Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Apakah Saya Mualaf ?



Sabtu , 01 April 2023



Telah dibaca :  718

Peristiwa malam ini mengingatkan saya beberapa tahun lalu, ada seorang gadis di antar oleh saudaranya ke rumah ku. Kata saudaranya, bahwa gadis  tadi ingin memeluk agama Islam. Saya mendengarnya bahagia. Paras wajah cantik, mata sipit dan kulit putih. mungkin campuran suku asli dan etnis Tionghoa. Sang gadis saat itu telah bertauhid. dalam pandangan Islam, Ia  seperti bayi baru lahir. Tidak punya dosa. Waktu itu hati saya berfikir nakal dan berandai-andai, “seandainya menjadi jodoh ku”. Namun waktu itu, saya sudah punya istri. Akhirnya angan-angan pertama saya jawab sendiri dengan angan-angan kedua,”ah tidak, buat apa, satu istri saja belum terurus dengan baik”. Alhamdulillah, jawaban suara batin kedua terkabulkan. Lalu saya berharap dalam hati waktu itu, “semoga di masa-masa berikutnya gadis cantik tersebut menemukan jodoh yang sholeh dan bisa memperkuat keimanan kepada Allah dan semakin taat melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larang-larangan-Nya.


Pada malam kesepuluh, saya mengikuti safari Ramadhan Bersama Bupati Kepulauan Meranti, H.Muhammad Adil, SH, MM. Ini agenda Pemda yaitu Paket Safari Ramadhan Plus. Maksudnya, Bupati dan seluruh kepala dinas ikut Safari Ramadhan; buka puasa bersama dan sholat taraweh di Desa Sokop Kecamtan Rangsang Pesisir, di lanjutkan sahur bersama di Desa Sialang Pasung Kecamatan Rangsang Barat. Seperti biasanya, Pemda menyalurkan bantuan untuk Anak Yatim, Kaum Duafa dan Pengurus Masjid[Imam, Bilal, dan Ghorim] berupa Beras, Uang Saku, Peci dan Sarung. Di Desa Sokop sekitar 350-an warga miskin menerima bantuan. Sedangkan Desa Sialang Pasung sekitar 50-an warga miskin mendapat bantuan dari Pemda. Itu perkiraan saya, bisa kurang bisa juga lebih.

Acara safari Ramadhan semakin istimewa ketika ada tiga remaja menyatakan diri ingin memeluk Islam. Sebelum pengucapan syahadatain, saya bertanya kepada ketiganya tentang alasan masuk Islam. Mereka mengatakan murni dari keinginan sendiri, dan orang tua nya pun memperbolehkan. Semoga mereka benar-benar bisa masuk Islam secara kaffah, bukan hanya bersyahadat saja, tapi juga melaksanakan ibadah dengan cara-cara yang diatur dalam syariah Islam.


Saat itu saya terbawa kebahagiaan mendalam. Hati sangat terharu. Hampir saja, tangisan saya meledak melihat ketiga remaja tadi menyatakan diri masuk Islam. Apalagi, kiai Muhammad Mahdi sebagai pemimpin doa menyebabkan perasaan terharu semakin bercampur baur dengan suasana kebahagiaan. Mataku basah seperti daun pisang terkena embun pagi. Ini tangisan kebahagiaan. Sebab remaja itu telah mendapatkan mutiara termahal di dunia dan kualitas mutiara tersebut lebih mahal dari dunia se-isinya, yaitu kalimat Laa ilaha illa Allah, Muhammadurrosulullah.

Baca juga: Puasa Bersama Hadratusyeikh Hasyim Asy'ari

Saat telah selesai memimpin prosesi pembacaan syahadat di dampingi oleh Bupati dan para Kepala Dinas, hati kecil ku timbul tanda tanya, apakah saya juga termasuk orang muallaf secara subtansi? Apakah Islam saya sejak kecil yang sudah hapal kalimat tauhid secara benar statusnya masih seperti para mualaf tadi?.


Jangan-jangan saya masih mualaf. Tahu hukum Islam secara dhohir, tapi belum bisa melaksanakan secara batin. Saya bersyahadat mengakui keesaan-Nya, tapi saya masih punya sifat gumede, angkuh, sombong dan merasa paling hebat. Padahal, Allah telah mengajarkan dari kalimat tauhid bahwa pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan satu-satunya disembah adalah wujud kehambaan diri yang lemah dan senantiasa membutuhkan bantuan-Nya. Tapi kenyataannya, saya sering merasa tidak membutuhkan-Nya, terutama saat bahagia, mendapatkan pangkat tinggi, dan melimpah harta. Saat itu, saya sering terperangkap keakuan diri luar biasa. Saya merasa kesuksesan dan keberhasilan ini adalah hasil dari kerja keras sendiri dan sering melupakan campur tangan Allah s.w.t. Jika ini terjadi, bukankah saya masih mualaf subtantif dalam ketidak mualafan formatif. Saya sudah pandai memakai sarung, peci dan serban. Bahkan penampilannya laksana para ulama besar. Namun saat yang sama, saya juga merasa besar. Padahal Allah sudah mengatakan bahwa Dia Yang Paling Maha Besar, seluruh makhluknya kecil.

Saya juga sudah melaksanakan Sholat. Sudah bisa melaksanakan lima waktu. Bahkan puasa-puasa sunnat sudah biasa dilaksanakan; tahajud, taraweh, dhuha, hajat dan witir. Namun saya belum mampu melaksanakan perintah Kanjeng Nabi bahwa sholat yang baik yaitu, beribah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu maka Dia melihat mu”.

Duhai Tuhan Semesta Alam, dalam diam saya merasakan masih jauh dari kesempurnaan sebagai orang-orang yang ahli ibadah atas dasar karena mencari ridha-Mu. Rangkaian ibadah dan rangkaian doa selalu kumpajatkan dengan harapan mendapatkan ridha-Mu. Tapi lagi-lagi, saya lebih sering melaksanakan aktivitas yang justru bertolak belakang dari ridha-Mu. Betapa malang nasib ini.

Baca Juga: Senyuman Para Kekasih Allah

Tuhan ku, benar saya telah lama menyembah-Mu, tapi kurun waktu yang panjang tersebut semakin merasakan bahwa saya masih banyak cacat atas pengakuan ku dalam wujud ibadah dan amal sholehku. Bisa jadi ketika ini diperas, amal ibadahku banyak ampas-nya dan sangat sedikit santan-nya. Namun demikian, saya tetap mencintai-Mu, walaupun belum sempurna. Saya adalah ahli maksiat setiap hari, tapi disisi lain saya tidak kuat akan sika api neraka-Mu. Ampunilah segala kemualafan ku dan jadikanlah aku sebagai bagian dari orang-orang yang mendapat limpahan kasih-sayang-Mu dan mendapatkan keberkahan rahmat-Mu. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895