Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Semar dan Togog Bisakah Menyatu?



Sabtu , 04 Februari 2023



Telah dibaca :  618

[Wahyu Makutharama Bag-2]

Lanjutan..

c). Wayang Kulit. Seni pagelaran Wayang Kulit mempunyai sejarah panjang sebagai hubungan budaya lintas bangsa; India dan Jawa. Jika merujuk pada usia agama Hindu lahir perkiraan tahun 2300 dan 1500 Sebelum Masehi[SM]. Sedangkan agama Hindu masuk ke Indonesia pada 78 masehi.  Akulturasi budaya India dan Jawa terjadi saat agama hindu menjadi bagian agama besar di Indonesia. Maka wajar apabila dalam kisah fiksi melegenda di India seperti kisah Mahabarata dan Ramayana ada di cerita pewayangan di Indonesia. Namun ada sedikit perbedaan nama-nama tokoh di Pewayangan. Pada pegelaran Wahyu Makutharama di Kapolres penulis menemukan nama-nama yang tidak sama di versi India.  Puntadewa sebagai Raja di kalangan pandawa, sedangkan di India menggunakan nama Yudistira. Krisna dalam pewayangan menjadi Kresna. Bima dalam pewayangan menjadi Werkudara.

Ketika Tradisi Wayang Kulit hidup di tengah-tengah masyarakat Jawa, Sunan Kalijaga sebagai ulama sekaligus seniman asli kelahiran Jawa sangat mengerti psikologi kehidupan masyarakat Jawa. Apalagi dia berlatar seorang Bangsawan sebagai anak Raja, tentu referensi nilai-nilai kebajikan yang diajarkan oleh para guru, para resi, sebagai penasehat Kerajaan menyebabkan dirinya memahami secara utuh budaya wayang serta nilai-nilai filosofisnya mulai dari alat musiknya sampai kepada karakter-karakter tokoh dalam pewayangan. Namun demikian, ada perubahan-perbuahan nilai-nilai filosofis di pewayangan versi India yang mengndung ajaran Hindu diganti dengan nilai-nilai ajaran Islam. Salah satu berkaitan dengan sistem perkawinan yang ada di Pandawa. Jika pada versi India, Drupadi menjadi istri seluruh Pandawa [Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa]. Perkawinan sistem poliandri dalam kisah India dirubah oleh Sunan Kalijaga dengan monogami dan poligami. Hal ini merupakan cara Sunan Kalijaga memperkenalkan syariat Islam kepada masyarakat.

Baca juga:

Wahyu Makutharama bag-1

Semar dan Togog, Bisakah Menyatu?

Sunan kalijaga juga memperkenalkan istilah Punokawan. Jika di Negara-Negara Islam pada masa kejayaan Islam kita mengenal tentang kisah Abu Nawas yang menjadi penghibur para Khalifah. Sebagai seorang ulama sekaligus budayawan, Sunan kalijaga memperkenalkan istilah Punakawan. Ini tidak ada di versi India. Punokawan itu sendiri mempunyai arti sebagai ‘penderek’ atau pengikut para kesatria. Nama-nama mereka yaitu  Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sedangkan Punokawan di Kurawa ada yang bernama Togog dan Bilung.

Sunan Kalijaga menggambarkan kematangan dan kedewasaan kecerdasan lahir, dan batin dan kemampuan intelektual yang mapan ada pada kelompok Pandawa. Mereka adalah orang yang lulus Ujian Nasional kehidupan. Kemampuan menutup Pintu-Pintu Sanga [Sembilan] untuk menuju kepada Sang Hiyang Widhi[Tuhan] yang menyebabkan derajatnya diangkat oleh Allah s.w.t. ini yang kemudian lahir istilah “Aji” yaitu melahirkan kekeramatan dan kedigdayaan yang mampu mengalahkan 100 orang Kurawa. Proses menjadi manusia aji karena melalui tirakat “ngaji”[menutup Pintu Sanga atau Sembilan yaitu mata, telinga, hidung, mulut dan dua kemaluan hanya untuk menuju kepada siji[satu atau Sang Hiyang Widhi yaitu Allah s.w.t]. Jadi, hanya orang-orang yang benar-benar keramat dan tidak mempan atau kebal dari seluruh senjata adalah mereka yang mendekat kepada Allah s.w.t. kebal disini adalah metafora dari terbebas dari Api Neraka.

Pandawa berjumlah lima adalah suatu fakta kehidupan bahwa orang-orang yang merambah jalan kebaikan dan konsisten di jalan tersebut terlalu sedikit dibandingkan dengan orang-orang yang menurut nafsu syayiah [nafsu angkara murka]. Orang-orang yang menuruti nafsu angkara murka disimbolkan kelompok Kurawa yang berjumlah 100 orang. Walaupun mereka mempunyai jumlah banyak, namun tidak konsisten terhadap nilai-nilai pesan ilahiyah, akhirnya bergururan di Lapangan Kurusetra.

Baca juga:

Kumbakarna, Banser dan Nasionalisme

Kurawa sebenarnya bukan kelompok orang tersesat. Mereka sama seperti kita adalah kelompok yang sedang mencari kebenaran namun belum menemukan jalan kearah tersebut. Mereka terus berusaha dan mengalami pertarungan yang antara nafsu dan akal. Mereka sadar saat kekalahan terjadi pada dirinya dan korban bergelimpangan dimana-mana. Namun kesadaran tersebut tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Penyesalan sudah tidak berguna lagi. Apa yang perlu diperbaiki adalah masa kin dan yang akan datang.

Saya dan anda oleh Sunan Kalijaga digambarkan Pandawa dan Kurawa. Kita bisa mempunyai kedua sifat tersebut. Bahkan kita bisa menjadi Pandawa secara totalitas dan pada saat yang lain menjadi Kurawa secara kaffah. Pada diri kita ada Punokawan yang selalu membisikan kebaikan yang bernama Semar [akal dan nafsu mutmainah]. Namun disisi kiri ada Punokawan lain yang bernama Togog dan Bilung yang senantiasa mengajak untuk menuruti nafsu dan syahwat. Bisikan-bisikan yang hadir adalah pertarungan yang nyata tentang makna Perang Baratayuda. Namun kita juga harus bisa mengambil pelajaran, bahwa akhir Pertarungan Baratayuda adalah kebenaran dan keadilan.

Kita tidak tahu apakah kita berhasil dalam peperangan melawan hawa nafsu kita sendiri?. Siapapun kita dan apapun kedudukan di tengah masyarakat, pertarungan besar yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga adalah Pertarungan Baratayuda yang ada pada diri sendiri. Bukan kata nabi perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   174

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   149

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14363


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6064


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5513


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4444