira. Krisna dalam pewayangan menjadi
Kresna. Bima dalam pewayangan menjadi Werkudara.
Ketika Tradisi Wayang Kulit hidup di tengah-tengah masyarakat Jawa, Sunan Kalijaga sebagai ulama sekaligus seniman asli kelahiran Jawa sangat mengerti psikologi kehidupan masyarakat Jawa. Apalagi dia berlatar seorang Bangsawan sebagai anak Raja, tentu referensi nilai-nilai kebajikan yang diajarkan oleh para guru, para resi, sebagai penasehat Kerajaan menyebabkan dirinya memahami secara utuh budaya wayang serta nilai-nilai filosofisnya mulai dari alat musiknya sampai kepada karakter-karakter tokoh dalam pewayangan. Namun demikian, ada perubahan-perbuahan nilai-nilai filosofis di pewayangan versi India yang mengndung ajaran Hindu diganti dengan nilai-nilai ajaran Islam. Salah satu berkaitan dengan sistem perkawinan yang ada di Pandawa. Jika pada versi India, Drupadi menjadi istri seluruh Pandawa [Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa]. Perkawinan sistem poliandri dalam kisah India dirubah oleh Sunan Kalijaga dengan monogami dan poligami. Hal ini merupakan cara Sunan Kalijaga memperkenalkan syariat Islam kepada masyarakat.
Baca juga:
Semar dan Togog, Bisakah Menyatu?
Sunan kalijaga juga memperkenalkan istilah
Punokawan. Jika di Negara-Negara Islam pada masa kejayaan Islam kita mengenal
tentang kisah Abu Nawas yang menjadi penghibur para Khalifah. Sebagai seorang
ulama sekaligus budayawan, Sunan kalijaga memperkenalkan istilah Punakawan. Ini
tidak ada di versi India. Punokawan itu sendiri mempunyai arti sebagai ‘penderek’
atau pengikut para kesatria. Nama-nama mereka yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sedangkan
Punokawan di Kurawa ada yang bernama Togog dan Bilung.
Sunan Kalijaga menggambarkan kematangan dan
kedewasaan kecerdasan lahir, dan batin dan kemampuan intelektual yang mapan ada
pada kelompok Pandawa. Mereka adalah orang yang lulus Ujian Nasional kehidupan.
Kemampuan menutup Pintu-Pintu Sanga [Sembilan] untuk menuju kepada Sang Hiyang
Widhi[Tuhan] yang menyebabkan derajatnya diangkat oleh Allah s.w.t. ini yang
kemudian lahir istilah “Aji” yaitu melahirkan kekeramatan dan
kedigdayaan yang mampu mengalahkan 100 orang Kurawa. Proses menjadi manusia aji
karena melalui tirakat “ngaji”[menutup Pintu Sanga atau Sembilan yaitu
mata, telinga, hidung, mulut dan dua kemaluan hanya untuk menuju kepada siji[satu
atau Sang Hiyang Widhi yaitu Allah s.w.t]. Jadi, hanya orang-orang yang
benar-benar keramat dan tidak mempan atau kebal dari seluruh senjata adalah
mereka yang mendekat kepada Allah s.w.t. kebal disini adalah metafora
dari terbebas dari Api Neraka.
Pandawa berjumlah lima adalah suatu fakta kehidupan bahwa orang-orang yang merambah jalan kebaikan dan konsisten di jalan tersebut terlalu sedikit dibandingkan dengan orang-orang yang menurut nafsu syayiah [nafsu angkara murka]. Orang-orang yang menuruti nafsu angkara murka disimbolkan kelompok Kurawa yang berjumlah 100 orang. Walaupun mereka mempunyai jumlah banyak, namun tidak konsisten terhadap nilai-nilai pesan ilahiyah, akhirnya bergururan di Lapangan Kurusetra.
Baca juga:
Kumbakarna, Banser dan Nasionalisme
Kurawa sebenarnya bukan kelompok orang
tersesat. Mereka sama seperti kita adalah kelompok yang sedang mencari
kebenaran namun belum menemukan jalan kearah tersebut. Mereka terus berusaha dan
mengalami pertarungan yang antara nafsu dan akal. Mereka sadar saat kekalahan
terjadi pada dirinya dan korban bergelimpangan dimana-mana. Namun kesadaran
tersebut tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Penyesalan sudah tidak
berguna lagi. Apa yang perlu diperbaiki adalah masa kin dan yang akan datang.
Saya dan anda oleh Sunan Kalijaga
digambarkan Pandawa dan Kurawa. Kita bisa mempunyai kedua sifat tersebut.
Bahkan kita bisa menjadi Pandawa secara totalitas dan pada saat yang lain
menjadi Kurawa secara kaffah. Pada diri kita ada Punokawan yang selalu
membisikan kebaikan yang bernama Semar [akal dan nafsu mutmainah]. Namun disisi
kiri ada Punokawan lain yang bernama Togog dan Bilung yang senantiasa mengajak
untuk menuruti nafsu dan syahwat. Bisikan-bisikan yang hadir adalah pertarungan
yang nyata tentang makna Perang Baratayuda. Namun kita juga harus bisa
mengambil pelajaran, bahwa akhir Pertarungan Baratayuda adalah kebenaran dan
keadilan.
Kita tidak tahu apakah kita berhasil dalam
peperangan melawan hawa nafsu kita sendiri?. Siapapun kita dan apapun kedudukan
di tengah masyarakat, pertarungan besar yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga adalah
Pertarungan Baratayuda yang ada pada diri sendiri. Bukan kata nabi perang yang
paling besar adalah perang melawan hawa nafsu?
Penulis : Imam Ghozali
Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   174
Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14363
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6064
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5513
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4676
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4444