
NU, HTI dan Nation State
Di Negara-Negara berkembang dan [katanya] menuju maju seperti di Indonesia, isu-isu Politik Identitas atas nama agama tidak bisa hapus begitu saja. Bahkan di Negara-Negara yang sudah mapan sekalipun, gerakan ini selalu muncul baik dalam bentuk penyebaran pemikiran melalui fasilitas internet, majalah-majalah, buku-buku, bulletin dan media-media lainya. Mereka tidak akan mati. Ketika ditekan, mereka tiarap. Saat ada kebebasan diberikan oleh Penguasa, mereka bangkit kembali menyerang kebijakan pemerintah dan lucunya justru berlindung atas nama ‘Semua sama hak dan kewajiban warga Negara’.
Baca Juga:
Kumbakarna, Banser dan Nasionalisme
Politik Identitas sebenarnya bukan hanya
terjadi di internal pengikut Islam. Para penganut agama-agama besar lainya pun
tidak bisa dihindari persoalan politik Identitas. Para penguasa agama Kristen
membantai sesama penganut agama Kristen yang berbeda paham di sejarah saat
mereka berkuasa di Eropa. Jika ingin membuka sejarah lebih jauh lagi, para
penguasa satu agama Hindu di India terjadi peperangan secara terus-menerus. Saking
melegenda persoalan perang antar satu agama, para Pujangga India mengabadikan
dalam sebuah buku fiksi yang terkenal; Mahabarata yang terkenal dengan perang
antara Kurawa dan Pandawa di Kurusetra, dan Ramayana yang terkenal peperangan
besar-besaran antara Ramayana dan Rahwana. Sehingga kerajaan Alengka hancur
lebur akibat kerakusan Rahwana.
Islam yang sering disebut sebagai agama
Rahmat Semesta Alam. Ketika diaplikasikan dalam wujud politik, fakta tidak bisa
dihindari seperti persoalan perkelahian, pembunuhan dan peperangan sesama
saudara satu iman. Penulis artikel ini seolah-olah tidak percaya saat membuka
sejarah bahwa sesama muslim dan masih masuk pada masa sahabat nabi sudah mulai
tumbuh kata “kafir” untuk menyerang umat Islam yang berbeda pandangan
politiknya. Padahal nabi yang agung telah memberi pelajaran bahwa kita tidak
boleh mengkafirkan sesama muslim. Sebab orang yang mengkafirkan kepada saudara sesama
muslim hakikatnya, dia sendiri yang kafir. Sebab orang yang mengkafirkan telah
menganulir ikrar ketauhidan saudarannya atau menganggap batal tauhid
saudaranya. Padahal persoalan iman adalah persoalan keyakinan, bukan politik.
Itu sebabnya, setiap muslim tidak boleh mengkafirkan saudara sesama muslim. itu
realita politik yang tidak bisa dihapus dalam sejarah Islam.
Sepeninggal Nabi, persoalan Politik Identitas semakin menyeruak ke permukaan saat khalifah Usman dan Ali bin Abi Thalib. Kekuasaan Ustman melahirkan isu kolusi dan nepotisme. Pada masa Ali muncul kaum Khawarij dan Syiah dan orang-orang yang membebaskan diri dari kedua kelompok tersebut. kaum Khawarij mengkafirkan sahabat Utsman, Ali, Muawiyah, Amr bin Ash dan Abu Musa serta orang-orang yang mendukung kebijakan mereka. Syiah mengakafirkan Abu Bakar, Umar dan Utsman yang dianggap telah merebut kekuasaan Ali bin Abi Thalib.
Baca juga:
Apakah NU telah Menganut Ideologi Transnasional?
Pembunuhan sesama Islam terus terjadi.
Penulis masih ingat sejarah bagaimana Sayidina Husen dipadang Karbala kepala
nya dipenggal dan digunakan untuk mainan oleh pasukan Yazid sebagai pewaris dari
Dinasti Umayyah. Begitu juga saat Abasiyyah berkuasa, orang-orang Muawiyah
dibantai dan kelompok Syiah pun diperlakukan tidak secara manusiawi. Hati
penulis ingin menolak peristiwa ini, tapi tidak bisa. Bahwa kekuasaan dalam
sejarah Islam pada masa yang disebut “kekhilafahan” tidak bisa dilepas dari
persoalan tersebut. kita memang harus adil dalam melihat sejarah. Benar Islam
pernah mencapai punjak kejayaan peradaban pada masa Abbasiyah berkat sumbangan
pemikiran para ilmuwan Yunani dan Romawi setelah ditranslit ke dalam bahasa Arab.
Namun sisi kelam tentang perilaku negatif para penguasa dan tuduhan-tuduhan
kafir baik oleh para penguasa dan juga opisisi pada situasi tertentu terus
berjalan. Seolah-olah kata ‘takfiri’ menjadi alat pembenar untuk melakukan intiimidasi,
membunuh dan membantai lawan-lawan politik.
Negara Dunia Menuju Negara Bangsa
Litarasi tentang persoalan politik
kekhalifahan di kalangan Pesantren NU sudah sangat mafhum. Sebab kitab-kitab
fiqh mulai dari kecil sampai kepada kitab yang berjilid-jilid ukuran besar
membahas persoalan khilafah dan jihad menegakan Hukum Allah. Merunut ke
belakang, saat kekhilafahan Turki hancur, dan Arab Saudi ingin mendirikan
kekhalifahan baru, penguasa baru mengundang ormas-ormas Islam Indonesia,
termasuk kaum modernis. Namun karena terjadi rebutan kepentingan dari berbagai
Negara Islam, akhirnya gagal. Arab Saudi akhirnya menjadi Nation State atau
Negara Bangsa dan gagal menjadi Negara Dunia atau Khilafah Islamiyah.
Para ulama Pesantren tidak bisa ikut.
Sedang Muhamadiyah bisa ikut diacara tersebut. atas peristiwa ini, para ulama Pesantren
akhirnya mendirikan perkumpulan organisasi keagamaan yang kemudian hari dikenal
dengan Nahdlatul Ulama[NU]. Visi besarnya yaitu menjaga tradisi pesantren, dan
tradisi amaliah yang telah dilaksanakan beratus-ratus tahun yang telah
dilaksanakan nabi, sahabat, tabi’in, dan para ulama. Dari sini semakin jelas
bahwa konsentrasi NU yaitu menjaga dunia dalam bidang sosial-keagamaan bukan
menjaga politik Islam untuk meraih kekuasaan.
Arah Politik NU Dulu dan Sekarang
Sebagai organisasi keagamaan, NU menginginkan
tradisi tersebut tetap berjalan dengan baik. Namun karena perilaku
imperialisme, para Ulama terus berusaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,
bukan kemerdekaan dunia. ini yang kemudian melahirkan organisasai subbanul
wathan yang kemudian hari menjadi Organisasi Badan Otonom[Banom]Gerakan
Pemuda Ansor[GP Ansor]. Dari ormas kepemudaan ini, lahir para mujahid-mujahid
di tentara Hisbulloh yang sangat berjasa mengusir penjajah Belanda dan
pemberontakan G30S/PKI. Sikap politik ini juga yang menyebabkan NU menerima
konsep Negara Kesaturan Republik Indonesia[NKRI] sebagai wujud Nation State,
bukan Khilafah Islamiyah model Hizbut Tahrir.
Sikap politik NU yang menerima Nation
State dan menolak Khilafah Islamiyah tentu saja berdasarkan Nash
Al-Qur’an dan Hadist, Ijtihad, dan fakta sejarah. Persoalan persaingan politik
pasca kematian nabi sudah cukup bukti bahwa Al-Qur’an dan Nabi memberikan
kebebasan untuk melakukan kreasi sistem politik. Hal ini terbukti, bahwa setiap
kekhalifahan mempunyai sistem berbeda dalam menerapkan politik Islam. Selain
itu, realita sejarah pasca revolusi Industri Negara-negara Islam sudah menjadi
koloni bangsa barat. Mereka kemudian hari berdiri sendiri-sendiri para penguasa
Negara-negara Islam. Sehingga sangat sulit untuk menyatukan Negara-negara yang
sudah berdiri dan mempunyai pemimpin. Jangankan untuk menyatukan Negara satu
dengan lainya. Persoalan keseharian pun seperti batas ‘Kaplingan Lahan Sawit
Atau Harta Warisan Agak Sedikit Bengkok’ bisa menjadi pemicu perkelahian
bahkan sampai pada pembunuhan. Bagaimana Laut Natuna yang akan dicaplok oleh Cina
telah membuat ribut seluruh masyarakat Indonesia. Kira-kira bagaimana jika
Indonesia diakui sebagai milik Negara Malaysia atau Negara Islam lain. Apakah
ini memungkinkan. Disini kenapa cita-cita Khilafah yang dilakukan oleh
para aktivis sesuatu yang ilusi dan merusak disintegrasi bangsa dan Negara.
NU, HTI dan PKI
Sejarah berdirinya Negara Indonesia tidak
bisa dihapus begitu saja dengan narasi-narasi menyesatkan. Siapaun orang nya
dan darimanapun mereka. Setiap orang bisa saja berubah karena ada berbagai
kepentingan. Apalagi ketika ada kepentingan politik, orang baik menjadi jahat. Sebab
ukuran nya terkadang bukan persoalan benar-salah, tapi kesesuan kepentingan.
Pertarungan ideologi pasca kemerdekaan
terus berlanjut. Kaum modernis melalui masyumi menginginkan Negara Islam secara
formal dan terlembaga. Kelompok-kelompok Islam seperti di/tii mendirikan Negara
dalam Negara. Mereka menarik berbagai donator dan hal-hal yang dianggap sebagai
harta ghonifah dan infak di tengah masyarakat untuk melakukan
konsolidasi politik. Diantara mereka secara amaliahnya sama dengan NU, namun
berbeda dalam siyasah nya. gerakan-gerakan politik seperti ini yang kemudian
melahirkan aspirasi politik seperti HTI dan NKRI Bersyariah. Pemerintah dan NU bersama-sama melakukan
gerakan politik dengan cara masing-masing menumpas gerakan DI/TII.
Ideologi komunis pun pernah Berjaya di
Indonesia. Ketika mereka menjadi partai politik, strateginya sangat menawan dan
merekrut para pembesar dan tokoh-tokoh Islam. Partai komunis ini pun menjadi
bagian partai terbesar di Indonesia pada masanya. Namun lagi-lagi, mereka
berhadapan secara langsung dengan NU. Dalam sejarah, NU satu-satunya ormas
keagamaan yang tampil paling mengerikan melakukan pembasmian terhadap ideologi
komunis. Fakta ini sangat mudah untuk ditelusuri di berbagai sumber. Entah saya
tidak tahu apakah ormas Islam selain NU melakukan gerakan sedemikan mengerikan
seperti NU ?
Gerakan politik identitas atas nama agama
akan terus berlanjut. Mereka datang bisa dari generasi ke sekian dari para
aktivis DI/TII yang sekarang berbaju HTI dan NKRI Bersyariah telah menyebar di
berbagai instansi karena mendapatkan tempat sangat lama pada masa Soeharto dan
juga kaderisasi hasil dari era reformasi. Kenangan kejayaan Islam masa lalu
menginspirasi mereka melakukan gerakan intelektual tentang makna syariat yang
kemudian dilarikan pada siyasah. Termasuk diantara mereka adalah orang-orang
yang pernah menjadi pengurus NU, aktivis NU, Pecinta NU yang mempunyai
kepentingan politik berbeda dengan garis politik NU saat sekarang ini. Berbeda zaman
berbeda juga ijtihad politik nya. Tafsir politik yang beragam dengan rujukan Kitab
Klasik yang diajarkan di Pesantren tadi, telah membentuk keputusan mereka
berbeda-beda.
Apakah perbedaan ini sebatas tataran
pemikiran atau wacana atau kajian ilmiah atau sawir dan sebagainya, itu adalah
pilihan-pilihan kata dalam ber-siyasah. Namun yang perlu dijelaskan disini
bahwa DI/TII yang cita-citanya diteruskan oleh HTI dan FPI di era saat ini dan Partai
Komunis Indonesia telah mencatat dalam tinta hitam atas keberanian mereka membakar
Bendera Merah-Putih dan ingin menghancurkan NKRI. Fakta ini bisa menjadi
rujukan bahwa wacana-wacana dalam pemikiran adalah jalan untuk melakukan
perubahan intelektual dikalangan lintas generasi. Apakah kita masih setia
terhadap NKRI dengan segala kelebihan dan kekurangan atau ingin seperti ISIS, Alqaida,
HTI dan sejenisnya yang telah menelantarkan ratusan ibu-ibu yang kehilangan
kewargaan Indonesia karena ingin mendirikan Khilafah Islamiyah di Suriah?
Semua kembali kepada kita masing-masing.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2985
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884