
Mengharap berkah atau lisan orang Jawa menyebutnya “ngalap berkah”, yang kemudian lagi berkembang menjadi kata “berkat” atau “berkatan”. Antara ngalap berkah dan berkatan sebenarnya beriringan dan mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam terminologi sosial, kelompok muslim tradisional dalam melaksanakan kegiatan berkaitan atau syukuran seperti sunatan, mantenan dan lain-lain selalu mengundang para Ulama, Kiai atau tokoh agama setempat. Mereka meminta berkah doa. Agar acara lebih hidmat sekalian bersedekah kepada jiran-tetangga, tuan rumah pun mengundang mereka dan sama-sama untuk mendoakan atau mengamini apa yang didoakan oleh tokoh agama tadi. Selesai acara ditutup dengan makan-makan. Ketika mereka pulang, Tuan Rumah sudah menyiapkan makanan yang sudah dibungkus dengan Plastik Kresek. Isi biasanya nasi dan lauk-pauk. Lalu bingkisan ini dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anaknya. Ketika anak-anaknya tanya, bapak nya pun dengan simpel menjawab; “Berkat dari rumah nya pak paijo, anaknya sunatan”.
Baca juga:
Tidak boleh pulang oleh MWC NU Tebingtinggi Timur
Berbeda terminologi berkah di kalangan
santri. Makna berkah lebih luas lagi, bukan semata-mata mendapatkan doa dan berkat
berupa makanan, tapi berkah berupa keberkahan bisa duduk bareng dengan para
ulama. Para santri paham bahwa duduk dengan orang ‘alim, wali dan orang-orang
yang dekat dengan Allah lebih baik daripada sholat sunnah 1000 rokaat. Sebab duduknya
dengan orang ‘alim telah menginspirasi dan mendapatkan ilmu-ilmu; bukan
stabatas ilmu yang bersifat ainul yaqin, ‘ainul yaqin, bahkan juga pada
tataran haqul yaqin. Sholat bermafaat untuk dirinya sendiri, sedangkan
ilmu hasil taqarub dengan para ulama memberi manfaat untuk peradaban
lebih luas lagi.
Lho kok bisa begitu. Tentu bisa. Ini tradisi santri. Mereka adalah para santri yang kemudian menjadi ulama dan tetap mengakui diri nya sebagai santri. Mereka terus memburu keberkahan para ulama-ulama. Sebab makna keberkahan tidak sebatas bertambah kebaikan pada diri sendiri, tapi juga kebaikan pada lintas generasi. Para ulama yang nyantri di Pesantren telah belajar Kitab Ta’lim Muta’alim karangan Syeikh Zarnuji. Kitab yang ditulis oleh pengikut mujahid besar Imam Abu Hanifah yang sangat memberi ruang rasional dalam berijtihad, masih percaya terhadap berkah. Bahkan Zarnuji saking percaya terhadap keberkahan sampai-sampai dia mengatakan; jika kamu sudah mencintai ulama kok tidak ‘alim, maka anak mu, jika anakmu tidak ‘alim, maka akan cucu mu yang ‘alim.
Baca juga:
Jalan Panjang membentuk MWC NU Rangsang Pesisir
Lho apakah berkah juga ada pada zaman nabi
dan dilakukan oleh para sahabat nabi? Tentu saja iya. NU itu mengikuti tradisi
nabi, sahabat, tabi’in, tabi’in-tabi’in. ibadah yang paling kumplit ada
pada NU. Termasuk berkah. Orang NU
mengartikan selain kata berkah juga menggunakan kata hidmat. Para sahabat Nabi
ketika nabi tidur dan berkeringat karena terik sinar matahari, tetesan air
keringatnya diambil dan dimasukan botol. Saat nabi memotong rambut, ada sahabat
yang menyimpan rambut nya. saat nabi menggunakan cincin dari besi, ramai-ramai
sahabat ikut membeli dan memakai cincin besi. Jika ingin lebih lengkap silahkan
baca Disertasinya Fuad Jabali. Terjemahan sekitar 600 halaman.
NU juga mengharapkan berkah model sahabat
nabi. Jika para santri yang jarang mendapatkan kiriman dari orang tua nya di Pesantren,
maka mereka akan mengabdi atau hidmat kepada kiai dan bekerja di rumah nya
tanpa mengharapkan bayaran, kecuali sebatas mendapatkan sepiring nasi untuk
ganjal perutnya. Ini yang dilakukan oleh sahabat Anas selama 10 tahun
ber-hidmat kepada nabi Muhammad s.a.w. Ini juga yang dilakukan oleh Ali bin Abi
Thalib nyantri dan membantu Nabi sejak dia masih remaja. Akhirnya nabi
mengambilnya sebagai menantu dinikahkan dengan Fatimah Zahro.
Dari paparan di atas, bahwa keberkahan disini mengacu kepada keberkahan intelektual, ketajaman mata batin, keberkahan keturunannya dan kemanfaatan lebih luas di tengah-tengah masyarakat. Karena memang tugas Nabi menyampaikan risalah, maka keberkahan juga diwujudkan mampu melanjutkan dakwah risalah dengan cara-cara dilakukan oleh nabi; damai dan santun. Jika toh ada keberkahan lain seperti mudah mendapatkan jabatan tertentu, atau mendapatkan akses tertentu sebenarnya itu hanya sebatas tambahan bukan tujuan. Ibarat kata pepatah ‘ketika kita membuat kursi, otomatis longan[bawah kursi] pun ikut”. Disini pentingnya memahami makna keberkahan tadi.
Baca juga:
Indahnya majelis ilmu, dzikir dan sholawat
Sebagai penutup bisa dipahami kata berkah dalam
kehidupan sehari-hari dan dalam organisasi NU sering menggunakan kata, ‘berhidmat’
sebenarnya usaha membangun komunikasi lintas alam dengan para ulama dan Muassis
NU. Berhidmat melalui lorong-lorong sepiritual berarti kita mengharapkan
keberkahan agar bisa mengikuti jejak-jejak mereka menjadi bagian dari iorang-orang
sholihin. Berhidmat melalui lorong-lorong intelektual berarti sedang meneruskan
dan merawat tradisi-tradisi yang telah menjadi pondasi NU dan terus melakukan
inovasi positif dan dinamis dalam perkembangan zaman. Berhidmat melalui
silaturahim melalui generasi para ulama dalam rangka menjaga sanad keilmuan
agar tetap terjaga.
Semoga saja kita berhidmat di NU
sebagaimana saat kita menjadi santri berhidmat kepada para kiai,sebagaimana
yang telah dicontohkan berhidmat sahabat Anas dan Ali kepada nabi Muhammad s.a.w.
Semoga kita tidak berhidmat sebatas untuk kepentingan duniawi dan kekuasaan
semata sebagaimana pada zamanya seperti Musailamah yang
mengabdi kepada nabi dan berikrar janji setia kepadanya semata untuk Dunia. Akhirnya
hancur dipermulaan periode pertama Islam. Wallahu a’lam.
Penulis : Imam Ghozali
Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   181
Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   183
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   158
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14392
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6091
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4680
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4456