
Cerita epos terbaik sepanjang
sejarah dari India yaitu Ramayana dan Mabaharata. Pertama dari cerita Ramayana
mempunyai beberapa penggalan kisah yang menarik. Ketika Ramayana dan istrinya Sinta
Dewa atau Dewi Sinta ( bukan Dewi Sandra, apalagi Sandra Dewi…) sedang berada
di Hutan, ada Kijang Kencana yang sangat indah. Dewi Sinta meminta kepada
suaminya agar menangkap binatang tersebut hidup-hidup. Rama menyanggupinya. Ia
memerintah adiknya Laksamana untuk menjaga kakak iparnya,selama ia berburu Kijang
Kencana tersebut. Laksamana menyanggupinya. Ketika sudah berjalan jauh masuk
hutan, tiba-tiba ada suara menjerit persis suara manusia. Dewi Sinta sangat
khawatir keselamatan suaminya. Apalagi suara tersebut persis suara jeritan
suaminya. Ia pun menyuruh Laksamana untuk menyusul abangnya yang berada di jauh
di dalam hutan. Namun ia tidak mau. Sebab ia sudah bersumpah kepada abangnya
untuk menjaga Dewi Sinta selama Rama berburu. Ironis memang, Dewi Sinta menuduh
Laksamana sebagai adik iparnya mempunyai hasrat terhadap dirinya, sehingga ia
tidak mau pergi mencari Rama. Tuduhan tersebut tentu sangat menyinggurng
perasaan Laksamana. Akhirnya dengan berat hati, Laksamana meninggalkan Dewi
Sinta seorang diri di tengah hutan.
Saat Dewi Sinta seorang diri, cuaca alam saat itu mendung dan gerimis serta angin bertiup dengan kencang. Tiba-tiba datang seorang pertapa tua mendekatinya. Semula Dewi Sinta tidak curiga. Lama kelamaan tatapan mata penuh dengan nafsu birahi dan perilaku sang pertapa mulai mencurigakan. Ia mencoba menghindari dari pertama tua. Namun semakin menghindar, pertapa tua semakin bernafsu mendekat kepada nya. dan ternyata benar, pertapa itu berubah wujud aslinya yaitu Dasamuka atau Rahwana.
Baca Juga: strategi hamid mendapatkan lailatul qadr
Penggalan cerita tersebut menggambarkan
watak dasar perempuan yang senantiasa tertarik kepada keindahan dunia. Kijang
Kencana adalah simbol perhiasan dan kekayaan. Sang suami terkadang terprovokasi
oleh nya untuk mencari dan bekerja mengumpulkan kekayaan dan meraih jabatan
yang terkadang harus masuk lebih kedalam hutan kenistaan untuk meraih apa yang
diinginkan. Karena nafsu telah menguasai dirinya, akhirnya keduanya berani
mengambil resiko dan membahayakan dirinya. Kedua, perempuan sering lebih
mengutamakan perasaan daripada pikirannya. Presepsi-presepsi yang dibangun
dalam pikirannya kadang lebih mendominasi dan membentuk ucapan dan perilaku
yang terkadang diluar nalar. Meskipun nanti hasil akhir dari proses perasaan
tersebut salah, bukan berarti wanita akan menerima dan menyadarinya. Ia akan
mengulanginya perasaan-perasaan tersebut dalam wujud dan episode yang berbeda (Kisah-kisah
ini mirip-mirip kisah keinginan hawa terhadap buah khuldi yang ada di Surga. Ternyata
kisah kehidupan manusia sering mirip dalam setiap zaman).
Kisah Ramayana yang menggambarkan watak
laki-laki yang rakus dan kepala batu adalah ketika saudara Rahwana memberi
saran agar Dewi Sinta dikembalikan saja ke rama untuk menghindari perang. Rahwana
dengan tegas menolak pendapat gunawan wijaya dan kumbakarna. Bahkan menurutnya
jika mempertahankan Dewi Sinta harus mengorbankan negara, maka ia akan
melakukanya. Kedua saudaranya akhirnya pergi. Gunawan pergi dan bergabung
dengan pasukan Rama perang melawan pasukan Rahwana sebagai wujud memberantas
kedzaliman. Kumbakarna melakukan tirakat tidur.
Dari kisah tersebut menjelaskan watak asli
seorang laki-laki adalah mencintai perempuan sepanjang hidup. Tuhan telah
menciptakan laki-laki dengan kelebihan imajinasi sehingga selalu tidak merasa
puas dengan hanya mempunyai pasangan seorang istri. Bahkan terkadang demi untuk
menuruti hawa nafsunya, laki-laki bisa melakukan apa saja dengan cara yang
benar maupun salah untuk menuruti hawa nafsunya. Meskipun seorang laki-laki
mempunyai watak sebagai seorang pemimpin dan mampu menguasai jagat raya, Namun
Tuhan telah menciptakan perempuan yang melahirkan laki-laki. Seorang perempuan
atau wanita mempunyai dua energi yang berlawanan; energi positif dan negatif.
Ketika seorang laki-laki menemukan seorang perempuan yang membawa energi
positif, maka laki-laki akan menjadi seorang manusia terhormat dan disegani di
masyarakat serta mampu menjadi penguasa di lingkungannya, perusahaan, kantornya
dan seterusnya. Namun saat ia mencapai puncak dan kemudian hari terkena sinar
negatif dari perempuan lainnya, maka kekuatan lelaki itu akan hilang. Anugerah
sinar positif hilang dan berubah menjadi sinar negatif. Saat itu, ia akan
mengalami kehancuran dalam karirnya.
Selanjutnya kisah Mahabarata. Ada penggalan cerita yang menarik, yaitu kemenangan Pandawa atas Kurawa. Pandawa berjumlah 5 orang mampu mengalahkan Kurawa berjumlah 100 orang. Ini seperti kisah Perang Badar pada masa nabi Muhammad. Musuh Jauh lebih besar pasukannya, dan dikalahkan oleh pasukan nabi yang jumlah relatif kecil. Perjalanan sejarah sering merekam peristwa bahwa jumlah yang besar tidak selamanya menjadi pemenang. Bangsa-bangsa besar seperti Romawi dan Yunani yang telah menguasai kekuasaan dan peradaban bisa dikalahkan oleh kekuatan baru yang belum sepenuhnya menguasai medan pertempuran sematan kedua bangsa tersebut. Masyarakat muslim bisa menjadi pemenang dan mereka menyatakan diri tunduk terhadap kehebatan Islam. hal yang sama ketika Islam mencapai puncak kejayaan dan setiap pelosok negara barat terlihat panji-panji Islam berdiri kokoh. Andalusia dan dataran Eropa kala itu terlihat mercesuar peradaban. Kota terasa sangat hidup. Malam hari kota laksana siang. Warga negara lalu lalang pergi ke masjid dan tempat-tempat perkuliahan. Perekonomian berputar dengan sangat baik. hingga nyaris, negeri muslim saat itu terlukis sebagai negeri 1001 malam. Kesempurnaan telah diraih oleh umat Islam. Namun kehebatan yang sangat luarbiasa tiba-tiba ambruk oleh pendatang baru dari barat. Kaum Nasrani menyerang simpul-simpul kekuatan Islam. Umat muslim waktu itu benar-benar laksana gajah yang terperosok di sebuah lubang. Ia tidak bisa bergerak kemana-mana, sedangkan binatang buas dari segala penjuru siap menerkam, memakan dan menguliti dengan lahapnya.
Baca Juga:berharap hujan di bulan ramadhan
Dari cerita tersebut, Tuhan meletakan
sebuah kemenangan bukan pada seberapa dekat dia berdialog dengan Tuhan dan
bukan seberapa sholeh dalam kehidupannya. Kemenangan demi kemenangan pada masa
dulu sebenarnya bersumber dari seberapa cerdas mengatur nafsu nya. Suatu
prestasi dalam sepanjang sejarah diraih oleh orang-orang yang sudah selesai mengatur
nafsunya sendiri. Dalam sejarah juga, orang-orang yang tidak berprestasi atau
hancur saat mencapai puncuk prestasi juga disebabkan karena tidak mampu
mengontrol nafsunya dengan baik.
Peperangan Sejati
Setiap pergantian zaman, Tuhan telah
menjadikan ibadah puasa sebagai ibadah andalan manusia. Puasa menjadi ibadah
yang outputnya adalah kaum mutaqin. Dalam terminologi lebih sederhana, kaum
mutaqin adalah kaum yang jiwa nya telah mutmainah karena nafsu telah berjalan sesuai
dengan perintah-perintah-Nya. Mutaqin bukan sebatas sebutan ahli-ahli sujud dan
ahli-ahli puasa yang mampu menahan lapar dan dahaga. Kaum mutaqin mempunyai
ciri khas perilaku yaitu kesadaran totalitas akan kehadiran Allah dalam
kehidupannya. Pola kehidupan seperti itu sangat berat. Banyak orang yang rajin
ibadah, sholat, zakat dan amal sholeh gagal total ketika melaksanakan segala
kegiatan ibadah dan amal sholeh disebabkan karena pada saat yang sama para
pelakunya tidak benar-benar memurnikan ibadah dan amal sholeh semata-mata
karena tuhannya. Mereka bahkan kadang disebut sebagai pendusta agama, dan
orang-orang yang lalai dalam sholatnya. Ketika hal ini terjadi, maka
ibadah dan amal sholeh kering dari ruh kemenangan. Mereka telah kalah oleh
nafsunya sendiri. Sehingga bisa disaksikan, umat Islam hari ini kalah dalam
berbagai sektor kehidupan. Mereka telah jauh dari slogan “ya’ulu wala yu’la ‘alaih”,
Islam teratas dan paling atas dari semua agama.
Maka Tuhan mengingatkan lagi, bahwa puasa
merupakan suatu strategi jenius untuk mengubah cara berfikir dan cara
merealisasikan karya manusia. Puasa adalah cara untuk menundukan diri sendiri
sebelum menundukan orang lain. Puasa merupakan perwujudan peperangan nyata
manusia dengan dirinya sendiri. Pada dirinya ada nafsu yang senantiasa menempel
dan terus mengusik akal manusia agar terjerumus dalam kehinaan. Ketika manusia
sudah mampu mengendalikan diri, maka pada saat itu ia tampil menjadi
manusia-manusia petarung sejati dan hamba-hamba Allah yang mutaqin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876