Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tradisi Intelektual NU; Dari Tradisional Unik Menuju Tradisional Dinamis



Selasa , 21 Februari 2023



Telah dibaca :  500

Suatu hari saya melihat youtube Erick Thohir, Menteri BUMN dan juga saat ini menjadi Ketua PSSI. Ketika di Pesawat Kepresidenan bersama menteri Mahfud MD, dan beberapa anggota Banser, salah satu komentar yang menarik dari Mahfud MD, yaitu: NU yang tradisional unik menuju pada tradisional dinamis. Pertama mendengar, biasa saja. Tapi lama-lama mikir juga bahwa NU saat memasuki abad kedua tetap konsisten pada tradisinya, tetapi tetap membuka diri menerima masukan yang lebih baik. Kaidah fiqhnya, al-muhafadzah alal-qadim al-shalih wal-akhizu bil-jadid al-ashlah. Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik.

Baca juga:

Mimbar Masjid dan Politik Identitas

Apa yang dikatakan oleh Mahfud MD adalah realita tradisi intelektual NU. Tradisi keilmuan yang diidentikan dengan tradisi ullumuddin melalui pesantren-pesantren tradisional hingga saat ini masih tetap bertahan. Pengajian model “utawi sekabehani puji” atau istilah pesantren disebut dengan ‘makna pegon’ masih bisa ditemukan di pesantren-pesantren NU sebagai syarat untuk menjaga tradisi keulamaan. Sebab meminjam dawuh K.H. Maimun Zubair, bahwa tradisi ini yang menjadi tradisi paling tepat untuk menjaga identitas Ulama. Jika hilang identitas ini, maka hilang juga identitas Ulama.

Tradisi intelektual NU yang masih bertahan yaitu mengharapkan berkah atau ‘ngalap berkah’ kepada para ulama. Para santri akan ta’dzim kepada para kiai atau ustadznya. Para pengurus Tanfidziyah, GP Ansor, ISNU, Fatayat dan banom-banom nya akan ta’dzim dan mendengar dawuh dari para ulama. Jika dalam organisasi tunduk dan taat terhadap pemimpin induk tertinggi organisasi yaitu Syuriah. Walaupun dalam berbagai persoalan perbedaan prinsip, suara ulama sebagai representasi dari ahlu hal wal ‘aqdi harus ditaati dan diikuti oleh pengurus NU dan para banom-banom nya. tradisi ini masih berlaku dan terus dijaga oleh ulama dan organisasi NU. Ketika ini hilang, hilang ruh NU itu sendiri.

Baca juga:

Mahfud MD Makan Bareng Bersama Said Didu?

Tradisi intelektual NU yang masih bertahan adalah melaksanakan kegiatan-kegiatan tambahan kreasi ibadah yang secara subtansi bernilai baik seperti ziarah kubur dengan mendoakan orang yang telah meninggal dunia, bacaan tahlil, al-barzanji dan lain-lain. Tradisi ini yang menjadi sasaran empuk oleh kaum Wahabi-Salafi karena dianggap melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Namun akhirnya hujah mereka pun akhirnya runtuh sendiri oleh perilaku umat Islam Arab Saudi yang telah melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan sama sekali oleh Nabi, yaitu sholat jenazah setiap habis sholat lima waktu. Bahkan ketika mereka mentertawakan tasbih untuk dzikir, justru saat ini sebagian para pengurus Masjid Haram sudah mulai membawa tasbih. Lebih unik lagi saat penulis sholat Jum’at di Masjid Nabawi; Khotbah Jum’at nya sangat panjang, tapi sholat Jum’at nya menggunakan surat-surat pendek Juz ‘Ama. Jelas tradisi yang tidak sesuai dengan hadist Nabi yang mengatakan; Jum’at Khotbah nya pendek, sholat Jum'at bacaan suratnya yang panjang.

Saat ini tradisi tersebut menuju kepada tradisi dinamis. Kader-kader NU sudah mulai melakukan transformasi intelektual. Mereka membuka diri terhadap model pendidikan modern melalui sistem kurikulum. Hebatnya lagi, transformasi pendidikan kurikulum mengalami jumlah yang sangat pesat. Bahkan bisa jadi jumlah nya melebihi dari Muhamadiyah. Bukan karena apa-apa, mereka yang berada di Universitas Muhamadiyah terkadang warga NU yang sedang mengembangkan keilmuan di lembaga Muhamadiyah. Maka jangan heran saat ini kader-kader NU yang bergelar Magister, Doctor dan Guru Besar terus bertambah setiap bulan dan tahunnya. Begitu juga para santri NU sudah masuk pada birokrasi dan pengambil kebijakan dengan menjadi kepala daerah dan kepala Negara, Menteri kepala daerah, direktur-direktur perusahaan dan lain-lain. Jika dalam pelaksanaanya ada human error, itu persoalan lain.

Mengapa demikian NU terus berkembang, padahal hampir setiap saat selalu ada yang mencaci maki NU dan para tokoh nya dengan sebutan Liberal, Syiah, Kafir mulai dari masa penjajahan Jepang. Bahkan pada zaman Orde Baru, NU dipotong kepalanya. Namun NU terus berjalan dan berkembang secara dinamis tanpa ada kepala nya di Masa Orde Baru.

Baca juga:

Politik Identitas; Jalan Mudah menuju Bangsa Pecah

Maka penulis artikel ini tidak heran sama sekali jika pergerakan intelektual NU akan terus berkembang tanpa perlu menunggu arahan dari pimpinan. Bahkan tidak ada pimpinan pun gerakan intelektual di berbagai daerah baik di dalam negeri maupun di luar negeri terus berkembang dengan normal. Sebab tradisi intelektual yang dijalankan oleh kader NU adalah tradisi warisan dari para ulama. Tradisi jauh melampaui usia organisasi NU itu sendiri yang telah dijalankan oleh para ulama Nusantara yang sering disebut Wali Songo. Orang yang bisa memahami ini tentu yang sering kumpul bareng ikut tradisi NU dalam setiap kegiatan seperti istighosah, al-barzanji, ngaji kitab kuning, mauludan, rajaban dan ziarah kubur. Jika sudah tidak senang tradisi ini dan tidak mau mengikuti kegiatan ini, bisa jadi sudah kehilangan ruh NU walaupun bisa jadi mengaku warga NU atau malah pengurus NU.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884