Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

873 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mengharap Berkah dari Nabi sampai Kiai



Selasa , 21 Februari 2023



Telah dibaca :  689

Mengharap berkah atau lisan orang Jawa menyebutnya “ngalap berkah”, yang kemudian lagi berkembang menjadi kata “berkat” atau “berkatan”. Antara ngalap berkah dan berkatan sebenarnya beriringan dan mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam terminologi sosial, kelompok muslim tradisional dalam melaksanakan kegiatan berkaitan atau syukuran seperti sunatan, mantenan dan lain-lain selalu mengundang para Ulama, Kiai atau tokoh agama setempat. Mereka meminta berkah doa. Agar acara lebih hidmat sekalian bersedekah kepada jiran-tetangga, tuan rumah pun mengundang mereka dan sama-sama untuk mendoakan atau mengamini apa yang didoakan oleh tokoh agama tadi. Selesai acara ditutup dengan makan-makan. Ketika mereka pulang, Tuan Rumah sudah menyiapkan makanan yang sudah dibungkus dengan Plastik Kresek. Isi biasanya nasi dan lauk-pauk. Lalu bingkisan ini dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anaknya. Ketika anak-anaknya tanya, bapak nya pun dengan simpel menjawab; “Berkat dari rumah nya pak paijo, anaknya sunatan”.

Baca juga:

Tidak boleh pulang oleh MWC NU Tebingtinggi Timur

Berbeda terminologi berkah di kalangan santri. Makna berkah lebih luas lagi, bukan semata-mata mendapatkan doa dan berkat berupa makanan, tapi berkah berupa keberkahan bisa duduk bareng dengan para ulama. Para santri paham bahwa duduk dengan orang ‘alim, wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah lebih baik daripada sholat sunnah 1000 rokaat. Sebab duduknya dengan orang ‘alim telah menginspirasi dan mendapatkan ilmu-ilmu; bukan stabatas ilmu yang bersifat ainul yaqin, ‘ainul yaqin, bahkan juga pada tataran haqul yaqin. Sholat bermafaat untuk dirinya sendiri, sedangkan ilmu hasil taqarub dengan para ulama memberi manfaat untuk peradaban lebih luas lagi.

Lho kok bisa begitu. Tentu bisa. Ini tradisi santri. Mereka adalah para santri yang kemudian menjadi ulama dan tetap mengakui diri nya sebagai santri. Mereka terus memburu keberkahan para ulama-ulama. Sebab makna keberkahan tidak sebatas bertambah kebaikan pada diri sendiri, tapi juga kebaikan pada lintas generasi. Para ulama yang nyantri di Pesantren telah belajar Kitab Ta’lim Muta’alim karangan Syeikh Zarnuji. Kitab yang ditulis oleh pengikut mujahid besar Imam Abu Hanifah yang sangat memberi ruang rasional dalam berijtihad, masih percaya terhadap berkah. Bahkan Zarnuji saking percaya terhadap keberkahan sampai-sampai dia mengatakan; jika kamu sudah mencintai ulama kok tidak ‘alim, maka anak mu, jika anakmu tidak ‘alim, maka akan cucu mu yang ‘alim.

Baca juga:

Jalan Panjang membentuk MWC NU Rangsang Pesisir

Lho apakah berkah juga ada pada zaman nabi dan dilakukan oleh para sahabat nabi? Tentu saja iya. NU itu mengikuti tradisi nabi, sahabat, tabi’in, tabi’in-tabi’in. ibadah yang paling kumplit ada pada  NU. Termasuk berkah. Orang NU mengartikan selain kata berkah juga menggunakan kata hidmat. Para sahabat Nabi ketika nabi tidur dan berkeringat karena terik sinar matahari, tetesan air keringatnya diambil dan dimasukan botol. Saat nabi memotong rambut, ada sahabat yang menyimpan rambut nya. saat nabi menggunakan cincin dari besi, ramai-ramai sahabat ikut membeli dan memakai cincin besi. Jika ingin lebih lengkap silahkan baca Disertasinya Fuad Jabali. Terjemahan sekitar 600 halaman.

NU juga mengharapkan berkah model sahabat nabi. Jika para santri yang jarang mendapatkan kiriman dari orang tua nya di Pesantren, maka mereka akan mengabdi atau hidmat kepada kiai dan bekerja di rumah nya tanpa mengharapkan bayaran, kecuali sebatas mendapatkan sepiring nasi untuk ganjal perutnya. Ini yang dilakukan oleh sahabat Anas selama 10 tahun ber-hidmat kepada nabi Muhammad s.a.w. Ini juga yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib nyantri dan membantu Nabi sejak dia masih remaja. Akhirnya nabi mengambilnya sebagai menantu dinikahkan dengan Fatimah Zahro.

Dari paparan di atas, bahwa keberkahan disini mengacu kepada keberkahan intelektual, ketajaman mata batin, keberkahan keturunannya dan kemanfaatan lebih luas di tengah-tengah masyarakat. Karena memang tugas Nabi menyampaikan risalah, maka keberkahan juga diwujudkan mampu melanjutkan dakwah risalah dengan cara-cara dilakukan oleh nabi; damai dan santun. Jika toh ada keberkahan lain seperti mudah mendapatkan jabatan tertentu, atau mendapatkan akses tertentu sebenarnya itu hanya sebatas tambahan bukan tujuan. Ibarat kata pepatah ‘ketika kita membuat kursi, otomatis longan[bawah kursi] pun ikut”. Disini pentingnya memahami makna keberkahan tadi.

Baca juga:

Indahnya majelis ilmu, dzikir dan sholawat

Sebagai penutup bisa dipahami kata berkah dalam kehidupan sehari-hari dan dalam organisasi NU sering menggunakan kata, ‘berhidmat’ sebenarnya usaha membangun komunikasi lintas alam dengan para ulama dan Muassis NU. Berhidmat melalui lorong-lorong sepiritual berarti kita mengharapkan keberkahan agar bisa mengikuti jejak-jejak mereka menjadi bagian dari iorang-orang sholihin. Berhidmat melalui lorong-lorong intelektual berarti sedang meneruskan dan merawat tradisi-tradisi yang telah menjadi pondasi NU dan terus melakukan inovasi positif dan dinamis dalam perkembangan zaman. Berhidmat melalui silaturahim melalui generasi para ulama dalam rangka menjaga sanad keilmuan agar tetap terjaga.

Semoga saja kita berhidmat di NU sebagaimana saat kita menjadi santri berhidmat kepada para kiai,sebagaimana yang telah dicontohkan berhidmat sahabat Anas dan Ali kepada nabi Muhammad s.a.w. Semoga kita tidak berhidmat sebatas untuk kepentingan duniawi dan kekuasaan semata sebagaimana pada zamanya seperti   Musailamah yang mengabdi kepada nabi dan berikrar janji setia kepadanya semata untuk Dunia. Akhirnya hancur dipermulaan periode pertama Islam. Wallahu a’lam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   181

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   183

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   158

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14392


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6091


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4456