
Pak Surip sangat bersyukur bertemu bulan ramadhan di tahun ini. Bersyukur bukan karena sudah mengenal keagungan bulan puasa yang penuh ampunan, rahmat dan terbebas dari api neraka. ia juga tidak begitu peduli tentang keagungan lailatul qadr. Bukan sama sekali soal itu. Ia bersyukur karena masih diberi umur. Di bulan ramadhan ini, ia mengulang kegiatan bulan ramadhan di tahun sebelum seperti ibadah puasa, sholat taraweh, sholat witir dan tadarus al-quran setiap saat ia inginkan. Beruntung waktu masih mudah, ia pernah belajar agama nya dari guru ngaji di mushola. Meskipun ilmu agamanya sedikit, tapi ia merasa nikmat pada saat membaca al-qur'an dan sholat taraweh. Suatu perasaan bahagia yang tidak didapat dihari-hari selain bulan ramadhan.
Kini Pak Surip berusia 61 tahun. diusia yang tidak muda lagi, ia senang mengikuti kegiatan di masjid kampungnya. Sebenarnya letaknya cukup jauh dari rumahnya. Ketika pulang-pergi dari/ke masjid harus membawa “Senter”. listrik memang sudah masuk desa nya, tapi jalan-jalan utama masih gelap. Hanya beberapa rumah yang memasang lampu listrik di jalan utama. Sedang jalan-jalan kecil masuk ke rumah-rumah penduduk lebih gelap lagi. Untuk menuju masjid, ia melintasi beberapa kebun kelapa dan karet milik tetangganya.
Baca Juga : Puasa dan kearifan Lokal
Sebagai orang kampung, pak surip bekerja layaknya orang kampung. ia punya sawah dan kebun yang ditanami karet dan kelapa. tidak luas, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga jika hasilnya baik. Setelah sholat ashar kadang membaca al-qur'an hingga menjelang maghrib. Kadang ia kebingungan untuk
menentukan kapan waktu berbuka puasa. Setiap sore menjelang maghrib, ia selalu
bertanya kepada anak-anaknya apakah sudah masuk waktu berbuka. Untung anak-anak
nya mempunyai Jadwal Imsakiyah yang didapat dari calon bupati yang
dibagi-bagikan oleh tim-nya. Biasanya anak-anaknya memberitahu ketika sudah
masuk waktu berbuka puasa. Metode nya sangat mudah. Melihat jam dinding dan
mencocokan jadwal waktu di Imsyakiyah. Jika sudah cocok, meskipun tidak
ada sirine berbunyi, mereka secara spontanitas menyakini sudah masuk
berbuka puasa. Kebingungan kedua ketika menandai waktu sahur. Meskipun sahur
bisa dilakukan kapan saja setelah sholat isa, tradisi di kampung tersebut
biasanya jam 03.00 atau jam 03.30 sudah persiapan sahur. Pak Surip dan
orang-orang kampung bisa bangun jam tersebut karena terbiasa dan bukan ada
petugas sahur yang sering di dengar di masjid-masjid. Meskipun sudah terbiasa
bangun pada jam tersebut, tidak berarti selalu tepat waktu. Karena ada sesuatu
hal kondisi badan terkadang sampai menjelang subuh baru bangun. Akhirnya pak Surip
sekeluarga tidak bisa sahur. Sedih bertambah, karena hari itu istri pak surip
harus membuang nasi dan sayurnya. Hanya gorengan ikan dan tempe yang masih bisa
digunakan untuk berbuka puasa. Anak-anaknya belum memahaminya kecuali rasa
lapar dan dahaga ketika tidak bisa sahur. Bagi pak Surip, perasaan tidak bisa
sahur mempunyai arti kesedihan tersendiri. Sudah berkali-kali gagal panen padi
di sawahnya yang tidak begitu luas, harga kelapa dan karet murah.
Sudah tidak bisa diharapkan lagi. Beras naik, dan anak-anak dan cucunya cukup
banyak membutuhkan baju-baju baru, serta harus menyiapkan kueh yang tidak
sedikit menjelang datang nya Hari Raya Idul Fitri. Pak Surip sudah tidak
berfikir lagi atau malah tidak tahu ada hadist yang berbunyi“Barangsiapa
berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu. ” Baginya, bulan puasa ini semaksimal mungkin
tidak membawa beban bagi dirnya sebagai kepala keluarga. Sehingga ketika
melihat sedikit saja tidak bermanfaat seperti kisah sahur di atas, sangat
terasa sedih dalam hatinya.
“Assalamu’alaikum” suara salam terdengar di depan pintu. Ternyata Parjo anak pertama
pak Surip yang tinggal di kota baru saja datang. Ia adalah satu-satunya anak
pak Surip yang sudah kerja sebagai ASN di salah satu instansi pemkot di salah
satu kota kecil. Sedangkan adik-adiknya ada 3, satu kuliah dan dua lagi masih
di tingkat SLTA dan SLTP.
Kedatangan Parjo sebenarnya mempunyai tujuan menjemput ayah dan ibunya. Ia telah mendapatkan rezeki, yaitu menempati rumah baru hasil menabung dan pinjam di Bank beberapa tahun lalu. Itu sebabnya, ia menjemput ayah dan ibu nya. Selain minta keberkahan doa, ia juga ingin menunjukan kepada orang tuanya, bahwa ia telah berhasil dan tidak lagi membebani orang tuanya lagi. Namun hanya ayahnya yang bisa ke kota. Ibunya tidak bisa karena harus masak untuk keperluan berbuka puasa dan sahur adik-adiknya.
Baca Juga: Membuka Pintu Gerbang Ramadhan
Sekitar jam 17.30 pak Surip sudah
sampai di rumah anaknya. Ia duduk di kursi teras rumah yang terletak di pinggir
jalan raya. Dari depan rumahnya, pak Surip melihat pemandangan yang kontras di
kampungnya. Lalu lalang mobil berwarna warni, Honda dengan beragam jenis.
Bahkan kadang ada “Honda Brong” suaranya menyakitkan telinga. Ada
deretan Ruko (Rumah Toko) tingkat dua, dan ada lima pintu. Dua pintu sebelah
kanan toko Indomart, dua pintu sebelah kiri Alfamart. Pemisah keduanya ada Apotik.
Di belakang gedung bertingkat dua
tersebut, sebelah kanan terlihat kubah masjid dan menaranya menjulang tinggi. Sebelah
kiri terlihat menara gereja yang berbentuk kerucut. Pak surip melihat
sekeliling rumah anaknya. Kanan kiri ada bengkel, ada penjual es dan batagor. Sebelah
kanan ada rumah bertingkat yang pagar pintu nya jarang dibuka.
Pak surip sangat asik melihat
pemandangan kota kecil yang berisi bangunan tinggi, kendaraan dan lalu lalang
manusia yang tidak pernah sepi. Semakin sore semakin rame. Terdengar suara
sirine bersahut-sahutan dari masjid dan mushola yang berada di sekitar rumah
anaknya. Parjo segera memanggil ayahnya, dan mengatakan bahwa berbuka puasa
sudah tibah. Pak Surip tersenyum, “Enak juga tinggal di kota, berbuka puasa
saja ada yang yang mengingatkan”.
Semakin malam semakin ramai. Bahkan selesai
sholat taraweh, Ia duduk lagi di teras rumah. Sekompok anak-anak remaja
berkendaraan roda dua ugal-ugalan. Suara terompet dibunyikan tanpa aturan. Seorang
penjual somay berdiri di samping Pohon Trembesi. Sambil menunggu
pembeli, ia kadang mengucapkan “somay” dengan gaya yang sangat khas;”somay-somay….”,
“somay-somay…..”. Ia harus bersaing dengan suara kendaraan di jalan raya.
Sekitar jam 22.00, anaknya memanggil”Pak
sudah malam, tidur”. Pak surip masuk kamar tidur yang sudah dilengkapi AC. Terasa
sejuk. Ia pun cepat tertidur. Waktu terus bejalan terasa sangat cepat. Tiba-tiba
dia terbangun dengan penuh kekagetan. Suara dari masjid dan mushola dari
seluruh penjuru arah mata angin memberi informasi tanda waktu sahur. Yang mengagetkan
dirinya karena suara petugas sahur membangunkan terasa sangat keras seperti
orang marah: “sahurrrrrr….sahurrrrrrrr, sahurrrrr….!!!!”. pak surip terbangun. Kepala
pusing. Apalagi pada dirinya ada riwayat darah tinggi. Maka ketika semua sudah
duduk mengelilingi meja makan, pak Surip berkata kepada anaknya, “Jo, tolong
bilangin sama pengurus masjid, kalau membangunkan orang pakai etika. Orang yang
mendengarkan bisa mati !!”.
Parjo hanya bisa mengangguk. Meskipun
ia tidak akan bilang kepada pengurus masjid. Sebab selain karena ia jarang sholat
di masjid tersebut, ia tidak masuk menjadi pengurus masjid. Parjo dalam hati
membenarkan ucapan ayahnya. Dulu saat Parjo mempunyai anak kecil, istri nya pun
sering marah-marah karena anak nya yang masih berumur dua bulanan sering
terbangun dan menangis ketika masuk waktu sahur bulan ramadhan.
Pak surip akhirnya merasa tidak
betah di rumah anaknya. Suara petugas masjid di atas benar-benar telah
mengganggu dirinya yang sama-sama sebagai seorang muslim dan sama-sama dalam
menjalankan ibadah. Bagi anaknya mungkin sudah kebal karena sudah tiap tahun
mendengar suara seperti itu. Namun, di kota kecil yang terdiri dari banyak
sekali agama, suku dan masyarakat yang daya tahan tubuhnya berbeda-beda bisa
saja menyinggung dan menyakiti mereka tapi tidak bisa berbuat apa-apa
disebabkan karena mereka tidak punya kekuasaan sebagai pengurus Masjid atau
ketua RT. Mereka juga hanya bagian dari minoritas yang sedang mengadu nasibnya
untuk masa depan anak-anaknya. Mereka harus menahan rasa marah, emosi dan
sejenisnya demi sebuah cita-cita.
Itulah sifat manusia. Sering kelompok
mayoritas pada sisi tertentu melupakan minoritas yang menjadi bagian dari
kelompok dalam struktur sosial kemasyarakatan. Mereka sering lupa dengan
kemayoritasnnya dan berbuat sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa
memertimbangkan minoritas. Seharusnya mereka bisa berfikir terbalik, seandainya
dirinya adalah minoritas dan diperlakukan seperti itu apakah sakit atau
bahagia?. Ini yang sebenarnya kanjeng nabi mengingatkan dalam sebuah hadist
sebagai berikut: “ Apabila kamu berpuasa, hendaklah berpuasa juga
pendengaranmu, penglihatanmu dan lidahmu dari berdusta dan berbuat dosa. Hindarkan
dirimu dari perbuatan menyakiti pelayan;hendaklah kamu berlaku sopan dan
tenang. Janganlah kamu menjadikan hari berbuka sama dengan hari-hari puasamu”.
Petugas sahur di masjid tentu
mempunyai niat yang baik. Namun mereka juga harus semakin bijaksana agar jangan
sampai niat baiknya justru membuat dirinya kehilangan hakikat puasa disebabkan
perilaku nya dicatat sebagai orang-orang yang menyakiti orang lain. Maka bersikap
bijak bagi petugas sahur cara yang terbaik, sebab sikap bijak sebenarnya ia
mampu memahami orang-orang disekitar masjid, lalu berbuat dengan semaksimal
mungkin tidak mengganggu orang-orang di
sekitarnya baik yang sama-sama satu agama maupun yang berbeda agama, baik yang
dalam keadaan sehat maupun yang dalam keadaan sakit.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876