
Suatu hari saya melihat youtube Erick Thohir, Menteri BUMN dan juga saat ini menjadi Ketua PSSI. Ketika di Pesawat Kepresidenan bersama menteri Mahfud MD, dan beberapa anggota Banser, salah satu komentar yang menarik dari Mahfud MD, yaitu: NU yang tradisional unik menuju pada tradisional dinamis. Pertama mendengar, biasa saja. Tapi lama-lama mikir juga bahwa NU saat memasuki abad kedua tetap konsisten pada tradisinya, tetapi tetap membuka diri menerima masukan yang lebih baik. Kaidah fiqhnya, al-muhafadzah alal-qadim al-shalih wal-akhizu bil-jadid al-ashlah. Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik.
Baca juga:
Mimbar Masjid dan Politik Identitas
Apa yang dikatakan oleh Mahfud MD adalah
realita tradisi intelektual NU. Tradisi keilmuan yang diidentikan dengan
tradisi ullumuddin melalui pesantren-pesantren tradisional hingga saat
ini masih tetap bertahan. Pengajian model “utawi sekabehani puji” atau
istilah pesantren disebut dengan ‘makna pegon’ masih bisa ditemukan di
pesantren-pesantren NU sebagai syarat untuk menjaga tradisi keulamaan. Sebab meminjam
dawuh K.H. Maimun Zubair, bahwa tradisi ini yang menjadi tradisi paling tepat
untuk menjaga identitas Ulama. Jika hilang identitas ini, maka hilang juga
identitas Ulama.
Tradisi intelektual NU yang masih bertahan yaitu mengharapkan berkah atau ‘ngalap berkah’ kepada para ulama. Para santri akan ta’dzim kepada para kiai atau ustadznya. Para pengurus Tanfidziyah, GP Ansor, ISNU, Fatayat dan banom-banom nya akan ta’dzim dan mendengar dawuh dari para ulama. Jika dalam organisasi tunduk dan taat terhadap pemimpin induk tertinggi organisasi yaitu Syuriah. Walaupun dalam berbagai persoalan perbedaan prinsip, suara ulama sebagai representasi dari ahlu hal wal ‘aqdi harus ditaati dan diikuti oleh pengurus NU dan para banom-banom nya. tradisi ini masih berlaku dan terus dijaga oleh ulama dan organisasi NU. Ketika ini hilang, hilang ruh NU itu sendiri.
Baca juga:
Mahfud MD Makan Bareng Bersama Said Didu?
Tradisi intelektual NU yang masih bertahan
adalah melaksanakan kegiatan-kegiatan tambahan kreasi ibadah yang secara
subtansi bernilai baik seperti ziarah kubur dengan mendoakan orang yang telah
meninggal dunia, bacaan tahlil, al-barzanji dan lain-lain. Tradisi ini yang menjadi
sasaran empuk oleh kaum Wahabi-Salafi karena dianggap melakukan sesuatu yang
tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Namun akhirnya hujah mereka pun akhirnya
runtuh sendiri oleh perilaku umat Islam Arab Saudi yang telah melakukan
perbuatan yang tidak pernah dilakukan sama sekali oleh Nabi, yaitu sholat
jenazah setiap habis sholat lima waktu. Bahkan ketika mereka mentertawakan tasbih
untuk dzikir, justru saat ini sebagian para pengurus Masjid Haram sudah mulai
membawa tasbih. Lebih unik lagi saat penulis sholat Jum’at di Masjid Nabawi; Khotbah
Jum’at nya sangat panjang, tapi sholat Jum’at nya menggunakan surat-surat
pendek Juz ‘Ama. Jelas tradisi yang tidak sesuai dengan hadist Nabi yang
mengatakan; Jum’at Khotbah nya pendek, sholat Jum'at bacaan suratnya yang
panjang.
Saat ini tradisi tersebut menuju kepada
tradisi dinamis. Kader-kader NU sudah mulai melakukan transformasi intelektual.
Mereka membuka diri terhadap model pendidikan modern melalui sistem kurikulum. Hebatnya
lagi, transformasi pendidikan kurikulum mengalami jumlah yang sangat pesat. Bahkan
bisa jadi jumlah nya melebihi dari Muhamadiyah. Bukan karena apa-apa, mereka
yang berada di Universitas Muhamadiyah terkadang warga NU yang sedang mengembangkan
keilmuan di lembaga Muhamadiyah. Maka jangan heran saat ini kader-kader NU yang
bergelar Magister, Doctor dan Guru Besar terus bertambah setiap bulan dan
tahunnya. Begitu juga para santri NU sudah masuk pada birokrasi dan pengambil
kebijakan dengan menjadi kepala daerah dan kepala Negara, Menteri kepala
daerah, direktur-direktur perusahaan dan lain-lain. Jika dalam pelaksanaanya
ada human error, itu persoalan lain.
Mengapa demikian NU terus berkembang, padahal hampir setiap saat selalu ada yang mencaci maki NU dan para tokoh nya dengan sebutan Liberal, Syiah, Kafir mulai dari masa penjajahan Jepang. Bahkan pada zaman Orde Baru, NU dipotong kepalanya. Namun NU terus berjalan dan berkembang secara dinamis tanpa ada kepala nya di Masa Orde Baru.
Baca juga:
Politik Identitas; Jalan Mudah menuju Bangsa Pecah
Maka penulis artikel ini tidak heran sama
sekali jika pergerakan intelektual NU akan terus berkembang tanpa perlu
menunggu arahan dari pimpinan. Bahkan tidak ada pimpinan pun gerakan
intelektual di berbagai daerah baik di dalam negeri maupun di luar negeri terus
berkembang dengan normal. Sebab tradisi intelektual yang dijalankan oleh kader
NU adalah tradisi warisan dari para ulama. Tradisi jauh melampaui usia
organisasi NU itu sendiri yang telah dijalankan oleh para ulama Nusantara yang
sering disebut Wali Songo. Orang yang bisa memahami ini tentu yang sering kumpul bareng
ikut tradisi NU dalam setiap kegiatan seperti istighosah, al-barzanji, ngaji
kitab kuning, mauludan, rajaban dan ziarah kubur. Jika sudah tidak senang
tradisi ini dan tidak mau mengikuti kegiatan ini, bisa jadi sudah kehilangan
ruh NU walaupun bisa jadi mengaku warga NU atau malah pengurus NU.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2984
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884